Menahan Lapar
Ramadhan adalah saat menahan lapar (dimungkinkan) menjadi kenikmatan luar biasa. Bahkan bisa jadi jauh lebih nikmat daripada kenyang, dengan gejala perut mengeras dan sulit beranjak bangkit dari kursi. Konsep sederhana tentang hukum paradoks, bagaimana dua hal yang berada pada kutub saling berlawanan ternyata justru bisa dirasakan kehadirannya sekaligus. Seperti orang yang mengalah, untuk suatu hal yang lebih baik: kemenangan.
Sewaktu kecil saya memiliki keyakinan pengetahuan bahwa puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan merasakan penderitaan kaum papa, saat merasa lapar. Dalam pelaksanaannya, haus dan perih menahan lapar akan segera tergantikan dengan kepuasan luar biasa setelah bisa menyelesaikan satu hari berpuasa. Saya bangga, cukup dengan pujian "hebat!", dari kedua orang tua. Cukup memompa semangat untuk terus mengikuti sahur dan kembali berpuasa keesokan harinya. Di samping itu, tidak dapat disangkal bahwa memang beragam hidangan yang ‘tidak biasa’, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mampu membuat semangat berpuasa tetap hidup. Menahan diri untuk sesuatu yang jauh lebih menyenangkan pada akhirnya, seperti menemukan guci penuh emas di ujung pelangi. Karena dengan gamblangnya saya mengasosiasikan berbuka dengan es kelapa muda, sop kacang merah berkuah panas atau macaroni schotel. Lalu, apa bedanya dengan mahluk dalam eksperimen Pavlov? Bentuk menahan lapar seperti ini tentu saja bisa terjadi di segala usia, termasuk kita yang (dianggap) sudah dewasa, telah berpuluh tahun menjalani Ramadhan.
Bila kembali pada esensi puasa sebagai wujud empati kepada kaum dhuafa, sebenarnya kita bisa mencoba untuk lebih mendekati ‘berpuasa ala mereka’. Sahur secukupnya (bila ada yang bisa dimakan) dan berbuka secukupnya (lagi-lagi bila ada yang bisa dimakan). Sedapat mungkin tidak usah mencari yang tidak ada, karena toh bercermin pada mereka; terlalu sering dihadapkan pada ketiadaan (hal-hal yang menyenangkan). Mungkin kemenangan terletak pada saat seteguk air putih pun sudah bisa kita syukuri seperti halnya mereguk teh hijau dingin (ini saya, sih) atau thai iced tea (ini saya juga) di saat terik panas dan kehausan. Atau bisa mengunyah nasi putih dingin dan tahu goreng, sama lahapnya dengan menikmati menu hidangan lengkap sagala aya, ala resepsi pernikahan di Jakarta.
Memang, sesekali tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras kita, dalam batas kewajaran tentunya. Dalam hal ini kewajaran menjadi konsep yang memiliki parameter sangat personal, terpulang pada pengalaman masing-masing. Tak seorang pun bisa (atau berhak) menyamakan pengalaman pribadinya dengan yang lain, apalagi menyeragamkan. Di sinilah kesadaran menjalankan perintah agama menjadi sesuatu yang sangat unik, menggambarkan upaya masing-masing kita berproses untuk mendekati dan mengagungkan Sang Khalik. Sangat mesra.
Kembali ke belajar menahan lapar pada fakir miskin, intinya adalah menikmati dan mensyukuri apa yang ada. Terus berupaya keras, namun tidak berkeluh-kesah akan apa yang belum didapat. Bila puasa Ramadhan kita sudah diupayakan sedemikian rupa, setiap kali kita ingin menikmati sesuatu yang agak ‘berlebihan’, mungkin bisa muncul semacam sistem peringatan dini yang menyadarkan agar selalu berempati (pada mereka yang tak berpunya). Menikmati dengan rasa penuh syukur, menghindari sikap congkak dan sedapat mungkin berbagi. Karena berempati juga adalah berbagi, mengingat semua mahluk sama di hadapanNya. Wallahu’alam bishawab.
Selamat menikmati Ramadhan, semuanya… semoga kualitas menahan lapar kita bisa lebih meningkat, menjadikan kita mahluk-mahluk yang beruntung di sisi Allah SWT.



met beribadah puasa ya.. komentar pertama di artikel lo nih hehehe
Comment by mashengky — September 6, 2008 @ 9:19 am
horeeee…ades nulis lagi!
ditunggu kelanjutannya ya
Comment by poppy — October 17, 2008 @ 6:59 pm