karena pengen nulis…

March 22, 2007

Saat Terakhir

Setelah hari-hari itu, kematian selalu terasa dekat bagi saya. Tidak asing, tidak menakutkan, tapi selalu menyentak. Sangat mungkin karena saya pribadi merasa belum cukup bekal untuk menghadapNya. Masih minim amal ibadah.

Kemarin, seorang tetangga berpulang ke Rahmatullah. Kebetulan saya dan almarhum menghuni ruang ICU di rumah sakit yang sama. Yang paling mengusik saya adalah cerita bahwa dalam kondisi yang kritis, keluarga tetap tidak diizinkan untuk masuk kecuali pada jam besuk. Semua akses masuk tertutup rapat. Hingga akhirnya keluarga baru mengetahui pasien sudah tiada, setelah beberapa waktu berlalu. Demikian ketatnya peraturan di ICU, di satu sisi saya yakin hal tersebut diterapkan atas dasar kepentingan pasien juga. Dalam kondisi yang kritis dan rentan terhadap infeksi, memang sebaiknya tidak sembarang orang diizinkan masuk. Namun saya juga sangat bisa memahami kekecewaan keluarga, yang tidak diizinkan untuk mendampingi saat-saat terakhir pasien. Bagaimanapun, mengantar orang tercinta menghadap Sang Pencipta adalah keinginan (dan hak, bolehkah saya menyebut demikian?) yang sangat pribadi dan mendasar. Ketika hal tersebut tidak dimungkinkan, sungguh tidak ada apapun di muka bumi yang bisa menggantikannya. Karena tidak pernah ada kesempatan kedua untuk hal tersebut. Tidak ada bilangan rupiah, dollar, atau uang emas sekalipun yang bisa menominalkan keberartian momen tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan keyakinan yang dianut masing-masing pribadi. Kebetulan saya (dan almarhum) adalah muslim, kami memandang begitu pentingnya menjelang maut dengan mengingat kuasaNya. Hanya mengingat Allah.

pintu itu 

Selesai berbelasungkawa kemarin, Ibu kembali mengingat saat-saat beliau menghadapi situasi yang serupa. Melihat kondisi yang kian kritis, salah seorang perawat membisikkan pada Ibu bahwa batas usia saya sudah sangat dekat. Hanya hitungan jam, mengingat fungsi hampir seluruh organ vital semakin menurun. Tersentak oleh kenyataan tersebut, Ibu pun meminta untuk diperbolehkan mendampingi saat-saat (yang diduga sebagai) akhir hidup saya, tidak hanya pada jam besuk. Seperti bisa ditebak, jawabannya adalah: TIDAK BOLEH. Ibu pun histeris dan menjerit, memohon dengan sangat. Semua dokter terdiam. Taat prosedur. Atau mungkin menutup pintu hati mereka. Atau mungkin juga menggembok, kemudian membuang kuncinya jauh-jauh. Hilang, bilang saja begitu biar mudah. Saya terpaksa berprasangka buruk dalam hal ini.

Di tengah kegalauan, dokter spesialis bedah yang mengoperasi saya mencoba menenangkan dan memberi izin khusus kepada Ibu. Beliau juga memberikan nomor ponsel pribadinya (terima kasih dr. Cosmas! :) ). Seperti cahaya di tengah pekatnya kegelapan, itu yang Ibu rasakan ketika akhirnya bisa menemani, membacakan ayat-ayat suci dan nama Allah di telinga saya yang tengah koma. Setidaknya beliau bisa lega di tengah kegamangan. Ada ruang yang memungkinkannya merasa pasrah dan ikhlas, menyandarkan penuh segalanya pada Ilahi. Apakah keinginan seperti itu masih dianggap berlebihan? Saya kok tetap merasa hati nurani tetap perlu hidup di tengah ketegasan menegakkan aturan dan prosedur. Sedikit, saja.

March 1, 2007

Keberuntungan Masa Kecil

Filed under: Asal Muasal, Bocah

Saya selalu merasa sebagai orang yang beruntung. Tentu jelas, ini bukan berarti tidak ada kemalangan dalam hidup saya. Hanya saja –entah mengapa, tetap saya merasa bahwa kemalangan adalah belum beruntungnya saya. Persis seperti kupon undian yang dikerik dengan uang logam: “anda belum beruntung”. Jadi, tetap saya GR berkelanjutan. Merasa selalu masih beruntung dalam hidup. Tapi untuk kupon undian, saya tidak pernah berminat untuk mencoba yang ketiga kali. Cuma sampai dua, boleh lah. Hihihi…

Salah satu keberuntungan yang saya ingat: masa kecil yang menyenangkan. Punya banyak sahabat, teman bermain, rumah dan halaman yang luas. Dengan minimnya tayangan TV, hari-hari semasa SD kami habiskan dengan bermain di luar rumah. Main dineboy, slodor, asinan dan ajakan tutup. Maaf, itu semua perbendaharaan kata dari daerah. Di Jakarta mungkin dulu dikenal dengan permainan boy, gobak sodor, engklek dan petak umpet. Buat tubuh-tubuh kecil kami, halaman rumah cukup luas untuk berlari hingga terengah-engah. Lalu menjerit dan tertawa sekeras-kerasnya, ketika tempat persembunyian ditemukan oleh lawan main. Bosan bermain di halaman, ada jalan-jalan sepi yang mulus beraspal, cukup aman untuk dilalui dengan bersepatu roda. Kami hanya masuk ke rumah untuk menonton Si Unyil (itu pun belum sampai pada episode Ableh).

Ketika kami mulai membaca Sapta Siaga dan Lima Sekawan, lagi-lagi sarana bermain dan berkhayal tersedia. Mau ‘mendaki gunung’, ada bukit-bukit kecil di belakang rumah. Ingin mencoba ‘kereta salju’, tinggal mencari kardus bekas dan kemudian meluncur dari puncak bukit yang paling tinggi. Semak, pohon, alang-alang, juga gua-gua kecil bukan hal yang asing bagi kami. Bahkan di sekitar rumah masa kecil saya yang keempat, ada aliran sungai kecil yang bisa ‘dijelajahi’ sambil berkhayal, bahwa kami sedang di Pulau Kirrin, milik Georgina. Rengekan kami pada para orang tua waktu itu adalah: tenda, tikar, senter besar (agar terlihat keren!) dan peta langit (yang ini dibeli di Planetarium Jakarta). Untuk berkemah dan menikmati malam hari libur, di halaman sendiri. :)

Ingin rasanya menyaksikan anak-anak saya nanti bisa mencecap pengalaman masa kecil yang serupa. Dengan kesempatan untuk berlari sekuat-kuatnya, menghirup nafas dalam, memenuhi paru-paru dengan udara yang masih segar. Melihat Jakarta saat ini, mungkin hanya sesekali tentu saja. Eh, masih muluk juga ya?

(terima kasih buat Emaknya HaHa, yang memunculkan photo-photo di atas beserta online tutorialnya)

Cepatu Capa Ya?

Filed under: Bocah

cepatu cipaaaa

Tiba-tiba saja saya kangen. Dengan pemilik sepasang sepatu ini. Penikmat Silver Queen Chunky yang selalu membuang butiran kacang di dalamnya. Oh, ya.. dia sudah bisa memilih sendiri baju yang disukai, suatu hari di sebuah pasar di Medan. Warnanya pink, bergambar Strawberry Shortcake.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker