karena pengen nulis…

August 3, 2007

Minggu Siang Banget!

Filed under: Sisi Lain, CurHat

Menjelang akhir pekan, tiba-tiba saja bayangan tentang akhir pekan memenuhi benak saya. Tepatnya tentang hari Minggu siang, dimana saya dan teman-teman yang sedang asyik bermain segera berlari, berebut tempat paling strategis di depan televisi. Mengikuti setiap detil tayangan dengan seksama, ikut larut dalam cerita, sambil sesekali membayangkan betapa bahagianya bisa berlarian, berguling-guling di padang rumput yang begitu luas. Betapa senangnya bisa menjumpai begitu banyak sungai, bukit-bukit kecil dan pohon-pohon rendah bercabang banyak, yang begitu menantang untuk dijelajahi dengan semangat 45. emoticon

Seorang rekan juga membayangkan hal yang sama, begitu melihat klip kilas balik tersebut. Dan ternyata, kami sama-sama merasakan nuansa yang sama, meski sudah berjarak lebih dari dua puluh tahun dengan hari-hari tersebut (fffuiiih!! sudah tua juga ya?). Segera setelah sajian akhir pekan ini berakhir, kami merasa bahwa kegembiraan akan habis, untuk sementara. Harus istirahat, tidur siang sebentar, untuk kemudian membuat PR saat petang nanti, dan besok bangun pagi-pagi karena harus bersekolah kembali. Huuuuuu…

July 11, 2007

11 Juli dalam Ingatan

Sebelum mengalami sendiri, sungguh saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya bila tiba-tiba segala sesuatu berhenti, hilang, atau kembali ke titik nol. Bahkan di saat kita sedang merasa sangat bahagia, tidak menduga sama sekali. Ya, tentu saja saya percaya akan hal itu. Akan kekuasaan Sang Pemilik Hidup. Tapi sungguh, saat sedang sehat-sehatnya menjalani kehamilan anak pertama di awal Juni 2006 lalu, tidak pernah selintas pun terbersit di benak saya bahwa akan ada hari-hari yang begitu hitam. Pekat. Bukan sekedar kelabu.

Hari itu sudah berjarak tepat satu tahun. 11 Juli 2006, hari Selasa, adalah hari kemerdekaan yang terasa luar biasa buat saya. Akhirnya, dokter mengizinkan saya untuk pulang dari rumah sakit, setelah semua kejadian dan mimpi buruk berlalu.

Masih jelas dalam ingatan, bagaimana berhari-hari sebelumnya saya selalu berharap dan berdoa, akan segera diizinkan pulang. Setiap larut malam adalah keinginan untuk segera datang esok hari, dimana hari baru akan dimulai dan peluang untuk pulang semakin besar. Empuknya kasur di rumah yang beralaskan seprei bersih dan wangi selalu membayangi benak. Saya benar-benar ingin kehidupan normal seperti dulu. Di rumah dengan suami, berbagi cerita dan menjalani hari-hari bersama. Tanpa infus, suntikan, kunjungan rutin dokter, resep ini itu, lalu lalang para perawat dan tatapan iba para pembesuk.

1 Juli 2006, 19:56 WIB 

Sekitar 3-4 hari sebelum pulang, saya mulai belajar untuk berdiri. Sedikit demi sedikit. Sebelumnya saya tidak bisa bangkit tanpa bantuan. Mengangkat tubuh sendiri adalah persoalan serius, karena duduk untuk satu menit saja saya langsung merasa pusing, seperti akan pingsan. Mampu berdiri di atas kaki sendiri seperti mimpi indah, too good to be true. Langkah pertama yang menjejak waktu itu mungkin hampir sama berartinya seperti pijakan perdana Neil Amstrong di bulan. Bombastis, kan?

Saat kepastian pulang didapat, mandi di pagi hari waktu itu saya lakoni dengan warna semangat seperti menyambut Lebaran atau lulus sidang skripsi. Yeeeah… pulang!!! Saya tidak peduli bahwa warna kerudung dan kemeja yang dikenakan sama sekali jauh dari matching. Hanya satu fokus di kepala: PULANG. Detik berikutnya, menunggu kursi roda datang terasa begitu lama.

Menit demi menit perjalanan keluar dari kamar, lift, menuju lobby di lantai bawah dan menunggu mobil datang, saya resapi dengan seksama. Semua memang masih terasa mengambang. Banyak orang lalu lalang, namun tidak terasa nyata ada di sekitar saya. Ketika akhirnya saya masuk dan duduk di dalam mobil, saya merasa tubuh saya sangat kecil. Mobil begitu terasa besar dan saat melaju saya bagai terombang-ambing di dalam kapal yang besar. Aneh sekali. Begitu pula saat tiba di rumah, saya merasa sangat mungil dan ringkih. Lamat-lamat saya pandangi tiap sudut ruang di rumah, seperti berada di dalamnya untuk pertama kali. Sensasi yang sama sekali belum pernah saya alami.

Pengalaman saya jelas tidak sekompleks Sarah Scantlin yang baru bisa bangun dari koma setelah 20 tahun. Tertabrak pengemudi mabuk di usia 18 tahun dan terbangun di dekade yang berbeda (sampai ia begitu yakin bahwa John Travolta jauh lebih tampan dibandingkan Tom Cruise). Terlebih bila dibandingkan dengan nasib tragis Elaine Esposito yang tidak pernah terbangun lagi sejak usia 6 tahun, setelah menjalani pembiusan pada operasi usus buntu. Elaine akhirnya meninggal 37 tahun kemudian, di usianya yang ke 43. Alhamdulillah, nasib saya masih jauh lebih baik. Atas izinNya, suami, keluarga dan sahabat-sahabat saya tidak harus menunggu selama dan seputus asa itu. Namun tetap sangat mendalam dan begitu berharga pelajaran yang saya peroleh. Hingga ke detik ini, dimana saya bisa sehat, sibuk bekerja kembali dan… nge-blog tentunya! :)

April 24, 2007

?

Filed under: CurHat

aku hanyut

pusaran yang sama menyerap energiku

begitu bertenaga

menghempas

hingga kumerasa hilang

tersisa ampas ragaku

kerontang 

 

 

 

jangan tunggu jawaban akurat

karena aku tak menalar

jangan harap kalimat-kalimat indah

karena aku tak lagi merasa

 

ya, itu senyumku

masih kau lihat, bukan? 

cermatilah

lebih, lebih seksama

menyerupai senyumku, memang!

 

aku tak di situ 

semilir angin telah mengajakku

menemui semerbak musim bunga

yang hangatnya merangkulku erat 

membiarkan aku mencipta tarian gemulai penuh rasa

untuk para peri bergaun kemilau pelangi

yang menumbuhkan keberartianku 

 

di sana aku benar tersenyum… 

March 22, 2007

Saat Terakhir

Setelah hari-hari itu, kematian selalu terasa dekat bagi saya. Tidak asing, tidak menakutkan, tapi selalu menyentak. Sangat mungkin karena saya pribadi merasa belum cukup bekal untuk menghadapNya. Masih minim amal ibadah.

Kemarin, seorang tetangga berpulang ke Rahmatullah. Kebetulan saya dan almarhum menghuni ruang ICU di rumah sakit yang sama. Yang paling mengusik saya adalah cerita bahwa dalam kondisi yang kritis, keluarga tetap tidak diizinkan untuk masuk kecuali pada jam besuk. Semua akses masuk tertutup rapat. Hingga akhirnya keluarga baru mengetahui pasien sudah tiada, setelah beberapa waktu berlalu. Demikian ketatnya peraturan di ICU, di satu sisi saya yakin hal tersebut diterapkan atas dasar kepentingan pasien juga. Dalam kondisi yang kritis dan rentan terhadap infeksi, memang sebaiknya tidak sembarang orang diizinkan masuk. Namun saya juga sangat bisa memahami kekecewaan keluarga, yang tidak diizinkan untuk mendampingi saat-saat terakhir pasien. Bagaimanapun, mengantar orang tercinta menghadap Sang Pencipta adalah keinginan (dan hak, bolehkah saya menyebut demikian?) yang sangat pribadi dan mendasar. Ketika hal tersebut tidak dimungkinkan, sungguh tidak ada apapun di muka bumi yang bisa menggantikannya. Karena tidak pernah ada kesempatan kedua untuk hal tersebut. Tidak ada bilangan rupiah, dollar, atau uang emas sekalipun yang bisa menominalkan keberartian momen tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan keyakinan yang dianut masing-masing pribadi. Kebetulan saya (dan almarhum) adalah muslim, kami memandang begitu pentingnya menjelang maut dengan mengingat kuasaNya. Hanya mengingat Allah.

pintu itu 

Selesai berbelasungkawa kemarin, Ibu kembali mengingat saat-saat beliau menghadapi situasi yang serupa. Melihat kondisi yang kian kritis, salah seorang perawat membisikkan pada Ibu bahwa batas usia saya sudah sangat dekat. Hanya hitungan jam, mengingat fungsi hampir seluruh organ vital semakin menurun. Tersentak oleh kenyataan tersebut, Ibu pun meminta untuk diperbolehkan mendampingi saat-saat (yang diduga sebagai) akhir hidup saya, tidak hanya pada jam besuk. Seperti bisa ditebak, jawabannya adalah: TIDAK BOLEH. Ibu pun histeris dan menjerit, memohon dengan sangat. Semua dokter terdiam. Taat prosedur. Atau mungkin menutup pintu hati mereka. Atau mungkin juga menggembok, kemudian membuang kuncinya jauh-jauh. Hilang, bilang saja begitu biar mudah. Saya terpaksa berprasangka buruk dalam hal ini.

Di tengah kegalauan, dokter spesialis bedah yang mengoperasi saya mencoba menenangkan dan memberi izin khusus kepada Ibu. Beliau juga memberikan nomor ponsel pribadinya (terima kasih dr. Cosmas! :) ). Seperti cahaya di tengah pekatnya kegelapan, itu yang Ibu rasakan ketika akhirnya bisa menemani, membacakan ayat-ayat suci dan nama Allah di telinga saya yang tengah koma. Setidaknya beliau bisa lega di tengah kegamangan. Ada ruang yang memungkinkannya merasa pasrah dan ikhlas, menyandarkan penuh segalanya pada Ilahi. Apakah keinginan seperti itu masih dianggap berlebihan? Saya kok tetap merasa hati nurani tetap perlu hidup di tengah ketegasan menegakkan aturan dan prosedur. Sedikit, saja.

February 11, 2007

Cibang-Cibung

Pagi hari tadi, akhirnya yang ditunggu-tunggu selama seminggu lebih datang juga menyambangi kami. Olala.. laiknya seperti tamu agung saja. Itulah, kalau tidak ada baru terasa keberartiannya. Apa itu? Air bersih! Horeeeee…… emoticon

 

Sebagai penduduk Jakarta, saya merasa sangat beruntung. Di tengah bencana banjir yang melumpuhkan banyak bagian kota besar ini (dan bahkan merenggut kehidupan banyak orang), rumah yang saya (dan suami baik hati) diami sama sekali tidak tersentuh oleh genangan banjir. Listrik masih terus menyala sepanjang waktu, demikian juga saluran telpon dan internet.

Satu-satunya kemalangan (kalaupun bisa dikatakan begitu), adalah terhentinya jaringan air PAM. Pada akhirnya, saya juga tidak merasa hal tersebut sebagai ketidakberuntungan. Bagaimana tidak, saya toh masih bisa mengungsi sebentar untuk mandi di rumah orangtua, yang kebetulan hanya berjarak sekitar 200m. Dan kemudian menikmati air bersih, masih sepuas-puasnya. Maklum, air tanah di rumah kami tidak layak pakai. Seperti mandi di sawah, saya mengutip komentar Suti.

Mengetahui pagi tadi air bersih sudah kembali mengalir, aah…. nikmat sekali rasanya mandi. Seperti mandi sungguhan yang pertama kali yang saya nikmati, setelah bisa kembali berdiri tegak (walaupun kaki masih gemetar) dan mengangkat gayung dengan tangan sendiri. Bukan di atas tempat tidur, hanya dengan sekaan washlap para perawat ICU… (nggak lagi-lagi, ah!)

Alhamdulillah,… untuk air dan mandi hari ini. :) Semoga semakin banyak lagi penduduk Jakarta yang bisa ’seberuntung’ kami. Tidak banjir dan tersedia air bersih. Itu saja dulu.

January 25, 2007

Bukan Puasa Ngeblog

Kenapa, Des?

Iya, hampir 3 bulan saya absen menulis. Agak bohong juga kalau dikatakan tidak ada alasan khusus. Tidak sengaja malas menulis, eh.. keterusan. Ini baru mengupayakan untuk tidak keterusan malas.

Versi jujurnya, adalah awal November 2006 kemarin. Mau tidak mau saya kerap mengingat hari-hari dimana dokter memperkirakan putri pertama kami akan lahir. Sesuatu yang tidak pernah terjadi, ternyata. Ada rasa pahit. Perih. Seorang teman pernah berbagi pengalaman yang hampir serupa. Membaca ceritanya, saya merasa tidak sendiri.

Aleia Priyanka Istanto. Itu nama yang saya siapkan untuknya. Namun nama cantik itu baru ada dalam kepala saya. Ketika ia harus meninggal dalam usianya yang baru sekitar 5 bulan dalam kandungan, nama itu tidak bisa diberikan. Saya koma sepuluh hari.

Sudah hampir 7 bulan sejak peristiwa itu terjadi. Saya masih harus lebih banyak belajar. Bagaimana untuk tidak mengeluh, tidak menengok ke belakang, menjalani dan mensyukuri saja apa yang ada. Sampai detik ini proses belajar masih berlanjut. Doakan, ya…

so open up your morning light, and say a little prayer for I.. 

 

October 26, 2006

Satu Pohon Lagi 2

Filed under: CurHat

Ini Smurf bandel. Tidak boleh ditiru, ya… emoticon

www.smurf.com
 

October 17, 2006

Penutup Hari

Filed under: Bocah, CurHat

Ini tulisan yang gagal di-upload kemarin malam, karena koneksi internet yang sangat dodol:

Semalam, hari saya ditutup dengan kiriman gambar dari Hanan. Waaaaa… senangnya! :D Walaupun agak sedih juga, tidak jadi bersua lebaran nanti. Dia sedang sakit. Huhuhu… :( Cepat sembuh, ya Mbak Hanan.. semoga Adek Haifa tidak perlu ikut ketularan. Eh.. barusan Tante Ades ketemu anak ini di jalan. 

kena cacar air...  

Ah, jadi inget Hanan lagi. Dan Haifa juga, tentunya… Bocah-bocah pencuri hati. Kalian baik-baik, ya.. emoticon

September 29, 2006

Menuju Jl.Lada

Terus terang, kemarin saya sempat was-was saat menerima penugasan di salah satu kantor klien. Bukan apa-apa, wuiiih… jauhnya itu lho dari rumah. Ini pengalaman pertama saya bepergian sejauh itu di dalam kota, setelah terkapar kemarin. Dengan kapasitas batere yang agak menurun, saya harus tahu diri. Ukur-ukur kekuatan. Tapi menolak kesempatan buat ‘menjelajah’ lagi, no way. Penasaran juga soalnya. Rasanya kalau tidak dicoba, tidak akan pernah tahu daya tahan saya yang sebenarnya. Kekhawatiran pun bersliweran sejak satu-dua hari sebelumnya. Apa iya, saya bisa sampai ke sana tepat waktu, tanpa macet, lelah dan sebagainya? Kalau seputaran Kuningan-Semanggi-Gatsu sih, no problemo. Ongkos taksi masih bersahabat. Mau diantar suami pun, menuju kawasan sana pasti macet luar biasa tak terkira, terlalu banyak energi yang terbuang. Lama di jalan, kasihan nanti kalau suami saya terlambat sampai kembali di kantornya.

Malam sebelumnya, suami baik hati melontarkan ide cemerlang: naik busway aja, yuk! Maksudnya TransJakarta. Akhirnya, kejadian deh. Hari ini saya naik kendaraan umum non-taksi untuk pertama kali, setelah sembuh. Sebelum sakit, jangan ditanya. Saya sudah kenyang naik angkot, mikrolet, metromini, bajaj, ojek, bus, bemo, sampai KRL. Tidak duduk, bukan masalah. Sepenuhnya percaya diri dengan kekuatan pijakan kuda-kuda saya, yang sudah teruji dalam perjalanan sekian tahun, melintasi rel Depok-Jakarta. Yakin, tidak kalah dengan para pengasong deh:P

Pagi tadi, setelah memarkir mobil di salah satu gedung jangkung, saya ditemani suami menuju kawasan Kota. Jujur nih, ada sensasi tersendiri. Seperti menjalani semuanya untuk pertama kali. Saya menghayati setiap langkah, mendalam. Ah, senangnya… alhamdulillah bisa berjalan lagi. Beraktivitas lagi, seperti kebanyakan orang. Seperti sebelumnya! :D Suara gedumbrengan dari lantai di jembatan menuju halte busway mengiringi langkah saya. Iya, lantainya ramai seperti kaleng. Kalau hujan, akan licin dan agak membahayakan sepertinya. Untung saya bukan penggemar stiletto. Hiks!

busway, gitu loh 

Melaju di jalur khusus, ada perasaan senang dan menang melewati kemacetan Jakarta yang semrawut. Asik, gue duluan doong.. :P Sedikit norak, saya terkagum dengan interchange Harmoni yang ternyata sudah rampung. Suami pun berperan sebagai guide. Ooh… baru tahu saya. Sekarang rupanya sudah bisa menjelajah dari Pulo Gadung-Harmoni, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pilihan Kali Deres atau Blok M. 3500 perak, coy!

Sampai di lokasi, ternyata bukan cuma saya yang kampungan. Hampir semua teman pun bercerita tentang nikmatnya ber-busway-ria. Murah, (cukup) bersih dan nyaman. Untuk ukuran Jakarta tentunya. Memang untuk saat ini kenyamanannya belum menyeluruh. Begitu keluar TransJakarta, kembali debu dan terik menghadang.  Kemacetan ditimpali dengan ramainya klakson. Pedagang asongan masih semrawut di sana-sini. Sangat Jakarta. Menyadarkan kembali bahwa masih berada di kota ini, saya sangat sulit menemukan tempat penyeberangan yang shahih. Akhirnya kami pun menyeberang dimana ada celah. Oh, ya.. lengkap dengan seliweran motor yang terkesan tidak rela untuk memberi kesempatan pada pejalan kaki. emoticon Suami masih menggandeng tangan saya, ketika saya berulang kali bertanya, “Ini beneran nggak ada tempat nyebrang ya? Kita boleh nggak sih nyebrang di sini?” Saya akhirnya tahu itu pertanyaan sia-sia, karena ternyata bersama kami ada sejuta umat ikut berjuang menerobos lalu lintas yang padat. Kekacauan kolektif, yang tidak (atau belum) dipandang sebagai anomali di Jakarta.

Syukurlah, saya bisa survive sehari tadi. Walaupun setelah turun TransJakarta, terpaksa saya harus kembali mengandalkan taksi untuk bisa sampai dengan ‘utuh’ di rumah. Ongkosnya? Yaa.. hampir 15 kali lipat dari ber-busway-ria, lah. Wwffuiih!!

September 26, 2006

Satu Pohon Lagi

Filed under: Pondok Kelapa, Suti, CurHat

Satu pohon lagi ditebang, di sebelah rumah saya. Punya tetangga, sih… (emang kenapa juga kalo ybs pengen rumahnya lebih klimis? suka-suka, dong ah..). Tapi, tidak bisa tidak. Selalu saya berduka cita mendalam, setiap ada pohon yang dihabisi. Faktanya, memang semakin hari terasa Jakarta semakin terik, jauh dari kesejukan. Mengganggu sedikit, pohon yang dikorbankan. Padahal pohon kan butuh waktu lama untuk tumbuh besar. Selama dia hidup, begitu banyak manfaatnya buat orang-orang di sekitar. Yah, tentu saja ada beberapa efek samping yang mungkin kurang menyenangkan buat sejumlah orang. Katanya, nih… daun-daunnya selalu berantakan, bikin kotor, menghalangi pandangan, tidak estetis, alasan ini dan itu yang lain pun berlanjut. Sudahlah, kalau memang tidak suka, memang akan lebih banyak terlihat yang negatif. Mau bagaimana lagi?

jangan ditebang lagi 

Mei 2004, sebidang tanah segitiga di depan rumah saya masih dihuni oleh beringin. Pohonnya besar dan sangat rindang. Salah satu yang membuat saya senang dan jatuh cinta dengan rumah ini adalah pohon tersebut. Pagi hari, ramai sekali burung gereja bermain di atasnya. Di siang hari yang panas, angin tetap semilir berhembus ke dalam ruang-ruang di rumah, bahkan hingga lantai atas. Teduh rasanya melihat ada ‘pohon kehidupan’ di depan rumah. Saat letih, beberapa pedagang keliling kerap beristirahat di bawahnya, hingga pulas. Nyaman sekali, terdengar dengkurannya dari dalam rumah saya. Mungkin untuk sesaat, mereka bisa lupa akan dagangannya yang belum juga laku atau rengekan anaknya yang meminta tunggakan uang sekolah dilunasi segera.

Sekitar April 2005, beringin itu sedikit meranggas. Daun-daunnya banyak berguguran. Sedikit khawatir melihatnya, tapi saya pikir itu proses biasa dan tidak lama lagi pasti akan kembali lebat. Ternyata saya salah. Ini menyedihkan. Beringin ditebang habis, atas inisiatif salah satu penghuni kompleks. Terlalu banyak daun jatuh, lelah menyapunya. Begitu saja alasannya. Nggak asik, ya? Akhirnya pohon itu meninggal dunia, untuk selama-lamanya. Berhari-hari saya kesal. Menangis juga sih, dengan culunnya. Menurut saya kepergian si pohon dengan cara yang tidak layak sangat menyedihkan. Kenapa sih, usia yang begitu panjang tidak dihargai? Sebagai kehidupan, sebagai karuniaNya? Dia ada di taman kecil itu kan untuk membagikan udara sejuk dan hembusan angin kepada sekitarnya. Saya tidak habis pikir. Sungguh.

Akhirnya semua terang, benderang dan gersang. Kerapian yang kering. Bersih, tapi tidak menyejukkan. Di taman kecil itu hanya tersisa sederet tanaman teh-tehan. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu, beberapa minggu yang lalu deretan tumbuhan itu pun dihabisi. Dua orang lelaki membakar tumpukan ranting dan mengecat pembatas di tepi taman. Habislah sudah. Tanpa kompromi, tindakan itu diambil begitu saja. Setengah marah, saya menggerutu, "Mau apa lagi, sih orang-orang itu?"

Suti yang kebetulan di dekat saya pun merespon, "Nggak tau, tuh…" Ia melanjutkan, "Katanya, kalo nggak dibikin TK, mau dibikin Taman Kanak-Kanak, sih…"

"Lho?" itu respon standar saya, saat bingung mendengarkan penjelasan Suti. Aneh rasanya kalau di tempat semini itu didirikan bangunan.

"Iya, itu lho Mbak… yang ada ayunan sama perosotannya, tempat maen bocah. Itu TK atau Taman Kanak-Kanak, sih namanya?" mata Suti pun mengerjap menunggu jawaban saya.

emoticon 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker