Menuju Jl.Lada
Terus terang, kemarin saya sempat was-was saat menerima penugasan di salah satu kantor klien. Bukan apa-apa, wuiiih… jauhnya itu lho dari rumah. Ini pengalaman pertama saya bepergian sejauh itu di dalam kota, setelah terkapar kemarin. Dengan kapasitas batere yang agak menurun, saya harus tahu diri. Ukur-ukur kekuatan. Tapi menolak kesempatan buat ‘menjelajah’ lagi, no way. Penasaran juga soalnya. Rasanya kalau tidak dicoba, tidak akan pernah tahu daya tahan saya yang sebenarnya. Kekhawatiran pun bersliweran sejak satu-dua hari sebelumnya. Apa iya, saya bisa sampai ke sana tepat waktu, tanpa macet, lelah dan sebagainya? Kalau seputaran Kuningan-Semanggi-Gatsu sih, no problemo. Ongkos taksi masih bersahabat. Mau diantar suami pun, menuju kawasan sana pasti macet luar biasa tak terkira, terlalu banyak energi yang terbuang. Lama di jalan, kasihan nanti kalau suami saya terlambat sampai kembali di kantornya.
Malam sebelumnya, suami baik hati melontarkan ide cemerlang: naik busway aja, yuk! Maksudnya TransJakarta. Akhirnya, kejadian deh. Hari ini saya naik kendaraan umum non-taksi untuk pertama kali, setelah sembuh. Sebelum sakit, jangan ditanya. Saya sudah kenyang naik angkot, mikrolet, metromini, bajaj, ojek, bus, bemo, sampai KRL. Tidak duduk, bukan masalah. Sepenuhnya percaya diri dengan kekuatan pijakan kuda-kuda saya, yang sudah teruji dalam perjalanan sekian tahun, melintasi rel Depok-Jakarta. Yakin, tidak kalah dengan para pengasong deh…
Pagi tadi, setelah memarkir mobil di salah satu gedung jangkung, saya ditemani suami menuju kawasan Kota. Jujur nih, ada sensasi tersendiri. Seperti menjalani semuanya untuk pertama kali. Saya menghayati setiap langkah, mendalam. Ah, senangnya… alhamdulillah bisa berjalan lagi. Beraktivitas lagi, seperti kebanyakan orang. Seperti sebelumnya!
Suara gedumbrengan dari lantai di jembatan menuju halte busway mengiringi langkah saya. Iya, lantainya ramai seperti kaleng. Kalau hujan, akan licin dan agak membahayakan sepertinya. Untung saya bukan penggemar stiletto. Hiks!
Melaju di jalur khusus, ada perasaan senang dan menang melewati kemacetan Jakarta yang semrawut. Asik, gue duluan doong..
Sedikit norak, saya terkagum dengan interchange Harmoni yang ternyata sudah rampung. Suami pun berperan sebagai guide. Ooh… baru tahu saya. Sekarang rupanya sudah bisa menjelajah dari Pulo Gadung-Harmoni, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pilihan Kali Deres atau Blok M. 3500 perak, coy!
Sampai di lokasi, ternyata bukan cuma saya yang kampungan. Hampir semua teman pun bercerita tentang nikmatnya ber-busway-ria. Murah, (cukup) bersih dan nyaman. Untuk ukuran Jakarta tentunya. Memang untuk saat ini kenyamanannya belum menyeluruh. Begitu keluar TransJakarta, kembali debu dan terik menghadang. Kemacetan ditimpali dengan ramainya klakson. Pedagang asongan masih semrawut di sana-sini. Sangat Jakarta. Menyadarkan kembali bahwa masih berada di kota ini, saya sangat sulit menemukan tempat penyeberangan yang shahih. Akhirnya kami pun menyeberang dimana ada celah. Oh, ya.. lengkap dengan seliweran motor yang terkesan tidak rela untuk memberi kesempatan pada pejalan kaki.
Suami masih menggandeng tangan saya, ketika saya berulang kali bertanya, “Ini beneran nggak ada tempat nyebrang ya? Kita boleh nggak sih nyebrang di sini?” Saya akhirnya tahu itu pertanyaan sia-sia, karena ternyata bersama kami ada sejuta umat ikut berjuang menerobos lalu lintas yang padat. Kekacauan kolektif, yang tidak (atau belum) dipandang sebagai anomali di Jakarta.
Syukurlah, saya bisa survive sehari tadi. Walaupun setelah turun TransJakarta, terpaksa saya harus kembali mengandalkan taksi untuk bisa sampai dengan ‘utuh’ di rumah. Ongkosnya? Yaa.. hampir 15 kali lipat dari ber-busway-ria, lah. Wwffuiih!!

Sebenarnya sudah lewat 4 hari yang lalu. Buat saya, tanggal hanya sekedar tanggal sih. Suami baik hati juga merasa begitu, ternyata. Kami sama-sama mensyukuri 2 tahun pernikahan kami, walau nyaris tanpa seremonial apapun. Semua seperti hari biasa, hari yang patut disyukuri karena merupakan satu lagi hadiah dariNya. Mengawali 18 September, kesibukan utama kami pada Senin kemarin adalah di rumah sakit. Duh, rumah sakit lagi… si Ades! Bukan, kali ini hanya sekedar cek darah di lab. Menjelang puasa, ingin tahu juga bagaimana kondisi kesehatan saya yang terakhir (Insya Allah, kalau memungkinkan saya ingin menjalankan Ramadhan dengan penuh). 


Si Ibu rupanya lalu bergegas, masuk ke dalam rumahnya. Kemudian menelpon ke rumah orangtua saya meminta kepastian, “Itu bener ya Deasy yang jalan, pake kaos hijau, sama suaminya? Bener gitu? Wah, tadi takut salah liat…”


