Iko
Suatu hari di bulan Juli 2003, salah seorang adik saya berlari-lari ke dalam rumah dan kemudian segera bergegas keluar lagi setelah mengambil kamera. “Iko hebat banget! Keren abisss….”
Si Iko, ngapain lagi… baru kemarin berulah dan melempar-lempari setiap orang yang lewat, pikir saya. Keberadaan Iko di warung rokok itu memang menjadi atraksi tersendiri. Ada yang takut, namun lebih banyak yang gemas dan geli melihat ulahnya.
Setelah melihat hasil kerja paparazzi memburu Iko, saya benar-benar terkesima. Terkesan. Bukan pada kualitas bidikan. Tapi pada Iko. Si pelakon adegan. Hebat dia… entah dari mana dua mahluk mungil kucel itu datang, tapi (kelihatannya) dengan sepenuh hati Iko menjaga, menyayangi, dan bahkan menyusui mereka. Dan hal tersebut ternyata tidak hanya berlangsung satu-dua hari. Saya pikir Iko hanya bisa berisik dan mencari kutu. Saya telah meremehkan Iko selama ini.

Saya selalu senang membaca tulisan-tulisan Mbak Hany soal ASI. Bagi saya perjuangan seorang Ibu itu luar biasa indah, dan salah satunya adalah pada saat ia berusaha memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. Meski kesempatan itu belum datang, mudah-mudahan pada waktunya nanti saya tetap punya semangat dan energi untuk berjuang. Setidaknya, Iko sudah memberi contoh nyata. Iya, kan Ko?
Dia baik-baik saja, masih ceria, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan ajaib penuh rasa ingin tahu dan kepolosan. Lengkap dengan matanya yang berulangkali mengerjap saat mencoba untuk memahami penjelasan.
Ini dia judul-judulnya…


