karena pengen nulis…

August 3, 2007

Minggu Siang Banget!

Filed under: Sisi Lain, CurHat

Menjelang akhir pekan, tiba-tiba saja bayangan tentang akhir pekan memenuhi benak saya. Tepatnya tentang hari Minggu siang, dimana saya dan teman-teman yang sedang asyik bermain segera berlari, berebut tempat paling strategis di depan televisi. Mengikuti setiap detil tayangan dengan seksama, ikut larut dalam cerita, sambil sesekali membayangkan betapa bahagianya bisa berlarian, berguling-guling di padang rumput yang begitu luas. Betapa senangnya bisa menjumpai begitu banyak sungai, bukit-bukit kecil dan pohon-pohon rendah bercabang banyak, yang begitu menantang untuk dijelajahi dengan semangat 45. emoticon

Seorang rekan juga membayangkan hal yang sama, begitu melihat klip kilas balik tersebut. Dan ternyata, kami sama-sama merasakan nuansa yang sama, meski sudah berjarak lebih dari dua puluh tahun dengan hari-hari tersebut (fffuiiih!! sudah tua juga ya?). Segera setelah sajian akhir pekan ini berakhir, kami merasa bahwa kegembiraan akan habis, untuk sementara. Harus istirahat, tidur siang sebentar, untuk kemudian membuat PR saat petang nanti, dan besok bangun pagi-pagi karena harus bersekolah kembali. Huuuuuu…

January 30, 2007

Telaga Biru

Filed under: Sisi Lain

 

Jalan-jalan akhir minggu hanya berbekal kamera HP. Aiiih… tak sedap rupanya. Banyak detil cantik tak terekam. Beruntung, teman-teman seperjalanan menyenangkan. Tiga bulan lagi, kita jelajahi tempat lain ya… :)

October 14, 2006

silaturahmi.com

Filed under: Sisi Lain

Ramadhan banyak dimanfaatkan untuk beragam keperluan dan keinginan, yang terkadang tidak sempat dilakukan di 11 bulan lainnya. Ibadah, tentu saja. Selain itu, banyak pula yang menjadikannya sebagai waktu yang tepat untuk bersilaturahmi. Saya sendiri sudah dua kali berturut-turut setiap hari Jumat kemarin, mengikuti ritual bubar (=buka bareng). Pertama dengan teman-teman kuliah, kedua dengan teman-teman SMA. Senaaaaang sekali, bisa punya kesempatan untuk bertemu dengan banyak teman lama.

Ada yang berbeda dari semacam reuni teman lama, beberapa tahun belakangan ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Iya, sarana bersilaturahmi semakin banyak sebenarnya. Jarak dan waktu dipersempit, dengan kemajuan teknologi informasi. Banyak cara untuk mengakses si Anu, secara langsung. Tidak harus lewat Ibu atau keponakannya, yang lebih dulu mengangkat telpon rumah, misalnya. Atau semata mengandalkan kepiawaian Pak Pos mencari alamat saat berkorespondensi dengan sahabat pena (halah!). Saat berkumpul dengan teman SMA kemarin, kami semua mengisi update data pribadi. Saya baru menyadari, tidak ada lagi kolom ‘alamat rumah’ ternyata… Hampir semua identitas pribadi mengawang-awang, di dunia maya. Hhm… bagaimana dengan 10 tahun ke depan, ya? emoticon

weh_weh_weh 

Reuni 1990-an: Nama/Alamat Rumah/Telp.Rumah/Telp.Kantor

  • Fulanah
  • Jl.Meong No.42, RT 002/RW005 (belakang pasar Inpres), Kel.Sawah
  • 021-456xxxx
  • 021-871xxxx

Reuni 2000-an: Nama/No.HP/E-mail/Y!M/Friendster/Blog/Website

  • Fulanah
  • 081x-x1234x
  • fulanah@ngibul.com
  • si_anah
  • www.friendster.com/si_anah
  • si_anah.blog_anu.com
  • www.asik-asik-aja.com

September 2, 2006

Manusia Bisa Apa?

Tidak bisa tidak, saya masih teringat Inong. Menjenguk teman lama dalam keadaan seperti itu sungguh benar-benar tidak enak. Bagian dari kehidupan, memang. Betapa manusia tidak berdaya, layaknya seperti bandul pendulum yang berayun pada seutas tali bernama nasib. Dan nasib pun sepenuhnya dikendalikan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Benar-benar SEPENUHNYA, hak prerogatif yang tidak bisa ditawar.

kita bukan apa-apa 

Kemarin, jenazahnya baru tiba di rumah menjelang Maghrib. Begitu banyak kerabat dan sahabat yang datang, bersimpati, ikut berduka dan mendoakan kepulangan Inong. Saya hanya mengamati semua dari luar pintu. Selain karena sesak dengan banyaknya orang yang ingin melihat Inong untuk terakhir kali, bagi saya sudah cukup teriris-iris rasanya melihat pandangan polos Syifa yang kebingungan di gendongan Ayahnya. Zidan pun tertegun menatap Bundanya dari pinggir peti. (Semoga Allah menguatkan mereka…)

Di tengah suasana duka saya teringat, seorang teman baru saja bercerita. Beberapa waktu yang lalu (sebagai moderator) Inong memintanya untuk mengabarkan kondisi saya yang kritis, di milis SD kami. Inong ingin dibuatkan draft terlebih dulu agar tidak ada kekeliruan penafsiran. Memberitakan kondisi yang menurut dokter ‘butuh keajaiban untuk bisa bangun’, memang bukan hal mudah. Ternyata, itu yang terasa kemarin. Lebih-lebih untuk kabar selanjutnya, dimana takdir terasa seperti tamparan keras.

Inong, saya harus memberitahukan teman-teman bahwa milis SD kita sudah ditinggalkan oleh Ibu RT-nya… Selama-lamanya.” :(

August 31, 2006

si Inong tea

Pagi tadi dibuka dengan breaking news yang tak sedap dari Mbak Hany: Inong masuk rumah sakit dan sampai sekarang masih koma. Hhm.. benar-benar tidak asik. Saya memang tidak dekat dengan Inong, tapi dia bukan orang baru buat saya. Dari orbit kami masing-masing, kami saling tahu dan masih saling kenal. Tidak jauh. Apalagi, Inong punya dapur yang tenar itu. :P

Keluarga Inong adalah salah satu keluarga yang dikunjungi dan diakrabi keluarga saya, saat pertama kali datang dan kemudian mukim di Balikpapan. Bagaimanapun, nasib kami hampir sama: Ayah mengaku orang Aceh dan Ibu konon kabarnya wanita Sunda. Kami beberapa kali bermain bersama. ‘Kak Des’, begitu Inong dulu memanggil saya meski usia kami hanya berjarak 4 bulan. Selanjutnya kami memang lebih ’sibuk’ dengan teman masing-masing, di kelas yang berbeda. Seingat saya, ia dekat dengan Izha dan Mona. Rasanya masih sampai saat ini. Belakangan saya tahu, Izha ternyata sudah berteman dengan suami saya, sebelum kami saling kenal. Akan halnya Mona, dia masih terhitung berstatus tetangga dengan saya. Ketika Inong menikah, cukup surprised juga mengetahui calon suaminya adalah Haris, yang secara selintas pernah dikenalkan oleh sahabat saya. Terakhir, ternyata Inong cukup dekat dengan Mbakyu saya, sebagai sesama penduduk negeri pulau. Tidak jauh-jauh. Lingkaran pertemanan semakin bertambah, sekaligus juga melibatkan orang-orang yang sama dan saling kenal.

Saat ini, ketika Inong masih terbaring koma, mudah-mudahan doa dan dukungan teman bisa ikut menjadi pembuka pintu rahmatNya. Saya tahu, teman Inong buannyaaak sekali. Dokter boleh pesimis (update terakhir dari Haris), tapi Allah lebih tahu yang terbaik. Saya hanya bisa ikut berdoa. Bangun ya, Nong… Anna Siti Herdiyanti yang saya kenal pasti tidak menyerah begitu saja. :)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker