Satu Pohon Lagi
Satu pohon lagi ditebang, di sebelah rumah saya. Punya tetangga, sih… (emang kenapa juga kalo ybs pengen rumahnya lebih klimis? suka-suka, dong ah..). Tapi, tidak bisa tidak. Selalu saya berduka cita mendalam, setiap ada pohon yang dihabisi. Faktanya, memang semakin hari terasa Jakarta semakin terik, jauh dari kesejukan. Mengganggu sedikit, pohon yang dikorbankan. Padahal pohon kan butuh waktu lama untuk tumbuh besar. Selama dia hidup, begitu banyak manfaatnya buat orang-orang di sekitar. Yah, tentu saja ada beberapa efek samping yang mungkin kurang menyenangkan buat sejumlah orang. Katanya, nih… daun-daunnya selalu berantakan, bikin kotor, menghalangi pandangan, tidak estetis, alasan ini dan itu yang lain pun berlanjut. Sudahlah, kalau memang tidak suka, memang akan lebih banyak terlihat yang negatif. Mau bagaimana lagi?
Mei 2004, sebidang tanah segitiga di depan rumah saya masih dihuni oleh beringin. Pohonnya besar dan sangat rindang. Salah satu yang membuat saya senang dan jatuh cinta dengan rumah ini adalah pohon tersebut. Pagi hari, ramai sekali burung gereja bermain di atasnya. Di siang hari yang panas, angin tetap semilir berhembus ke dalam ruang-ruang di rumah, bahkan hingga lantai atas. Teduh rasanya melihat ada ‘pohon kehidupan’ di depan rumah. Saat letih, beberapa pedagang keliling kerap beristirahat di bawahnya, hingga pulas. Nyaman sekali, terdengar dengkurannya dari dalam rumah saya. Mungkin untuk sesaat, mereka bisa lupa akan dagangannya yang belum juga laku atau rengekan anaknya yang meminta tunggakan uang sekolah dilunasi segera.
Sekitar April 2005, beringin itu sedikit meranggas. Daun-daunnya banyak berguguran. Sedikit khawatir melihatnya, tapi saya pikir itu proses biasa dan tidak lama lagi pasti akan kembali lebat. Ternyata saya salah. Ini menyedihkan. Beringin ditebang habis, atas inisiatif salah satu penghuni kompleks. Terlalu banyak daun jatuh, lelah menyapunya. Begitu saja alasannya. Nggak asik, ya? Akhirnya pohon itu meninggal dunia, untuk selama-lamanya. Berhari-hari saya kesal. Menangis juga sih, dengan culunnya. Menurut saya kepergian si pohon dengan cara yang tidak layak sangat menyedihkan. Kenapa sih, usia yang begitu panjang tidak dihargai? Sebagai kehidupan, sebagai karuniaNya? Dia ada di taman kecil itu kan untuk membagikan udara sejuk dan hembusan angin kepada sekitarnya. Saya tidak habis pikir. Sungguh.
Akhirnya semua terang, benderang dan gersang. Kerapian yang kering. Bersih, tapi tidak menyejukkan. Di taman kecil itu hanya tersisa sederet tanaman teh-tehan. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu, beberapa minggu yang lalu deretan tumbuhan itu pun dihabisi. Dua orang lelaki membakar tumpukan ranting dan mengecat pembatas di tepi taman. Habislah sudah. Tanpa kompromi, tindakan itu diambil begitu saja. Setengah marah, saya menggerutu, "Mau apa lagi, sih orang-orang itu?"
Suti yang kebetulan di dekat saya pun merespon, "Nggak tau, tuh…" Ia melanjutkan, "Katanya, kalo nggak dibikin TK, mau dibikin Taman Kanak-Kanak, sih…"
"Lho?" itu respon standar saya, saat bingung mendengarkan penjelasan Suti. Aneh rasanya kalau di tempat semini itu didirikan bangunan.
"Iya, itu lho Mbak… yang ada ayunan sama perosotannya, tempat maen bocah. Itu TK atau Taman Kanak-Kanak, sih namanya?" mata Suti pun mengerjap menunggu jawaban saya.
Si Ibu rupanya lalu bergegas, masuk ke dalam rumahnya. Kemudian menelpon ke rumah orangtua saya meminta kepastian, “Itu bener ya Deasy yang jalan, pake kaos hijau, sama suaminya? Bener gitu? Wah, tadi takut salah liat…”

