karena pengen nulis…

August 15, 2007

Sarapan Akhir Pekan

Akhirnya… hari Minggu kemarin sampai lagi saya di tempat itu. Pojok jalan buntu yang menempel dengan pasar antik dan loak. Setiap kembali ke Solo, suami baik hati selalu mengajak saya untuk sarapan di situ. Warung sederhana, tapi cukup sohor di kalangan pencintanya. Ada cerita bahwa seorang teman pernah mengalami kecelakaan dengan sepeda motor, dimana saat masih terkaget-kaget karena tertabrak dan terjatuh, antara sadar dan tidak ia mengaku lapar dan minta segera diantar ke Soto Triwindu ini. emoticon Konon Iggy Pop juga pernah nyarap di sini.

Kali kemarin, karena kecewa tidak kebagian tempe gorengnya yang besar dan garing itu, saya agak mutung. Rasa sih tetap enak, walaupun harus sabar menunggu antrian tempat duduk. Tapi maaf, soto tidak sempat diabadikan dengan kamera. Lain kali, tidak lupa mudah-mudahan.

warung soto triwindu 

February 11, 2007

Cibang-Cibung

Pagi hari tadi, akhirnya yang ditunggu-tunggu selama seminggu lebih datang juga menyambangi kami. Olala.. laiknya seperti tamu agung saja. Itulah, kalau tidak ada baru terasa keberartiannya. Apa itu? Air bersih! Horeeeee…… emoticon

 

Sebagai penduduk Jakarta, saya merasa sangat beruntung. Di tengah bencana banjir yang melumpuhkan banyak bagian kota besar ini (dan bahkan merenggut kehidupan banyak orang), rumah yang saya (dan suami baik hati) diami sama sekali tidak tersentuh oleh genangan banjir. Listrik masih terus menyala sepanjang waktu, demikian juga saluran telpon dan internet.

Satu-satunya kemalangan (kalaupun bisa dikatakan begitu), adalah terhentinya jaringan air PAM. Pada akhirnya, saya juga tidak merasa hal tersebut sebagai ketidakberuntungan. Bagaimana tidak, saya toh masih bisa mengungsi sebentar untuk mandi di rumah orangtua, yang kebetulan hanya berjarak sekitar 200m. Dan kemudian menikmati air bersih, masih sepuas-puasnya. Maklum, air tanah di rumah kami tidak layak pakai. Seperti mandi di sawah, saya mengutip komentar Suti.

Mengetahui pagi tadi air bersih sudah kembali mengalir, aah…. nikmat sekali rasanya mandi. Seperti mandi sungguhan yang pertama kali yang saya nikmati, setelah bisa kembali berdiri tegak (walaupun kaki masih gemetar) dan mengangkat gayung dengan tangan sendiri. Bukan di atas tempat tidur, hanya dengan sekaan washlap para perawat ICU… (nggak lagi-lagi, ah!)

Alhamdulillah,… untuk air dan mandi hari ini. :) Semoga semakin banyak lagi penduduk Jakarta yang bisa ’seberuntung’ kami. Tidak banjir dan tersedia air bersih. Itu saja dulu.

October 26, 2006

Aki Uju

Perpanjangan jatah umur membawa saya untuk kembali bisa berlebaran bersama keluarga, dan keluarga besar. Alhamdulillah… nikmat sekali bertemu dengan banyak saudara dan sanak keluarga. Sebagian besar dari mereka adalah yang meratapi dan mendoakan kesembuhan, saat saya melayang entah kemana, tidak sadarkan diri selama sekitar 10 hari di ruang ICU. Perjumpaan kemarin, saat lebaran banyak membawa keharuan tersendiri. Salah satu yang paling berkesan buat saya (dan suami) adalah pertemuan kembali dan pelukan hangat dari Aki Uju, demikian kami memanggil beliau. Seorang kakek buat saya, setelah kedua kakek saya meninggal dunia. Beliau adalah kakak kandung dari kakek saya, dari pihak Ibu. Usianya, wah… lupa persis. Tapi sekitar 90-an pastinya.

Beliau sangat taat beribadah, selalu menunggu kedatangan adzan dengan takzim. Dzikir tidak pernah putus dari mulutnya. Memang, dengan tubuh yang sudah mulai menua tidak banyak kegiatan fisik yang bisa dilakukannya. Tapi ada beberapa hal yang bisa dibilang ‘keajaiban’ dari dirinya. Salah satunya adalah, beliau masih bisa pulang pergi sendiri, mengunjungi banyak keluarga yang tersebar di beberapa kota. Naik bus. Iya, kendaraan umum! Saya tidak habis pikir, bagaimana beliau bisa tiba-tiba sampai di suatu tempat. Berbicara saja lebih banyak dalam Bahasa Sunda, dengan artikulasi yang sudah tidak terlalu jelas buat kebanyakan orang. Sering saya membayangkan, wah.. pasti beliau ditarik-tarik oleh beberapa kenek omprengan yang tidak berperikemanulaan, didorong-dorong, berpeluh menunggu penumpang hingga penuh. Sering sedih membayangkannya, tapi buat Aki semua hal itu biasa saja. Toh, beliau bisa sampai dengan selamat di Purwakarta, Subang, Tasikmalaya, Rengasdengklok, Bandung, atau bahkan Jakarta, setelah menempuh perjalanan dari kediamannya di Garut. Sewaktu di Tanah Suci, alhamdulillah beliau pun menjalankan ibadah tanpa kendala berarti dari kondisi fisiknya. Saya kerap membayangkan beliau sebagai ‘pejuang’ yang sesungguhnya. Sampai usianya yang sudah lanjut pun selalu berupaya untuk tidak menyulitkan orang lain, termasuk keluarganya sendiri. Saya percaya, Allah sesungguhnya yang menjaga beliau dalam setiap perjalanan. Apa yang tidak masuk akal (buat saya paling tidak), menjadi mungkin.

my Aki Uju 

Saya juga sangat percaya, doa-doa dari beliau adalah salah satu yang membuat Allah mengizinkan saya pulih kembali. Doa dari hambaNya yang sangat spesial, mungkin. Menurut cerita, Aki datang saat saya tidak sadar dan dalam kondisi kritis. Beliau berdoa dan berdzikir di pojok tangga yang memungkinkannya untuk duduk sedikit agak nyaman. Dan tidak mau pulang saat jam besuk sudah habis, memilih untuk terus mendoakan kesembuhan saya, hingga ikut bermalam di rumah sakit! Beliau sempat berucap, “Biarin, Aki mah di sini aja. Aki mau doain Deasy… nanti kalo malaikat dateng, Aki mau bilang Aki udah tua.. kasian Deasy masih muda. Biar Aki aja yang diambil… nggak papa…”

October 24, 2006

Lebaran 2006

Filed under: Berita Terbaru

Alhamdulillah… ketupat opor Lebaran sudah menghuni segenap penjuru perut. Nikmat sekali. Hhm… Selamat Idul Fitri ya. Semoga Allah menerima amalan kita dan berkenan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan mendatang. Dan.. oh,ya.. berikut ketupat opor juga, tentunya! :)

Hhm... sedep banget, daaah!

September 1, 2006

Selamat Jalan Inong.. :(

Filed under: Berita Terbaru

07.01 — Saya barusan ditelpon Adhi. Haris mengabarkan Inong sudah meninggal dunia.

Wassalaam,
Hany

(Allah Maha Penyayang, Dia tahu yang terbaik. Selamat jalan, Inong…  :( )

August 31, 2006

si Inong tea

Pagi tadi dibuka dengan breaking news yang tak sedap dari Mbak Hany: Inong masuk rumah sakit dan sampai sekarang masih koma. Hhm.. benar-benar tidak asik. Saya memang tidak dekat dengan Inong, tapi dia bukan orang baru buat saya. Dari orbit kami masing-masing, kami saling tahu dan masih saling kenal. Tidak jauh. Apalagi, Inong punya dapur yang tenar itu. :P

Keluarga Inong adalah salah satu keluarga yang dikunjungi dan diakrabi keluarga saya, saat pertama kali datang dan kemudian mukim di Balikpapan. Bagaimanapun, nasib kami hampir sama: Ayah mengaku orang Aceh dan Ibu konon kabarnya wanita Sunda. Kami beberapa kali bermain bersama. ‘Kak Des’, begitu Inong dulu memanggil saya meski usia kami hanya berjarak 4 bulan. Selanjutnya kami memang lebih ’sibuk’ dengan teman masing-masing, di kelas yang berbeda. Seingat saya, ia dekat dengan Izha dan Mona. Rasanya masih sampai saat ini. Belakangan saya tahu, Izha ternyata sudah berteman dengan suami saya, sebelum kami saling kenal. Akan halnya Mona, dia masih terhitung berstatus tetangga dengan saya. Ketika Inong menikah, cukup surprised juga mengetahui calon suaminya adalah Haris, yang secara selintas pernah dikenalkan oleh sahabat saya. Terakhir, ternyata Inong cukup dekat dengan Mbakyu saya, sebagai sesama penduduk negeri pulau. Tidak jauh-jauh. Lingkaran pertemanan semakin bertambah, sekaligus juga melibatkan orang-orang yang sama dan saling kenal.

Saat ini, ketika Inong masih terbaring koma, mudah-mudahan doa dan dukungan teman bisa ikut menjadi pembuka pintu rahmatNya. Saya tahu, teman Inong buannyaaak sekali. Dokter boleh pesimis (update terakhir dari Haris), tapi Allah lebih tahu yang terbaik. Saya hanya bisa ikut berdoa. Bangun ya, Nong… Anna Siti Herdiyanti yang saya kenal pasti tidak menyerah begitu saja. :)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker