11 Juli dalam Ingatan
Sebelum mengalami sendiri, sungguh saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya bila tiba-tiba segala sesuatu berhenti, hilang, atau kembali ke titik nol. Bahkan di saat kita sedang merasa sangat bahagia, tidak menduga sama sekali. Ya, tentu saja saya percaya akan hal itu. Akan kekuasaan Sang Pemilik Hidup. Tapi sungguh, saat sedang sehat-sehatnya menjalani kehamilan anak pertama di awal Juni 2006 lalu, tidak pernah selintas pun terbersit di benak saya bahwa akan ada hari-hari yang begitu hitam. Pekat. Bukan sekedar kelabu.
Hari itu sudah berjarak tepat satu tahun. 11 Juli 2006, hari Selasa, adalah hari kemerdekaan yang terasa luar biasa buat saya. Akhirnya, dokter mengizinkan saya untuk pulang dari rumah sakit, setelah semua kejadian dan mimpi buruk berlalu.
Masih jelas dalam ingatan, bagaimana berhari-hari sebelumnya saya selalu berharap dan berdoa, akan segera diizinkan pulang. Setiap larut malam adalah keinginan untuk segera datang esok hari, dimana hari baru akan dimulai dan peluang untuk pulang semakin besar. Empuknya kasur di rumah yang beralaskan seprei bersih dan wangi selalu membayangi benak. Saya benar-benar ingin kehidupan normal seperti dulu. Di rumah dengan suami, berbagi cerita dan menjalani hari-hari bersama. Tanpa infus, suntikan, kunjungan rutin dokter, resep ini itu, lalu lalang para perawat dan tatapan iba para pembesuk.
Sekitar 3-4 hari sebelum pulang, saya mulai belajar untuk berdiri. Sedikit demi sedikit. Sebelumnya saya tidak bisa bangkit tanpa bantuan. Mengangkat tubuh sendiri adalah persoalan serius, karena duduk untuk satu menit saja saya langsung merasa pusing, seperti akan pingsan. Mampu berdiri di atas kaki sendiri seperti mimpi indah, too good to be true. Langkah pertama yang menjejak waktu itu mungkin hampir sama berartinya seperti pijakan perdana Neil Amstrong di bulan. Bombastis, kan?
Saat kepastian pulang didapat, mandi di pagi hari waktu itu saya lakoni dengan warna semangat seperti menyambut Lebaran atau lulus sidang skripsi. Yeeeah… pulang!!! Saya tidak peduli bahwa warna kerudung dan kemeja yang dikenakan sama sekali jauh dari matching. Hanya satu fokus di kepala: PULANG. Detik berikutnya, menunggu kursi roda datang terasa begitu lama.
Menit demi menit perjalanan keluar dari kamar, lift, menuju lobby di lantai bawah dan menunggu mobil datang, saya resapi dengan seksama. Semua memang masih terasa mengambang. Banyak orang lalu lalang, namun tidak terasa nyata ada di sekitar saya. Ketika akhirnya saya masuk dan duduk di dalam mobil, saya merasa tubuh saya sangat kecil. Mobil begitu terasa besar dan saat melaju saya bagai terombang-ambing di dalam kapal yang besar. Aneh sekali. Begitu pula saat tiba di rumah, saya merasa sangat mungil dan ringkih. Lamat-lamat saya pandangi tiap sudut ruang di rumah, seperti berada di dalamnya untuk pertama kali. Sensasi yang sama sekali belum pernah saya alami.
Pengalaman saya jelas tidak sekompleks Sarah Scantlin yang baru bisa bangun dari koma setelah 20 tahun. Tertabrak pengemudi mabuk di usia 18 tahun dan terbangun di dekade yang berbeda (sampai ia begitu yakin bahwa John Travolta jauh lebih tampan dibandingkan Tom Cruise). Terlebih bila dibandingkan dengan nasib tragis Elaine Esposito yang tidak pernah terbangun lagi sejak usia 6 tahun, setelah menjalani pembiusan pada operasi usus buntu. Elaine akhirnya meninggal 37 tahun kemudian, di usianya yang ke 43. Alhamdulillah, nasib saya masih jauh lebih baik. Atas izinNya, suami, keluarga dan sahabat-sahabat saya tidak harus menunggu selama dan seputus asa itu. Namun tetap sangat mendalam dan begitu berharga pelajaran yang saya peroleh. Hingga ke detik ini, dimana saya bisa sehat, sibuk bekerja kembali dan… nge-blog tentunya!



Udah setahun ya, Des? Alhamdulillah banget, loe masih dikasih kesempatan hingga hari ini
Semoga cepat dikasih kesempatan dapat momongan juga
Comment by -may- — July 31, 2007 @ 4:33 pm
Sory banget Des, gw baru tauk kejadiannya pas kmaren lo cerita di acara buka puasa bareng alumni 31. Ngingetin gw untuk terus bersyukur atas apa yg udah gw dapat dan gak merasa yg paling menderita kalo lg dpt cobaan
Comment by anis — October 8, 2007 @ 8:40 am