Cibang-Cibung
Pagi hari tadi, akhirnya yang ditunggu-tunggu selama seminggu lebih datang juga menyambangi kami. Olala.. laiknya seperti tamu agung saja. Itulah, kalau tidak ada baru terasa keberartiannya. Apa itu? Air bersih! Horeeeee…… 
Sebagai penduduk Jakarta, saya merasa sangat beruntung. Di tengah bencana banjir yang melumpuhkan banyak bagian kota besar ini (dan bahkan merenggut kehidupan banyak orang), rumah yang saya (dan suami baik hati) diami sama sekali tidak tersentuh oleh genangan banjir. Listrik masih terus menyala sepanjang waktu, demikian juga saluran telpon dan internet.
Satu-satunya kemalangan (kalaupun bisa dikatakan begitu), adalah terhentinya jaringan air PAM. Pada akhirnya, saya juga tidak merasa hal tersebut sebagai ketidakberuntungan. Bagaimana tidak, saya toh masih bisa mengungsi sebentar untuk mandi di rumah orangtua, yang kebetulan hanya berjarak sekitar 200m. Dan kemudian menikmati air bersih, masih sepuas-puasnya. Maklum, air tanah di rumah kami tidak layak pakai. Seperti mandi di sawah, saya mengutip komentar Suti.
Mengetahui pagi tadi air bersih sudah kembali mengalir, aah…. nikmat sekali rasanya mandi. Seperti mandi sungguhan yang pertama kali yang saya nikmati, setelah bisa kembali berdiri tegak (walaupun kaki masih gemetar) dan mengangkat gayung dengan tangan sendiri. Bukan di atas tempat tidur, hanya dengan sekaan washlap para perawat ICU… (nggak lagi-lagi, ah!)
Alhamdulillah,… untuk air dan mandi hari ini.
Semoga semakin banyak lagi penduduk Jakarta yang bisa ’seberuntung’ kami. Tidak banjir dan tersedia air bersih. Itu saja dulu.



Waduuuh…. coba Des, cobaaa… Kalo kejadiannya pas Haifa dateng kayak waktu itu gimana Desss… Kalo gak ada PAM, gimana. Minta dari kolam renang, yah. Hehehhe..
Comment by Hany — February 16, 2007 @ 5:38 am
Kebanjiran ya, Des? Gw untungnya nggak pakai PAM, jadi cuma pas banjir besar itu aja airnya agak jelek, setelah itu bagus lagi.
Comment by -mayp — February 16, 2007 @ 4:04 pm