karena pengen nulis…

September 5, 2008

Menahan Lapar

Ramadhan adalah saat menahan lapar (dimungkinkan) menjadi kenikmatan luar biasa. Bahkan bisa jadi jauh lebih nikmat daripada kenyang, dengan gejala perut mengeras dan sulit beranjak bangkit dari kursi. Konsep sederhana tentang hukum paradoks, bagaimana dua hal yang berada pada kutub saling berlawanan ternyata justru bisa dirasakan kehadirannya sekaligus. Seperti orang yang mengalah, untuk suatu hal yang lebih baik: kemenangan.

Sewaktu kecil saya memiliki keyakinan pengetahuan bahwa puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan merasakan penderitaan kaum papa, saat merasa lapar. Dalam pelaksanaannya, haus dan perih menahan lapar akan segera tergantikan dengan kepuasan luar biasa setelah bisa menyelesaikan satu hari berpuasa. Saya bangga, cukup dengan pujian "hebat!", dari kedua orang tua. Cukup memompa semangat untuk terus mengikuti sahur dan kembali berpuasa keesokan harinya. Di samping itu, tidak dapat disangkal bahwa memang beragam hidangan yang ‘tidak biasa’, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mampu membuat semangat berpuasa tetap hidup. Menahan diri untuk sesuatu yang jauh lebih menyenangkan pada akhirnya, seperti menemukan guci penuh emas di ujung pelangi. Karena dengan gamblangnya saya mengasosiasikan berbuka dengan es kelapa muda, sop kacang merah berkuah panas atau macaroni schotel. Lalu, apa bedanya dengan mahluk dalam eksperimen Pavlov? Bentuk menahan lapar seperti ini tentu saja bisa terjadi di segala usia, termasuk kita yang (dianggap) sudah dewasa, telah berpuluh tahun menjalani Ramadhan. 

copyright Zed Nelson 

Bila kembali pada esensi puasa sebagai wujud empati kepada kaum dhuafa, sebenarnya kita bisa mencoba untuk lebih mendekati ‘berpuasa ala mereka’. Sahur secukupnya (bila ada yang bisa dimakan) dan berbuka secukupnya (lagi-lagi bila ada yang bisa dimakan). Sedapat mungkin tidak usah mencari yang tidak ada, karena toh bercermin pada mereka; terlalu sering dihadapkan pada ketiadaan (hal-hal yang menyenangkan). Mungkin kemenangan terletak pada saat seteguk air putih pun sudah bisa kita syukuri seperti halnya mereguk teh hijau dingin (ini saya, sih) atau thai iced tea (ini saya juga) di saat terik panas dan kehausan. Atau bisa mengunyah nasi putih dingin dan tahu goreng, sama lahapnya dengan menikmati menu hidangan lengkap sagala aya, ala resepsi pernikahan di Jakarta.

Memang, sesekali tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras kita, dalam batas kewajaran tentunya. Dalam hal ini kewajaran menjadi konsep yang memiliki parameter sangat personal, terpulang pada pengalaman masing-masing. Tak seorang pun bisa (atau berhak) menyamakan pengalaman pribadinya dengan yang lain, apalagi menyeragamkan. Di sinilah kesadaran menjalankan perintah agama menjadi sesuatu yang sangat unik, menggambarkan upaya masing-masing kita berproses untuk mendekati dan mengagungkan Sang Khalik. Sangat mesra.

Kembali ke belajar menahan lapar pada fakir miskin, intinya adalah menikmati dan mensyukuri apa yang ada. Terus berupaya keras, namun tidak berkeluh-kesah akan apa yang belum didapat. Bila puasa Ramadhan kita sudah diupayakan sedemikian rupa,  setiap kali kita ingin menikmati sesuatu yang agak ‘berlebihan’, mungkin bisa muncul semacam sistem peringatan dini yang menyadarkan agar selalu berempati (pada mereka yang tak berpunya). Menikmati dengan rasa penuh syukur, menghindari sikap congkak dan sedapat mungkin berbagi. Karena berempati juga adalah berbagi, mengingat semua mahluk sama di hadapanNya. Wallahu’alam bishawab.

Selamat menikmati Ramadhan, semuanya… semoga kualitas menahan lapar kita bisa lebih meningkat, menjadikan kita mahluk-mahluk yang beruntung di sisi Allah SWT. emoticon

October 23, 2007

Balada Suti

Kemarin usai maghrib, bunyi bel mengejutkan saya dari keasyikan browsing (ehm, browsing-nya sih tidak penting. toh hanya penyeimbang di antara tumpukan setrikaan dan piring kotor yang sudah memanggil-manggil minta dituntaskan segera). Di tengah harapan akan segera kembalinya Suti usai mudik Lebaran, suara di pintu pagar benar-benar terasa seperti oase buat saya. "Mbak, ini aku… Suti!"

Wah, SUTI DATANG! Bergegaslah saya membukakan pagar dengan riang gembira. "Lah, kok cepet banget baliknya? Katanya mau balik ke sini awal November?" yang ini sapaan butuh, namun tetap penuh rasa ingin tahu. Saya menatap mata Suti. Wah, itu dia… ada yang tidak beres pasti. Tidak sempat pakai firasat-firasat, kalimat-kalimat penuh duka pun mengalir dari mulutnya. Setengah menangis dia menceritakan semuanya. Bahkan, kalimat pertama sudah diucapkannya sebelum kami benar-benar masuk ke dalam rumah.

Ringkasannya adalah sebagai berikut; (1) Suti tidak jadi pulang berlebaran ke Cianjur, tempat anak dan suaminya. Ia memberanikan diri pulang ke Cirebon untuk mengobati rindu pada Ibunya, karena sudah lama tidak punya kesempatan bersua ataupun sekedar mengirimkan uang hasil keringatnya. (2) Anak dan suaminya tetap di Cianjur, karena suami menolak untuk ke Cirebon. Jadilah Suti berlebaran tanpa anak dan suami. (3) Keluarga pihak suami marah, karena Suti tidak pulang ke Cianjur. Mereka menuduh Suti tidak perhatian pada keluarganya sendiri. (4) Suti dan suami bertengkar lewat telpom. (5) Suti merasa sendiri, dalam menjalani hidup dan mencari nafkah. Selama ini memang lebih dari 70% gajinya selalu dikirimkan ke Cianjur. (6) Suti memutuskan menerima tawaran yang datang dari kerabatnya, untuk menjadi TKI di Yordania. (7) Suti mengundurkan diri sebagai pramuwisma di rumah saya.

Kening saya mau tak mau berkerut, demi mendengar paparan Suti. Terlebih karena awalnya saya mengira kembalinya Suti kali ini adalah kembali yang biasa, untuk melanjutkan membantu kami mengurus dan menjaga rumah. Ternyata, oh ternyata. Malang benar Suti, saya jatuh kasihan mendengar kisahnya. 

Dengan wajah yang masih penuh kebingungan, ia melanjutkan penjelasannya, "Malam ini juga aku mau pulang ke Cirebon. Karena nanti tanggal 3 harus berangkat, Mbak.." Semua serba mendadak. Segera ia bergegas mengemas barang-barangnya, menjadi 4 kardus besar. Dipanggilnya 2 tukang ojek, untuk menuju tempat kerabat yang menunggu. Ia pun buru-buru berpamitan, dengan meminta maaf pada saya dan suami.

Kehilangan Suti mendadak, tidak membuat saya membayangkan bagaimana repotnya tanpa ia. Yang otomatis terlintas di benak saya adalah bagaimana Suti pernah sangat berarti dan membantu hari-hari kami. Sewaktu kami akan menikah, saat saya harus sakit dan kehilangan bayi pertama kami, kemudian saya kembali belajar berjalan, dan seterusnya. Suti-lah yang menjaga rumah saat suami terus menunggui saya di rumah sakit. Suti pula yang mencucikan segala pakaian kotor saya, selama saya tidak berdaya.  

Pagi tadi, saya dan suami bersepakat untuk mencoba hari-hari tanpa pramuwisma. Kami harus bisa, dan memang harus dicoba. Toh, kami hanya tinggal berdua. Lagipula, saya sudah sepenuhnya sehat, Insya Allah. Tapi ingatan saya sepanjang hari tetap pada nasib Suti, yang sudah lama tidak dinafkahi namun harus menafkahi suami, anak dan keluarga suaminya. Tidak pernah bisa dekat dengan anaknya, karena tidak diperbolehkan oleh keluarga suaminya. Saya teringat bagaimana Suti pernah menangis, ketika suatu pagi buta anak yang tengah lelap tidur di dekapannya, direnggut dan dibawa begitu saja oleh kakak iparnya, untuk dibawa pulang ke Cianjur. "Kamu kerja aja, biar nih anak ikut saya!" demikian kalimat yang terngiang-ngiang di telinga Suti sambil termangu kosong di depan pintu ketika itu. Matanya berkaca, tapi ia seperti tak berdaya. Rupanya tokoh antagonis di sinetron memang nyata ada. Saya yang mangkel berat mendengarnya, karena saya yang selalu mendorong Suti untuk mengajak anaknya tinggal bersama dan tetap bekerja di rumah kami. Ah, Suti…  

"Beeeeeeeep!" saya terkejut mendengar bunyi ponsel sendiri. Kemudian ternganga mendengar cerita si penelpon, Teteh pemilik warung rokok di depan rumah. Baru saja ia diberitahu, bahwa Suti salah informasi. Menduga akan diberangkatkan tanggal 3, ternyata (kemungkinan) baru nanti bulan 3, alias tahun depan! Suti bingung tak menentu, tidak tahu akan ke mana selama menunggu bulan Maret 2008. Sebenarnya ia malu, namun mengatakan ingin kembali bekerja di rumah kami. Jadi, Suti minta Teteh menyampaikan keinginannya pada saya. "Boleh, nggak?" pintanya.

emoticon 

Waaaaaaah, ini baru ending yang Suti bangets! Karena membuat perasaan saya campur aduk… walaupun sejujurnya lebih didominasi oleh rasa bersyukur bahwa (setidaknya) kami belum akan kehilangan rawon, soto, nasi lengko dan lontong lezat buatan Suti. Hhhhm…

April 27, 2007

Iko

Suatu hari di bulan Juli 2003, salah seorang adik saya berlari-lari ke dalam rumah dan kemudian segera bergegas keluar lagi setelah mengambil kamera. “Iko hebat banget! Keren abisss….”

Si Iko, ngapain lagi… baru kemarin berulah dan melempar-lempari setiap orang yang lewat, pikir saya. Keberadaan Iko di warung rokok itu memang menjadi atraksi tersendiri. Ada yang takut, namun lebih banyak yang gemas dan geli melihat ulahnya.

Setelah melihat hasil kerja paparazzi memburu Iko, saya benar-benar terkesima. Terkesan. Bukan pada kualitas bidikan. Tapi pada Iko. Si pelakon adegan. Hebat dia… entah dari mana dua mahluk mungil kucel itu datang, tapi (kelihatannya) dengan sepenuh hati Iko menjaga, menyayangi, dan bahkan menyusui mereka. Dan hal tersebut ternyata tidak hanya berlangsung satu-dua hari. Saya pikir Iko hanya bisa berisik dan mencari kutu. Saya telah meremehkan Iko selama ini.

kebaikan Iko 

Iko and the kitties

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya selalu senang membaca tulisan-tulisan Mbak Hany soal ASI. Bagi saya perjuangan seorang Ibu itu luar biasa indah, dan salah satunya adalah pada saat ia berusaha memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. Meski kesempatan itu belum datang, mudah-mudahan pada waktunya nanti saya tetap punya semangat dan energi untuk berjuang. Setidaknya, Iko sudah memberi contoh nyata. Iya, kan Ko? emoticon

February 11, 2007

Cibang-Cibung

Pagi hari tadi, akhirnya yang ditunggu-tunggu selama seminggu lebih datang juga menyambangi kami. Olala.. laiknya seperti tamu agung saja. Itulah, kalau tidak ada baru terasa keberartiannya. Apa itu? Air bersih! Horeeeee…… emoticon

 

Sebagai penduduk Jakarta, saya merasa sangat beruntung. Di tengah bencana banjir yang melumpuhkan banyak bagian kota besar ini (dan bahkan merenggut kehidupan banyak orang), rumah yang saya (dan suami baik hati) diami sama sekali tidak tersentuh oleh genangan banjir. Listrik masih terus menyala sepanjang waktu, demikian juga saluran telpon dan internet.

Satu-satunya kemalangan (kalaupun bisa dikatakan begitu), adalah terhentinya jaringan air PAM. Pada akhirnya, saya juga tidak merasa hal tersebut sebagai ketidakberuntungan. Bagaimana tidak, saya toh masih bisa mengungsi sebentar untuk mandi di rumah orangtua, yang kebetulan hanya berjarak sekitar 200m. Dan kemudian menikmati air bersih, masih sepuas-puasnya. Maklum, air tanah di rumah kami tidak layak pakai. Seperti mandi di sawah, saya mengutip komentar Suti.

Mengetahui pagi tadi air bersih sudah kembali mengalir, aah…. nikmat sekali rasanya mandi. Seperti mandi sungguhan yang pertama kali yang saya nikmati, setelah bisa kembali berdiri tegak (walaupun kaki masih gemetar) dan mengangkat gayung dengan tangan sendiri. Bukan di atas tempat tidur, hanya dengan sekaan washlap para perawat ICU… (nggak lagi-lagi, ah!)

Alhamdulillah,… untuk air dan mandi hari ini. :) Semoga semakin banyak lagi penduduk Jakarta yang bisa ’seberuntung’ kami. Tidak banjir dan tersedia air bersih. Itu saja dulu.

January 25, 2007

Bukan Puasa Ngeblog

Kenapa, Des?

Iya, hampir 3 bulan saya absen menulis. Agak bohong juga kalau dikatakan tidak ada alasan khusus. Tidak sengaja malas menulis, eh.. keterusan. Ini baru mengupayakan untuk tidak keterusan malas.

Versi jujurnya, adalah awal November 2006 kemarin. Mau tidak mau saya kerap mengingat hari-hari dimana dokter memperkirakan putri pertama kami akan lahir. Sesuatu yang tidak pernah terjadi, ternyata. Ada rasa pahit. Perih. Seorang teman pernah berbagi pengalaman yang hampir serupa. Membaca ceritanya, saya merasa tidak sendiri.

Aleia Priyanka Istanto. Itu nama yang saya siapkan untuknya. Namun nama cantik itu baru ada dalam kepala saya. Ketika ia harus meninggal dalam usianya yang baru sekitar 5 bulan dalam kandungan, nama itu tidak bisa diberikan. Saya koma sepuluh hari.

Sudah hampir 7 bulan sejak peristiwa itu terjadi. Saya masih harus lebih banyak belajar. Bagaimana untuk tidak mengeluh, tidak menengok ke belakang, menjalani dan mensyukuri saja apa yang ada. Sampai detik ini proses belajar masih berlanjut. Doakan, ya…

so open up your morning light, and say a little prayer for I.. 

 

October 26, 2006

Aki Uju

Perpanjangan jatah umur membawa saya untuk kembali bisa berlebaran bersama keluarga, dan keluarga besar. Alhamdulillah… nikmat sekali bertemu dengan banyak saudara dan sanak keluarga. Sebagian besar dari mereka adalah yang meratapi dan mendoakan kesembuhan, saat saya melayang entah kemana, tidak sadarkan diri selama sekitar 10 hari di ruang ICU. Perjumpaan kemarin, saat lebaran banyak membawa keharuan tersendiri. Salah satu yang paling berkesan buat saya (dan suami) adalah pertemuan kembali dan pelukan hangat dari Aki Uju, demikian kami memanggil beliau. Seorang kakek buat saya, setelah kedua kakek saya meninggal dunia. Beliau adalah kakak kandung dari kakek saya, dari pihak Ibu. Usianya, wah… lupa persis. Tapi sekitar 90-an pastinya.

Beliau sangat taat beribadah, selalu menunggu kedatangan adzan dengan takzim. Dzikir tidak pernah putus dari mulutnya. Memang, dengan tubuh yang sudah mulai menua tidak banyak kegiatan fisik yang bisa dilakukannya. Tapi ada beberapa hal yang bisa dibilang ‘keajaiban’ dari dirinya. Salah satunya adalah, beliau masih bisa pulang pergi sendiri, mengunjungi banyak keluarga yang tersebar di beberapa kota. Naik bus. Iya, kendaraan umum! Saya tidak habis pikir, bagaimana beliau bisa tiba-tiba sampai di suatu tempat. Berbicara saja lebih banyak dalam Bahasa Sunda, dengan artikulasi yang sudah tidak terlalu jelas buat kebanyakan orang. Sering saya membayangkan, wah.. pasti beliau ditarik-tarik oleh beberapa kenek omprengan yang tidak berperikemanulaan, didorong-dorong, berpeluh menunggu penumpang hingga penuh. Sering sedih membayangkannya, tapi buat Aki semua hal itu biasa saja. Toh, beliau bisa sampai dengan selamat di Purwakarta, Subang, Tasikmalaya, Rengasdengklok, Bandung, atau bahkan Jakarta, setelah menempuh perjalanan dari kediamannya di Garut. Sewaktu di Tanah Suci, alhamdulillah beliau pun menjalankan ibadah tanpa kendala berarti dari kondisi fisiknya. Saya kerap membayangkan beliau sebagai ‘pejuang’ yang sesungguhnya. Sampai usianya yang sudah lanjut pun selalu berupaya untuk tidak menyulitkan orang lain, termasuk keluarganya sendiri. Saya percaya, Allah sesungguhnya yang menjaga beliau dalam setiap perjalanan. Apa yang tidak masuk akal (buat saya paling tidak), menjadi mungkin.

my Aki Uju 

Saya juga sangat percaya, doa-doa dari beliau adalah salah satu yang membuat Allah mengizinkan saya pulih kembali. Doa dari hambaNya yang sangat spesial, mungkin. Menurut cerita, Aki datang saat saya tidak sadar dan dalam kondisi kritis. Beliau berdoa dan berdzikir di pojok tangga yang memungkinkannya untuk duduk sedikit agak nyaman. Dan tidak mau pulang saat jam besuk sudah habis, memilih untuk terus mendoakan kesembuhan saya, hingga ikut bermalam di rumah sakit! Beliau sempat berucap, “Biarin, Aki mah di sini aja. Aki mau doain Deasy… nanti kalo malaikat dateng, Aki mau bilang Aki udah tua.. kasian Deasy masih muda. Biar Aki aja yang diambil… nggak papa…”

September 29, 2006

Menuju Jl.Lada

Terus terang, kemarin saya sempat was-was saat menerima penugasan di salah satu kantor klien. Bukan apa-apa, wuiiih… jauhnya itu lho dari rumah. Ini pengalaman pertama saya bepergian sejauh itu di dalam kota, setelah terkapar kemarin. Dengan kapasitas batere yang agak menurun, saya harus tahu diri. Ukur-ukur kekuatan. Tapi menolak kesempatan buat ‘menjelajah’ lagi, no way. Penasaran juga soalnya. Rasanya kalau tidak dicoba, tidak akan pernah tahu daya tahan saya yang sebenarnya. Kekhawatiran pun bersliweran sejak satu-dua hari sebelumnya. Apa iya, saya bisa sampai ke sana tepat waktu, tanpa macet, lelah dan sebagainya? Kalau seputaran Kuningan-Semanggi-Gatsu sih, no problemo. Ongkos taksi masih bersahabat. Mau diantar suami pun, menuju kawasan sana pasti macet luar biasa tak terkira, terlalu banyak energi yang terbuang. Lama di jalan, kasihan nanti kalau suami saya terlambat sampai kembali di kantornya.

Malam sebelumnya, suami baik hati melontarkan ide cemerlang: naik busway aja, yuk! Maksudnya TransJakarta. Akhirnya, kejadian deh. Hari ini saya naik kendaraan umum non-taksi untuk pertama kali, setelah sembuh. Sebelum sakit, jangan ditanya. Saya sudah kenyang naik angkot, mikrolet, metromini, bajaj, ojek, bus, bemo, sampai KRL. Tidak duduk, bukan masalah. Sepenuhnya percaya diri dengan kekuatan pijakan kuda-kuda saya, yang sudah teruji dalam perjalanan sekian tahun, melintasi rel Depok-Jakarta. Yakin, tidak kalah dengan para pengasong deh:P

Pagi tadi, setelah memarkir mobil di salah satu gedung jangkung, saya ditemani suami menuju kawasan Kota. Jujur nih, ada sensasi tersendiri. Seperti menjalani semuanya untuk pertama kali. Saya menghayati setiap langkah, mendalam. Ah, senangnya… alhamdulillah bisa berjalan lagi. Beraktivitas lagi, seperti kebanyakan orang. Seperti sebelumnya! :D Suara gedumbrengan dari lantai di jembatan menuju halte busway mengiringi langkah saya. Iya, lantainya ramai seperti kaleng. Kalau hujan, akan licin dan agak membahayakan sepertinya. Untung saya bukan penggemar stiletto. Hiks!

busway, gitu loh 

Melaju di jalur khusus, ada perasaan senang dan menang melewati kemacetan Jakarta yang semrawut. Asik, gue duluan doong.. :P Sedikit norak, saya terkagum dengan interchange Harmoni yang ternyata sudah rampung. Suami pun berperan sebagai guide. Ooh… baru tahu saya. Sekarang rupanya sudah bisa menjelajah dari Pulo Gadung-Harmoni, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pilihan Kali Deres atau Blok M. 3500 perak, coy!

Sampai di lokasi, ternyata bukan cuma saya yang kampungan. Hampir semua teman pun bercerita tentang nikmatnya ber-busway-ria. Murah, (cukup) bersih dan nyaman. Untuk ukuran Jakarta tentunya. Memang untuk saat ini kenyamanannya belum menyeluruh. Begitu keluar TransJakarta, kembali debu dan terik menghadang.  Kemacetan ditimpali dengan ramainya klakson. Pedagang asongan masih semrawut di sana-sini. Sangat Jakarta. Menyadarkan kembali bahwa masih berada di kota ini, saya sangat sulit menemukan tempat penyeberangan yang shahih. Akhirnya kami pun menyeberang dimana ada celah. Oh, ya.. lengkap dengan seliweran motor yang terkesan tidak rela untuk memberi kesempatan pada pejalan kaki. emoticon Suami masih menggandeng tangan saya, ketika saya berulang kali bertanya, “Ini beneran nggak ada tempat nyebrang ya? Kita boleh nggak sih nyebrang di sini?” Saya akhirnya tahu itu pertanyaan sia-sia, karena ternyata bersama kami ada sejuta umat ikut berjuang menerobos lalu lintas yang padat. Kekacauan kolektif, yang tidak (atau belum) dipandang sebagai anomali di Jakarta.

Syukurlah, saya bisa survive sehari tadi. Walaupun setelah turun TransJakarta, terpaksa saya harus kembali mengandalkan taksi untuk bisa sampai dengan ‘utuh’ di rumah. Ongkosnya? Yaa.. hampir 15 kali lipat dari ber-busway-ria, lah. Wwffuiih!!

September 2, 2006

Manusia Bisa Apa?

Tidak bisa tidak, saya masih teringat Inong. Menjenguk teman lama dalam keadaan seperti itu sungguh benar-benar tidak enak. Bagian dari kehidupan, memang. Betapa manusia tidak berdaya, layaknya seperti bandul pendulum yang berayun pada seutas tali bernama nasib. Dan nasib pun sepenuhnya dikendalikan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Benar-benar SEPENUHNYA, hak prerogatif yang tidak bisa ditawar.

kita bukan apa-apa 

Kemarin, jenazahnya baru tiba di rumah menjelang Maghrib. Begitu banyak kerabat dan sahabat yang datang, bersimpati, ikut berduka dan mendoakan kepulangan Inong. Saya hanya mengamati semua dari luar pintu. Selain karena sesak dengan banyaknya orang yang ingin melihat Inong untuk terakhir kali, bagi saya sudah cukup teriris-iris rasanya melihat pandangan polos Syifa yang kebingungan di gendongan Ayahnya. Zidan pun tertegun menatap Bundanya dari pinggir peti. (Semoga Allah menguatkan mereka…)

Di tengah suasana duka saya teringat, seorang teman baru saja bercerita. Beberapa waktu yang lalu (sebagai moderator) Inong memintanya untuk mengabarkan kondisi saya yang kritis, di milis SD kami. Inong ingin dibuatkan draft terlebih dulu agar tidak ada kekeliruan penafsiran. Memberitakan kondisi yang menurut dokter ‘butuh keajaiban untuk bisa bangun’, memang bukan hal mudah. Ternyata, itu yang terasa kemarin. Lebih-lebih untuk kabar selanjutnya, dimana takdir terasa seperti tamparan keras.

Inong, saya harus memberitahukan teman-teman bahwa milis SD kita sudah ditinggalkan oleh Ibu RT-nya… Selama-lamanya.” :(

August 31, 2006

Curi-curi…

Akhirnya, saya mencuri juga. Sudah direncanakan sejak beberapa hari sebelumnya, baru sempat kemarin terlaksana. Untung bukan pertandingan, sehingga saya tidak didiskualifikasi. Ya, saya mencuri start. Masuk kantor sebelum ‘aba-aba’ resmi dari Bos. Cuma bertandang, sarapan dan makan siang. Bubur ayam dan gudeg lengkap (gudeg, opor ayam, sambal krecek, buntil, aneka bacem dan kerupuk). Membuka laptop sebentar. Melihat laporan dua bentar. Selebihnya adalah hahahihi dan obrolan ringan.

Walaupun di rumah tidak merasa sakit lagi, kemarin pagi tas saya dibawakan. Salah satu Bos (dan sahabat) saya yang baik hati spontan melengkapi persediaan ransum kantor dengan susu bubuk dan Milo (berasa di rumah Emak, nggak seeh:D ). Kemampuan saya untuk menaiki anak tangga pun sempat diragukan. Hampir semua orang masih sangat khawatir melihat langkah saya. Kekhawatiran yang datang dari kengerian melihat kondisi saya kemarin, melekat kuat rupanya. Memang begitu adanya. Saya ternyata tidak bisa (atau tidak boleh) begitu saja langsung melakukan apa yang saya pikir saya bisa. Ada pemikiran dan masukan lain yang harus saya pertimbangkan. Semua bertujuan baik.

sing sabar...

Bisa jadi saya perlu waktu (lebih dari yang saya bayangkan) untuk kembali benar-benar pulih. Dan orang-orang di sekitar saya pun perlu waktu untuk benar-benar menyaksikan proses kesembuhan, sebelum sampai pada keyakinan bahwa saya sudah bisa diandalkan untuk bekerja penuh. Lagi-lagi si SABAR yang dibutuhkan. Sesuatu yang saya tidak punya banyak, sebenarnya. Allah Maha Tahu, Dia menempa dan menggempur saya dengan beragam pengalaman agar mampu lebih sabar. Alhamdulillah… :)

August 28, 2006

Psychedelic Experience

From Wikipedia:
A ‘psychedelic’ experience is characterized by the perception of aspects of one’s mind previously unknown, or by the creative exuberance of the mind liberated from its ordinary fetters. Psychedelic states are one of the stations on the spectrum of experiences elicited by psychedelic substances. On that same spectrum will be found hallucinations, distortions of perception, synesthesia, altered states of awareness, mystical states, and occasionally states resembling psychosis. The word psychedelic means literally: Mind Manifesting.

The Multidisciplinary Association for Psychedelic Studies or MAPS defines levels of psychedelic experience:

  • Level 1: This level produces a mild "high" effect, with some visual enhancement (e.g. brighter colors). Left/right brain communication changes causing music to sound "wider," or more piercing to the ears.
  • Level 2: Bright colors; visuals (e.g. things may move or breathe); some two-dimensional patterns become apparent upon shutting eyes. Confused, cyclic or reminiscent thoughts. Change in short term memory leads to continual distractive thought patterns. Vast increase in creativity becomes apparent as the natural brain filter is bypassed.
  • Level 3: Very obvious visuals, everything looking curved and/or warped, patterns, kaleidoscopes or fractal images seen on walls, landscapes, faces, etc. Closed eye hallucinations become three-dimensional. There is some confusing of the senses (e.g. seeing sounds as colors). Time distortions and "moments of eternity". Movement at times becomes extremely difficult (too much effort required).
  • Level 4: Strong visual effects, e.g. objects morphing into other objects. Dissolving or multiple splitting of the ego (e.g. things start talking, or feeling of contradictory things simultaneously). The loss of sense of self can bring a shift in the sense of reality, often accompanied by a sense of ineffable lucidity. Time becomes meaningless. Out-of-body experiences and ESP-type perceptions and abilities.
  • Level 5: Total loss of visual connection with reality. The senses cease to function in the normal way. Total loss of ego. Merging with space, other objects or the universe. Reaching to the beginning or the end of space and time. The loss of reality becomes so extreme that it defies explanation. Dream or movie like states, people have been reported seeing themselves in entirely different settings than their original setting. Earlier levels are relatively easy to describe in terms of measurable changes in perception and thought patterns. The only thing still reported to be working at a recognizable level, is the mind’s voice of thought. Much is unknown about what a person actually experiences during this period, because most people actually come back explaining the experience as "unexplainable".

(Hhmm… saya level berapa, ya?)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker