Perpanjangan jatah umur membawa saya untuk kembali bisa berlebaran bersama keluarga, dan keluarga besar. Alhamdulillah… nikmat sekali bertemu dengan banyak saudara dan sanak keluarga. Sebagian besar dari mereka adalah yang meratapi dan mendoakan kesembuhan, saat saya melayang entah kemana, tidak sadarkan diri selama sekitar 10 hari di ruang ICU. Perjumpaan kemarin, saat lebaran banyak membawa keharuan tersendiri. Salah satu yang paling berkesan buat saya (dan suami) adalah pertemuan kembali dan pelukan hangat dari Aki Uju, demikian kami memanggil beliau. Seorang kakek buat saya, setelah kedua kakek saya meninggal dunia. Beliau adalah kakak kandung dari kakek saya, dari pihak Ibu. Usianya, wah… lupa persis. Tapi sekitar 90-an pastinya.
Beliau sangat taat beribadah, selalu menunggu kedatangan adzan dengan takzim. Dzikir tidak pernah putus dari mulutnya. Memang, dengan tubuh yang sudah mulai menua tidak banyak kegiatan fisik yang bisa dilakukannya. Tapi ada beberapa hal yang bisa dibilang ‘keajaiban’ dari dirinya. Salah satunya adalah, beliau masih bisa pulang pergi sendiri, mengunjungi banyak keluarga yang tersebar di beberapa kota. Naik bus. Iya, kendaraan umum! Saya tidak habis pikir, bagaimana beliau bisa tiba-tiba sampai di suatu tempat. Berbicara saja lebih banyak dalam Bahasa Sunda, dengan artikulasi yang sudah tidak terlalu jelas buat kebanyakan orang. Sering saya membayangkan, wah.. pasti beliau ditarik-tarik oleh beberapa kenek omprengan yang tidak berperikemanulaan, didorong-dorong, berpeluh menunggu penumpang hingga penuh. Sering sedih membayangkannya, tapi buat Aki semua hal itu biasa saja. Toh, beliau bisa sampai dengan selamat di Purwakarta, Subang, Tasikmalaya, Rengasdengklok, Bandung, atau bahkan Jakarta, setelah menempuh perjalanan dari kediamannya di Garut. Sewaktu di Tanah Suci, alhamdulillah beliau pun menjalankan ibadah tanpa kendala berarti dari kondisi fisiknya. Saya kerap membayangkan beliau sebagai ‘pejuang’ yang sesungguhnya. Sampai usianya yang sudah lanjut pun selalu berupaya untuk tidak menyulitkan orang lain, termasuk keluarganya sendiri. Saya percaya, Allah sesungguhnya yang menjaga beliau dalam setiap perjalanan. Apa yang tidak masuk akal (buat saya paling tidak), menjadi mungkin.
Saya juga sangat percaya, doa-doa dari beliau adalah salah satu yang membuat Allah mengizinkan saya pulih kembali. Doa dari hambaNya yang sangat spesial, mungkin. Menurut cerita, Aki datang saat saya tidak sadar dan dalam kondisi kritis. Beliau berdoa dan berdzikir di pojok tangga yang memungkinkannya untuk duduk sedikit agak nyaman. Dan tidak mau pulang saat jam besuk sudah habis, memilih untuk terus mendoakan kesembuhan saya, hingga ikut bermalam di rumah sakit! Beliau sempat berucap, “Biarin, Aki mah di sini aja. Aki mau doain Deasy… nanti kalo malaikat dateng, Aki mau bilang Aki udah tua.. kasian Deasy masih muda. Biar Aki aja yang diambil… nggak papa…”