karena pengen nulis…

August 15, 2007

Sarapan Akhir Pekan

Akhirnya… hari Minggu kemarin sampai lagi saya di tempat itu. Pojok jalan buntu yang menempel dengan pasar antik dan loak. Setiap kembali ke Solo, suami baik hati selalu mengajak saya untuk sarapan di situ. Warung sederhana, tapi cukup sohor di kalangan pencintanya. Ada cerita bahwa seorang teman pernah mengalami kecelakaan dengan sepeda motor, dimana saat masih terkaget-kaget karena tertabrak dan terjatuh, antara sadar dan tidak ia mengaku lapar dan minta segera diantar ke Soto Triwindu ini. emoticon Konon Iggy Pop juga pernah nyarap di sini.

Kali kemarin, karena kecewa tidak kebagian tempe gorengnya yang besar dan garing itu, saya agak mutung. Rasa sih tetap enak, walaupun harus sabar menunggu antrian tempat duduk. Tapi maaf, soto tidak sempat diabadikan dengan kamera. Lain kali, tidak lupa mudah-mudahan.

warung soto triwindu 

September 17, 2006

Ikan Asin

Filed under: Cemal-Cemil, Suti

Suatu waktu saya dan Ibu membahas kenikmatan salah satu hidangan yang tersaji di rumah makan Padang, Sederhana tepatnya. Ikan asin, pete bakar, irisan kulit pete bakar dan sambal yang mirip dengan sambal ijo. Tidak terlalu ingat bagaimana komposisi sebenarnya, kami berdua terus asyik mereka-reka sambil membayangkan nikmatnya menyantap ikan asin tersebut dengan nasi panas. Hhhmmm….

Saat Suti melintas, rupanya ia turut menyimak obrolan kami. Ketika Ibu pulang ia pun bertanya pada saya, “Mbak, ikan asin itu belinya dimana?”

“Di Sederhana, lah…”

“Sederhana?”

“Iya, itu nama warung Padang,” jelas saya singkat.

Oooh….” Suti manggut-manggut sambil tersenyum.

“Kenapa emang?” saya agak heran. emoticon

“Aku kirain ikan asin sederhana itu ikan asin yang nggak terlalu asin. Sederhana tuh nggak digaremin, aku kira tadi…” Suti pun sontak cekikikan sendiri, tanpa meneruskan argumennya.

September 6, 2006

Pho Bo

Filed under: Cemal-Cemil

“Ntar kalo sembuh pengen makan apa, Des?”

Pho Hoa, dong…”

www.recipelink.com/ch/2000/october/joysoups3.html 

Benar, sejak masih menghuni ICU yang terbayang oleh saya adalah mie beras dan irisan tipis daging, dengan kuah kaldu bening yang panas mengepul. Rasanya saat itu benar-benar too good to be true untuk skala pasien rumah sakit. :P Hhm… pelengkapnya ada daun ketumbar, lettuce, tauge, irisan cabe rawit dan jeruk nipis. Ada juga yang menambahkan daun mint dan irisan tipis daun bawang. Pho Bo, nama resminya sajian itu. Pho Hoa, dulu nama salah satu resto Vietnam yang cukup tenar di Jakarta. Pasti banyak yang sudah kenal, kan? Ah, jadi ingat kopinya juga deh… lalu lumpianya, lalu.. lalu..

Sewaktu hamil, hampir setiap usai cek rutin bulanan dari dokter kandungan, saya dan suami menyempatkan makan siang dengan menu Pho Bo. Senang sekali rasanya waktu itu, merasa sangat sehat dengan kehamilan saya. Menengok si bayi lewat layar USG dan menyeruput bersama kenikmatan Pho Bo adalah kombinasi kebahagiaan yang sempat kami alami selama beberapa kali kemarin, setiap Sabtu pertama di awal bulan.

Nah, baru saja kemarin siang saat di kantor saya diajak untuk ber-Pho Bo-ria oleh IbuBaikHati. Walau sudah ada camilan pagi risoles, kroket dan pastel bersambal kacang, serta chinese food yang sebentar lagi akan datang, saya tidak kuasa untuk menolak tawaran tersebut. Lagipula, kata beliau itu pelunasan janji yang pernah terucap di ruang ICU sebenarnya :) Jadilah kami lunch di Vietopia kemarin. Alhamdulillah…

Seingat saya baru di empat tempat saya mencoba Pho Bo. Vietnamese Soup di jalan Barito adalah ‘penjelmaan’ dari Pho Hoa yang sekarang sudah tidak ada lagi. Suasana bisa dibilang seadanya, menu pun banyak berkurang. Kalau dulu sempat ada beberapa pilihan dengan variasi topping dagingnya, sekarang hanya tinggal satu jenis. Rasanya masih cukup nikmat, penyertanya pun disajikan lengkap. Soal harga, ini memang yang termurah di antara semuanya. Vietopia di Cikini Raya (atau Senopati) punya tata ruang yang lebih modern, minimalis dan nyaman. Tapi soal Pho Bo, menurut saya tidak terlalu istimewa dibandingkan harganya. Dalam salah satu kesempatan, irisan dagingnya bahkan masih agak susah dikunyah. Yang memiliki kekhasan pada sajian dagingnya adalah Nam Kee di Automall SCBD, lebih gurih dan sedikit renyah. Sepertinya dipanggang terlebih dulu. Harga hampir sama dengan Vietopia, servis lebih oke. Untuk kuah paling top.. saya memilih Pho Bo dari Do An di Mal Artha Gading (atau Bulevar Kelapa Gading). Racikan bumbu dan rempahnya terasa lebih segar dari yang lain. Dagingnya pun empuk. (Hhm… suami saya juga setuju ternyata! :) ) Seru juga, pagi-pagi membayangkan Pho Bo. Bukan dari sisi pandang ahli kuliner, semata-mata hanya dari apa yang dirasa dan dihayati oleh saya, si penyeruput kuah. Euleuh… lapar euy!

August 25, 2006

Menjelang September

Counting down… tinggal 7 hari lagi, September datang. Alhamdulillah. :)

Kantor tempat saya bekerja baru mengizinkan saya masuk kembali pada bulan September, hampir 2 bulan setelah keluar dari rumah sakit. Sebenarnya saya sudah tidak sabar ingin segera masuk, sih… Ingin mulai beraktivitas seperti dulu, bertemu klien, menulis laporan, membuat proposal, terlibat dalam proses asesmen, perjalanan ke luar kota, dll. Tapi para senior di kantor menyatakan dengan tegas, “Istirahat aja dulu, biar pulihnya total. Tenang aja, ntar juga akan datang waktunya elo akan dibantai abis sama kerjaan…” Hehehe… I really miss that day. Kok bisa, ya?

Eiits… jangan salah. Tentu saja termasuk juga di dalamnya ‘keindahan ngantor’ yang lain seperti update berita terakhir (mirip-mirip dengan bergosip, tapi konon kabarnya sih untuk tujuan mulia…), saling nyela dengan tega, dan tak ketinggalan: aneka hidangan khas seputaran Cikini. Tentang hal terakhir ini, saya benar-benar kangen dengan singkong goreng yang merekah di pagi hari, jus si Jon, mie ayam, soto Adul, nasi uduk dan siomay Tan Ek Tjoan, bakso Didong, siomay stasiun, gudeg dan cincau ijo pasar Cikini, asinan betawi dengan kerupuk kuning norak, sate Ponorogo, bubur kacang ijo, kembang tahu, rujak iris, blablabla… Belum lagi kalau ditambah dengan penganan yang dibawa dari rumah, oleh ibu-ibu yang rajin nan baik hati. Salad buah, macaroni schotel, brownies, pempek, cheese stick, keripik kentang, almond cookies, oleh-oleh dari sini dan situ, waah… selamat gagal para dieters! :P

Nikmat luar biasa? Mungkin relatif. Sepertinya rasa cihuy itu datang dari ritual sharing yang secara tak tertulis berlaku. Semangkuk mie ayam, bisa dibagi bertiga. Setumpuk kerupuk mie dan sambal kacangnya, jadi camilan sore hari untuk siapapun yang berada di ruangan. Benar-benar finger lickin’ good! Icip-icip bersama yang dimulai sejak menginjak lantai 3 hingga sore menjelang, memungkinkan saya untuk mencecap berbagai rasa, di sela-sela pengerjaan tugas, obrolan dan hahahihi. Bisa jadi ini sangat membantu untuk meringankan beban syaraf, sehingga lebih rileks. Kesulitan dan ketegangan bukan tidak ada. Tantangan tugas, adaaa saja. Siapa takut? Hajar bleh…

Serius, deh. Saat ini saya benar-benar kangen kantor di Cikini Raya 18P itu. Satu lagi nikmat dariNya buat saya: sahabat-sahabat, para senior dan lingkungan kerja yang sangat menyenangkan. Seperti keluarga besar buat saya, dengan pembelajaran dan pengembangan diri yang dinamis. Peran mereka sangat signifikan dalam membantu perjuangan saya dan keluarga, saat berjibaku lebih dari sebulan, di rumah sakit. Mereka ada di saat perasaan 1001: cemas, lega, marah, sedih, jenuh, berharap, pesimis, kecewa, dan seterusnya.

Teringat suatu pagi di ICU, perawat menawarkan untuk membuatkan saya teh hangat. Di tangannya ada 2 jenis chamomile tea. Waktu itu saya belum bisa bicara, iritasi akibat selang besar yang cukup lama menghuni saluran nafas. Tapi ia melihat wajah saya yang penuh tanya dan menjelaskan, “Ini dibawain sama keluarga Ibu. Katanya, Ibu suka sekali minum teh ini. Saya buatkan, ya?” Saya mengangguk antusias. Menit berikutnya saya menyeruput teh dengan nikmat. Boleh dibilang sangat nikmat untuk ukuran ICU. Terlebih lagi, sudah lewat dari belasan hari saya berpuasa. Belakangan, saya baru tahu. Sahabat-sahabat di kantor rupanya yang membawakan chamomile tea. Mereka tahu, apa yang saya suka dan butuhkan. Membentuk kesadaran kuat, mereka memang keluarga buat saya… thanks for everything, guys! :)

Bersyukur dan mencoba memanfaatkan waktu istirahat yang tersisa dengan baik. Itu yang saya upayakan sekarang, sebelum minggu depan mulai bekerja kembali. Tidak lama. Seperti film Hollywood, ihik ihik…. theme song penutup pun berkumandang di telinga saya:
If we try we can fly to a whole ‘nother place in the sun
All we need is precious dream and a friend we can trust
We can go anywhere we want, any road that we decide to take
And we never, never, never too far from tomorrow today






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker