karena pengen nulis…

March 1, 2007

Keberuntungan Masa Kecil

Filed under: Asal Muasal, Bocah

Saya selalu merasa sebagai orang yang beruntung. Tentu jelas, ini bukan berarti tidak ada kemalangan dalam hidup saya. Hanya saja –entah mengapa, tetap saya merasa bahwa kemalangan adalah belum beruntungnya saya. Persis seperti kupon undian yang dikerik dengan uang logam: “anda belum beruntung”. Jadi, tetap saya GR berkelanjutan. Merasa selalu masih beruntung dalam hidup. Tapi untuk kupon undian, saya tidak pernah berminat untuk mencoba yang ketiga kali. Cuma sampai dua, boleh lah. Hihihi…

Salah satu keberuntungan yang saya ingat: masa kecil yang menyenangkan. Punya banyak sahabat, teman bermain, rumah dan halaman yang luas. Dengan minimnya tayangan TV, hari-hari semasa SD kami habiskan dengan bermain di luar rumah. Main dineboy, slodor, asinan dan ajakan tutup. Maaf, itu semua perbendaharaan kata dari daerah. Di Jakarta mungkin dulu dikenal dengan permainan boy, gobak sodor, engklek dan petak umpet. Buat tubuh-tubuh kecil kami, halaman rumah cukup luas untuk berlari hingga terengah-engah. Lalu menjerit dan tertawa sekeras-kerasnya, ketika tempat persembunyian ditemukan oleh lawan main. Bosan bermain di halaman, ada jalan-jalan sepi yang mulus beraspal, cukup aman untuk dilalui dengan bersepatu roda. Kami hanya masuk ke rumah untuk menonton Si Unyil (itu pun belum sampai pada episode Ableh).

Ketika kami mulai membaca Sapta Siaga dan Lima Sekawan, lagi-lagi sarana bermain dan berkhayal tersedia. Mau ‘mendaki gunung’, ada bukit-bukit kecil di belakang rumah. Ingin mencoba ‘kereta salju’, tinggal mencari kardus bekas dan kemudian meluncur dari puncak bukit yang paling tinggi. Semak, pohon, alang-alang, juga gua-gua kecil bukan hal yang asing bagi kami. Bahkan di sekitar rumah masa kecil saya yang keempat, ada aliran sungai kecil yang bisa ‘dijelajahi’ sambil berkhayal, bahwa kami sedang di Pulau Kirrin, milik Georgina. Rengekan kami pada para orang tua waktu itu adalah: tenda, tikar, senter besar (agar terlihat keren!) dan peta langit (yang ini dibeli di Planetarium Jakarta). Untuk berkemah dan menikmati malam hari libur, di halaman sendiri. :)

Ingin rasanya menyaksikan anak-anak saya nanti bisa mencecap pengalaman masa kecil yang serupa. Dengan kesempatan untuk berlari sekuat-kuatnya, menghirup nafas dalam, memenuhi paru-paru dengan udara yang masih segar. Melihat Jakarta saat ini, mungkin hanya sesekali tentu saja. Eh, masih muluk juga ya?

(terima kasih buat Emaknya HaHa, yang memunculkan photo-photo di atas beserta online tutorialnya)

August 15, 2006

Kenapa?

Filed under: Asal Muasal

“Wah! Hari gini gak ngeblog?”

“Emang lo nggak punya blog?”

“Bukannya elo suka nulis, Des?”

itu antara lain komentar temen-teman dekat yang benar-benar kenal dengan saya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu beberapa bulan yang lalu cuma saya tanggapi dengan senyum. Kecut tapi. Iya, sih… kepingin juga nulis. Tapi, pergi pagi dan (terkadang) pulang menjelang malam, masih ada PR laporan yang menanti untuk diselesaikan, waaah… menulis log, diary, jurnal, buku harian atau apapun tidak pernah sukses dimulai. Duh, kesannya sibuuuk, sekali. Padahal kerjaan pun masih dalam batas normal, sih. Sangat banyak orang yang punya sekian puluh kegiatan, toh masih sempat buat menulis jurnal harian. Toh lagi, masih ada wik-en. Masalahnya cuma saya belum bisa mengatur waktu secara efektif, suka menunda, terlalu mengikuti mood. Jadilah kebutuhan (dan mungkin kemampuan) menulis itu mati suri.

Lucu. Sampai akhir SMA, saya ingat sudah menulis sekitar 23 buku harian, yang dimulai dari kelas 5 SD. Diary pink mungil berkunci gembok yang dibelikan Papa ternyata sangat manjur untuk mengembangkan kebiasaan dan kegemaran menulis. Tidak bisa dibilang hobi, tapi kenyataannya tulisan saya cukup dihargai, setidaknya oleh kalangan sekolah waktu itu, berkali-kali disertakan dalam lomba mengarang dan berhasil menang. Suatu kali saya ingat pernah dibangunkan Mama dari tidur siang, disuruh mandi dan bersiap-siap memakai seragam sekolah SD, karena Pak Guru saya sudah menunggu di depan rumah. Beliau berinisiatif menjemput saya dengan vespanya, karena hari Minggu itu mendadak ada permintaan untuk menyertakan wakil sekolah pada perlombaan mengarang. Hwahahaha…. untung waktu itu belum ada mal dan dufan, ya? :P

Walau pada awalnya tidak setiap hari saya melaporkan catatan harian, tapi lama kelamaan pengaruh candunya semakin bekerja. Saat mulai beranjak SMP, SMA, saat rasanya tidak semua orang bisa memahami dan makin banyak cetusan emosi yang intens, kebutuhan menulis semakin kuat. Tak jarang saya juga menyertakan gambar-gambar tak jelas, coretan luapan kekesalan dengan bolpen yang ditekan kuat, dan.. hihihi… ada air mata juga, doong. Wah, sinetron segala tema pokoknya!

Kembali lagi ke tahun 2006, Agustus. Saya baru saja –alhamdulillah, kembali pulih dari sakit yang serius. Mudah-mudahan yang paling serius seumur hidup saya. Awal Juni, tepatnya Kamis tanggal 8 saya harus menjalani operasi di saat tengah mengandung bayi pertama. Usia kandungan memasuki minggu ke-18, atau sekitar bulan ke-5. Pasca operasi, pemulihan tidak berjalan seperti harapan, tapi mungkin sesuai dengan dugaan dan kekhawatiran para dokter. Tindakan operasi pada ibu hamil memang suatu hal yang sangat beresiko, menurut mereka. Apalagi operasi yang saya jalani (ternyata) memang cukup besar, mengharuskan sekitar 20 cm usus halus saya dipotong. Singkat kata, dalam 36 hari di rumah sakit, 10 hari di antaranya saya tidak sadarkan diri. Dengan mata tertutup plester, tubuh kurus menguning, nafas tersengal yang ditopang oleh alat bantu dan sejumlah kabel infus yang masuk ke dalam tubuh, bisa dimaklumi kalau selama itu keluarga saya sangat down. Setelah akhirnya –lagi-lagi berkat izin Allah, saya ‘kembali’, beberapa kerabat dan teman mengajukan pertanyaan yang sama, “Eh, kemana aja lo waktu nggak sadar?”. Adapula yang sangat penasaran, apakah saya melihat lorong panjang dengan cahaya putih (yang tersohor itu) dan berjumpa dengan para pendahulu yang sudah tiada. Pertanyaan-pertanyaan –beberapa di antaranya setengah desakan, tersebutlah yang menjadi penggerak utama untuk saya mulai menulis blog. Syahdan, demikian kisahnya… alhamdulillah, terima kasih ya, prens! :)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker