Saat Terakhir
Setelah hari-hari itu, kematian selalu terasa dekat bagi saya. Tidak asing, tidak menakutkan, tapi selalu menyentak. Sangat mungkin karena saya pribadi merasa belum cukup bekal untuk menghadapNya. Masih minim amal ibadah.
Kemarin, seorang tetangga berpulang ke Rahmatullah. Kebetulan saya dan almarhum menghuni ruang ICU di rumah sakit yang sama. Yang paling mengusik saya adalah cerita bahwa dalam kondisi yang kritis, keluarga tetap tidak diizinkan untuk masuk kecuali pada jam besuk. Semua akses masuk tertutup rapat. Hingga akhirnya keluarga baru mengetahui pasien sudah tiada, setelah beberapa waktu berlalu. Demikian ketatnya peraturan di ICU, di satu sisi saya yakin hal tersebut diterapkan atas dasar kepentingan pasien juga. Dalam kondisi yang kritis dan rentan terhadap infeksi, memang sebaiknya tidak sembarang orang diizinkan masuk. Namun saya juga sangat bisa memahami kekecewaan keluarga, yang tidak diizinkan untuk mendampingi saat-saat terakhir pasien. Bagaimanapun, mengantar orang tercinta menghadap Sang Pencipta adalah keinginan (dan hak, bolehkah saya menyebut demikian?) yang sangat pribadi dan mendasar. Ketika hal tersebut tidak dimungkinkan, sungguh tidak ada apapun di muka bumi yang bisa menggantikannya. Karena tidak pernah ada kesempatan kedua untuk hal tersebut. Tidak ada bilangan rupiah, dollar, atau uang emas sekalipun yang bisa menominalkan keberartian momen tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan keyakinan yang dianut masing-masing pribadi. Kebetulan saya (dan almarhum) adalah muslim, kami memandang begitu pentingnya menjelang maut dengan mengingat kuasaNya. Hanya mengingat Allah.
Selesai berbelasungkawa kemarin, Ibu kembali mengingat saat-saat beliau menghadapi situasi yang serupa. Melihat kondisi yang kian kritis, salah seorang perawat membisikkan pada Ibu bahwa batas usia saya sudah sangat dekat. Hanya hitungan jam, mengingat fungsi hampir seluruh organ vital semakin menurun. Tersentak oleh kenyataan tersebut, Ibu pun meminta untuk diperbolehkan mendampingi saat-saat (yang diduga sebagai) akhir hidup saya, tidak hanya pada jam besuk. Seperti bisa ditebak, jawabannya adalah: TIDAK BOLEH. Ibu pun histeris dan menjerit, memohon dengan sangat. Semua dokter terdiam. Taat prosedur. Atau mungkin menutup pintu hati mereka. Atau mungkin juga menggembok, kemudian membuang kuncinya jauh-jauh. Hilang, bilang saja begitu biar mudah. Saya terpaksa berprasangka buruk dalam hal ini.
Di tengah kegalauan, dokter spesialis bedah yang mengoperasi saya mencoba menenangkan dan memberi izin khusus kepada Ibu. Beliau juga memberikan nomor ponsel pribadinya (terima kasih dr. Cosmas!
). Seperti cahaya di tengah pekatnya kegelapan, itu yang Ibu rasakan ketika akhirnya bisa menemani, membacakan ayat-ayat suci dan nama Allah di telinga saya yang tengah koma. Setidaknya beliau bisa lega di tengah kegamangan. Ada ruang yang memungkinkannya merasa pasrah dan ikhlas, menyandarkan penuh segalanya pada Ilahi. Apakah keinginan seperti itu masih dianggap berlebihan? Saya kok tetap merasa hati nurani tetap perlu hidup di tengah ketegasan menegakkan aturan dan prosedur. Sedikit, saja.





