karena pengen nulis…

October 23, 2007

Balada Suti

Kemarin usai maghrib, bunyi bel mengejutkan saya dari keasyikan browsing (ehm, browsing-nya sih tidak penting. toh hanya penyeimbang di antara tumpukan setrikaan dan piring kotor yang sudah memanggil-manggil minta dituntaskan segera). Di tengah harapan akan segera kembalinya Suti usai mudik Lebaran, suara di pintu pagar benar-benar terasa seperti oase buat saya. "Mbak, ini aku… Suti!"

Wah, SUTI DATANG! Bergegaslah saya membukakan pagar dengan riang gembira. "Lah, kok cepet banget baliknya? Katanya mau balik ke sini awal November?" yang ini sapaan butuh, namun tetap penuh rasa ingin tahu. Saya menatap mata Suti. Wah, itu dia… ada yang tidak beres pasti. Tidak sempat pakai firasat-firasat, kalimat-kalimat penuh duka pun mengalir dari mulutnya. Setengah menangis dia menceritakan semuanya. Bahkan, kalimat pertama sudah diucapkannya sebelum kami benar-benar masuk ke dalam rumah.

Ringkasannya adalah sebagai berikut; (1) Suti tidak jadi pulang berlebaran ke Cianjur, tempat anak dan suaminya. Ia memberanikan diri pulang ke Cirebon untuk mengobati rindu pada Ibunya, karena sudah lama tidak punya kesempatan bersua ataupun sekedar mengirimkan uang hasil keringatnya. (2) Anak dan suaminya tetap di Cianjur, karena suami menolak untuk ke Cirebon. Jadilah Suti berlebaran tanpa anak dan suami. (3) Keluarga pihak suami marah, karena Suti tidak pulang ke Cianjur. Mereka menuduh Suti tidak perhatian pada keluarganya sendiri. (4) Suti dan suami bertengkar lewat telpom. (5) Suti merasa sendiri, dalam menjalani hidup dan mencari nafkah. Selama ini memang lebih dari 70% gajinya selalu dikirimkan ke Cianjur. (6) Suti memutuskan menerima tawaran yang datang dari kerabatnya, untuk menjadi TKI di Yordania. (7) Suti mengundurkan diri sebagai pramuwisma di rumah saya.

Kening saya mau tak mau berkerut, demi mendengar paparan Suti. Terlebih karena awalnya saya mengira kembalinya Suti kali ini adalah kembali yang biasa, untuk melanjutkan membantu kami mengurus dan menjaga rumah. Ternyata, oh ternyata. Malang benar Suti, saya jatuh kasihan mendengar kisahnya. 

Dengan wajah yang masih penuh kebingungan, ia melanjutkan penjelasannya, "Malam ini juga aku mau pulang ke Cirebon. Karena nanti tanggal 3 harus berangkat, Mbak.." Semua serba mendadak. Segera ia bergegas mengemas barang-barangnya, menjadi 4 kardus besar. Dipanggilnya 2 tukang ojek, untuk menuju tempat kerabat yang menunggu. Ia pun buru-buru berpamitan, dengan meminta maaf pada saya dan suami.

Kehilangan Suti mendadak, tidak membuat saya membayangkan bagaimana repotnya tanpa ia. Yang otomatis terlintas di benak saya adalah bagaimana Suti pernah sangat berarti dan membantu hari-hari kami. Sewaktu kami akan menikah, saat saya harus sakit dan kehilangan bayi pertama kami, kemudian saya kembali belajar berjalan, dan seterusnya. Suti-lah yang menjaga rumah saat suami terus menunggui saya di rumah sakit. Suti pula yang mencucikan segala pakaian kotor saya, selama saya tidak berdaya.  

Pagi tadi, saya dan suami bersepakat untuk mencoba hari-hari tanpa pramuwisma. Kami harus bisa, dan memang harus dicoba. Toh, kami hanya tinggal berdua. Lagipula, saya sudah sepenuhnya sehat, Insya Allah. Tapi ingatan saya sepanjang hari tetap pada nasib Suti, yang sudah lama tidak dinafkahi namun harus menafkahi suami, anak dan keluarga suaminya. Tidak pernah bisa dekat dengan anaknya, karena tidak diperbolehkan oleh keluarga suaminya. Saya teringat bagaimana Suti pernah menangis, ketika suatu pagi buta anak yang tengah lelap tidur di dekapannya, direnggut dan dibawa begitu saja oleh kakak iparnya, untuk dibawa pulang ke Cianjur. "Kamu kerja aja, biar nih anak ikut saya!" demikian kalimat yang terngiang-ngiang di telinga Suti sambil termangu kosong di depan pintu ketika itu. Matanya berkaca, tapi ia seperti tak berdaya. Rupanya tokoh antagonis di sinetron memang nyata ada. Saya yang mangkel berat mendengarnya, karena saya yang selalu mendorong Suti untuk mengajak anaknya tinggal bersama dan tetap bekerja di rumah kami. Ah, Suti…  

"Beeeeeeeep!" saya terkejut mendengar bunyi ponsel sendiri. Kemudian ternganga mendengar cerita si penelpon, Teteh pemilik warung rokok di depan rumah. Baru saja ia diberitahu, bahwa Suti salah informasi. Menduga akan diberangkatkan tanggal 3, ternyata (kemungkinan) baru nanti bulan 3, alias tahun depan! Suti bingung tak menentu, tidak tahu akan ke mana selama menunggu bulan Maret 2008. Sebenarnya ia malu, namun mengatakan ingin kembali bekerja di rumah kami. Jadi, Suti minta Teteh menyampaikan keinginannya pada saya. "Boleh, nggak?" pintanya.

emoticon 

Waaaaaaah, ini baru ending yang Suti bangets! Karena membuat perasaan saya campur aduk… walaupun sejujurnya lebih didominasi oleh rasa bersyukur bahwa (setidaknya) kami belum akan kehilangan rawon, soto, nasi lengko dan lontong lezat buatan Suti. Hhhhm…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker