karena pengen nulis…

September 29, 2006

Menuju Jl.Lada

Terus terang, kemarin saya sempat was-was saat menerima penugasan di salah satu kantor klien. Bukan apa-apa, wuiiih… jauhnya itu lho dari rumah. Ini pengalaman pertama saya bepergian sejauh itu di dalam kota, setelah terkapar kemarin. Dengan kapasitas batere yang agak menurun, saya harus tahu diri. Ukur-ukur kekuatan. Tapi menolak kesempatan buat ‘menjelajah’ lagi, no way. Penasaran juga soalnya. Rasanya kalau tidak dicoba, tidak akan pernah tahu daya tahan saya yang sebenarnya. Kekhawatiran pun bersliweran sejak satu-dua hari sebelumnya. Apa iya, saya bisa sampai ke sana tepat waktu, tanpa macet, lelah dan sebagainya? Kalau seputaran Kuningan-Semanggi-Gatsu sih, no problemo. Ongkos taksi masih bersahabat. Mau diantar suami pun, menuju kawasan sana pasti macet luar biasa tak terkira, terlalu banyak energi yang terbuang. Lama di jalan, kasihan nanti kalau suami saya terlambat sampai kembali di kantornya.

Malam sebelumnya, suami baik hati melontarkan ide cemerlang: naik busway aja, yuk! Maksudnya TransJakarta. Akhirnya, kejadian deh. Hari ini saya naik kendaraan umum non-taksi untuk pertama kali, setelah sembuh. Sebelum sakit, jangan ditanya. Saya sudah kenyang naik angkot, mikrolet, metromini, bajaj, ojek, bus, bemo, sampai KRL. Tidak duduk, bukan masalah. Sepenuhnya percaya diri dengan kekuatan pijakan kuda-kuda saya, yang sudah teruji dalam perjalanan sekian tahun, melintasi rel Depok-Jakarta. Yakin, tidak kalah dengan para pengasong deh:P

Pagi tadi, setelah memarkir mobil di salah satu gedung jangkung, saya ditemani suami menuju kawasan Kota. Jujur nih, ada sensasi tersendiri. Seperti menjalani semuanya untuk pertama kali. Saya menghayati setiap langkah, mendalam. Ah, senangnya… alhamdulillah bisa berjalan lagi. Beraktivitas lagi, seperti kebanyakan orang. Seperti sebelumnya! :D Suara gedumbrengan dari lantai di jembatan menuju halte busway mengiringi langkah saya. Iya, lantainya ramai seperti kaleng. Kalau hujan, akan licin dan agak membahayakan sepertinya. Untung saya bukan penggemar stiletto. Hiks!

busway, gitu loh 

Melaju di jalur khusus, ada perasaan senang dan menang melewati kemacetan Jakarta yang semrawut. Asik, gue duluan doong.. :P Sedikit norak, saya terkagum dengan interchange Harmoni yang ternyata sudah rampung. Suami pun berperan sebagai guide. Ooh… baru tahu saya. Sekarang rupanya sudah bisa menjelajah dari Pulo Gadung-Harmoni, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pilihan Kali Deres atau Blok M. 3500 perak, coy!

Sampai di lokasi, ternyata bukan cuma saya yang kampungan. Hampir semua teman pun bercerita tentang nikmatnya ber-busway-ria. Murah, (cukup) bersih dan nyaman. Untuk ukuran Jakarta tentunya. Memang untuk saat ini kenyamanannya belum menyeluruh. Begitu keluar TransJakarta, kembali debu dan terik menghadang.  Kemacetan ditimpali dengan ramainya klakson. Pedagang asongan masih semrawut di sana-sini. Sangat Jakarta. Menyadarkan kembali bahwa masih berada di kota ini, saya sangat sulit menemukan tempat penyeberangan yang shahih. Akhirnya kami pun menyeberang dimana ada celah. Oh, ya.. lengkap dengan seliweran motor yang terkesan tidak rela untuk memberi kesempatan pada pejalan kaki. emoticon Suami masih menggandeng tangan saya, ketika saya berulang kali bertanya, “Ini beneran nggak ada tempat nyebrang ya? Kita boleh nggak sih nyebrang di sini?” Saya akhirnya tahu itu pertanyaan sia-sia, karena ternyata bersama kami ada sejuta umat ikut berjuang menerobos lalu lintas yang padat. Kekacauan kolektif, yang tidak (atau belum) dipandang sebagai anomali di Jakarta.

Syukurlah, saya bisa survive sehari tadi. Walaupun setelah turun TransJakarta, terpaksa saya harus kembali mengandalkan taksi untuk bisa sampai dengan ‘utuh’ di rumah. Ongkosnya? Yaa.. hampir 15 kali lipat dari ber-busway-ria, lah. Wwffuiih!!

September 26, 2006

Satu Pohon Lagi

Filed under: Pondok Kelapa, Suti, CurHat

Satu pohon lagi ditebang, di sebelah rumah saya. Punya tetangga, sih… (emang kenapa juga kalo ybs pengen rumahnya lebih klimis? suka-suka, dong ah..). Tapi, tidak bisa tidak. Selalu saya berduka cita mendalam, setiap ada pohon yang dihabisi. Faktanya, memang semakin hari terasa Jakarta semakin terik, jauh dari kesejukan. Mengganggu sedikit, pohon yang dikorbankan. Padahal pohon kan butuh waktu lama untuk tumbuh besar. Selama dia hidup, begitu banyak manfaatnya buat orang-orang di sekitar. Yah, tentu saja ada beberapa efek samping yang mungkin kurang menyenangkan buat sejumlah orang. Katanya, nih… daun-daunnya selalu berantakan, bikin kotor, menghalangi pandangan, tidak estetis, alasan ini dan itu yang lain pun berlanjut. Sudahlah, kalau memang tidak suka, memang akan lebih banyak terlihat yang negatif. Mau bagaimana lagi?

jangan ditebang lagi 

Mei 2004, sebidang tanah segitiga di depan rumah saya masih dihuni oleh beringin. Pohonnya besar dan sangat rindang. Salah satu yang membuat saya senang dan jatuh cinta dengan rumah ini adalah pohon tersebut. Pagi hari, ramai sekali burung gereja bermain di atasnya. Di siang hari yang panas, angin tetap semilir berhembus ke dalam ruang-ruang di rumah, bahkan hingga lantai atas. Teduh rasanya melihat ada ‘pohon kehidupan’ di depan rumah. Saat letih, beberapa pedagang keliling kerap beristirahat di bawahnya, hingga pulas. Nyaman sekali, terdengar dengkurannya dari dalam rumah saya. Mungkin untuk sesaat, mereka bisa lupa akan dagangannya yang belum juga laku atau rengekan anaknya yang meminta tunggakan uang sekolah dilunasi segera.

Sekitar April 2005, beringin itu sedikit meranggas. Daun-daunnya banyak berguguran. Sedikit khawatir melihatnya, tapi saya pikir itu proses biasa dan tidak lama lagi pasti akan kembali lebat. Ternyata saya salah. Ini menyedihkan. Beringin ditebang habis, atas inisiatif salah satu penghuni kompleks. Terlalu banyak daun jatuh, lelah menyapunya. Begitu saja alasannya. Nggak asik, ya? Akhirnya pohon itu meninggal dunia, untuk selama-lamanya. Berhari-hari saya kesal. Menangis juga sih, dengan culunnya. Menurut saya kepergian si pohon dengan cara yang tidak layak sangat menyedihkan. Kenapa sih, usia yang begitu panjang tidak dihargai? Sebagai kehidupan, sebagai karuniaNya? Dia ada di taman kecil itu kan untuk membagikan udara sejuk dan hembusan angin kepada sekitarnya. Saya tidak habis pikir. Sungguh.

Akhirnya semua terang, benderang dan gersang. Kerapian yang kering. Bersih, tapi tidak menyejukkan. Di taman kecil itu hanya tersisa sederet tanaman teh-tehan. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu, beberapa minggu yang lalu deretan tumbuhan itu pun dihabisi. Dua orang lelaki membakar tumpukan ranting dan mengecat pembatas di tepi taman. Habislah sudah. Tanpa kompromi, tindakan itu diambil begitu saja. Setengah marah, saya menggerutu, "Mau apa lagi, sih orang-orang itu?"

Suti yang kebetulan di dekat saya pun merespon, "Nggak tau, tuh…" Ia melanjutkan, "Katanya, kalo nggak dibikin TK, mau dibikin Taman Kanak-Kanak, sih…"

"Lho?" itu respon standar saya, saat bingung mendengarkan penjelasan Suti. Aneh rasanya kalau di tempat semini itu didirikan bangunan.

"Iya, itu lho Mbak… yang ada ayunan sama perosotannya, tempat maen bocah. Itu TK atau Taman Kanak-Kanak, sih namanya?" mata Suti pun mengerjap menunggu jawaban saya.

emoticon 

September 23, 2006

Selamat Datang Ramadhan

Filed under: CurHat

Suami saya beberapa waktu yang lalu bercerita, menyampaikan uraian dari salah seorang ustadz, bahwa selama hidup Rasulullah hanya mengalami sekitar 8 atau 9 kali Ramadhan. Demikian pula para sahabat, tidak ada yang sampai 20 kali melalui Ramadhan. Wah, kami langsung sama-sama berhitung. Saya sendiri, selama hidup sudah bertemu 33 Ramadhan. Yah, sekitar bilangan itulah. Mulai berpuasa di kelas-kelas awal SD, sekitar usia 7 tahun. Kalau dihitung sejak baligh, mungkin saya punya 19 Ramadhan dalam hidup. Hampir yakin, walaupun selalu terasa sejuk dan menyenangkan, belum ada rasanya Ramadhan saya yang benar-benar optimal termanfaatkan. Yaaah… Ades gitu, lho!

Malam ini, baru saja tarawih pertama diselesaikan. Besok, sahur pertama. Allah bermurah hati memberi saya kesempatan satu kali lagi. Semoga kali ini lebih baik dari 33 Ramadhan sebelumnya.

Mohon maaf lahir & batin, semoga Ramadhan ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Selamat beribadah, teman-teman… emoticon

September 22, 2006

Untuk 18 September

Filed under: CurHat

emoticon Sebenarnya sudah lewat 4 hari yang lalu. Buat saya, tanggal hanya sekedar tanggal sih. Suami baik hati juga merasa begitu, ternyata. Kami sama-sama mensyukuri 2 tahun pernikahan kami, walau nyaris tanpa seremonial apapun. Semua seperti hari biasa, hari yang patut disyukuri karena merupakan satu lagi hadiah dariNya. Mengawali 18 September, kesibukan utama kami pada Senin kemarin adalah di rumah sakit. Duh, rumah sakit lagi… si Ades! Bukan, kali ini hanya sekedar cek darah di lab. Menjelang puasa, ingin tahu juga bagaimana kondisi kesehatan saya yang terakhir (Insya Allah, kalau memungkinkan saya ingin menjalankan Ramadhan dengan penuh). 

Perjalanan ke rumah sakit yang biasa ditempuh dengan hanya 45 menit, saat itu harus kami lalui selama sekitar 2,5 jam. Kemacetan Jakarta yang lagi-lagi tidak berpola, tidak menentu dan asli semau gue. Syukurlah, saya menghabiskan waktu bersama suami baik hati. 2 tahun kan sedang lucu-lucunya… :P   Tidak usah setahun, dua tahun, sehari-dua hari pun buat saya sangat berarti. Satu jam, satu menit, bersama pasangan adalah alhamdulillah. Saya sangat bersyukur Allah mengirimkan dia buat saya. Di saat-saat terburuk saya beberapa bulan yang lalu, suami baik hati selalu menemani, sabar dan menguatkan saya untuk tetap optimis. Bahkan di saat saya merasa mirip Bride of Frankenstein, ia menyadarkan saya untuk selalu bersyukur atas segala yang telah ada.


 

Suami baik hati, terima kasih untuk 2 tahun-nya ya..  Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan ridhoNya pada pernikahan kita. 4 hari kemarin, sih.. tapi feeling saya belum kadaluarsa. emoticon

September 17, 2006

Ikan Asin

Filed under: Cemal-Cemil, Suti

Suatu waktu saya dan Ibu membahas kenikmatan salah satu hidangan yang tersaji di rumah makan Padang, Sederhana tepatnya. Ikan asin, pete bakar, irisan kulit pete bakar dan sambal yang mirip dengan sambal ijo. Tidak terlalu ingat bagaimana komposisi sebenarnya, kami berdua terus asyik mereka-reka sambil membayangkan nikmatnya menyantap ikan asin tersebut dengan nasi panas. Hhhmmm….

Saat Suti melintas, rupanya ia turut menyimak obrolan kami. Ketika Ibu pulang ia pun bertanya pada saya, “Mbak, ikan asin itu belinya dimana?”

“Di Sederhana, lah…”

“Sederhana?”

“Iya, itu nama warung Padang,” jelas saya singkat.

Oooh….” Suti manggut-manggut sambil tersenyum.

“Kenapa emang?” saya agak heran. emoticon

“Aku kirain ikan asin sederhana itu ikan asin yang nggak terlalu asin. Sederhana tuh nggak digaremin, aku kira tadi…” Suti pun sontak cekikikan sendiri, tanpa meneruskan argumennya.

September 16, 2006

Percaya Nggak Percaya

Ini kejadian (nyaris) rutin, saat saya jalan pagi bersama suami. Ada satu hal yang saya kira sudah ‘mereda’, tapi ternyata belum sepenuhnya. Terjadi berulangkali, setiap kami berdua berjalan seputar perumahan: banyak orang yang terkejut melihat saya. Beberapa bahkan sampai melongo, susah payah meyakinkan bahwa yang berjalan itu benar-benar saya. Si Ades tea.

Sebenarnya sudah cukup lama saya pulang dari rumah sakit, lewat 2 bulan yang lalu. Sejak Selasa, 11 Juli 2006 tepatnya. Hari kemerdekaan saya. Mungkin banyak orang tidak mengira saya bisa pulih dan berjalan lagi seperti biasa, sehingga sampai saat ini masih satu-dua kejadian serupa. Terakhir, ada satu Ibu yang mengamati saya telak-telak, tapi tanpa berkata sepatah pun. Jalan melintas di depan saya. Agak bingung juga harus merespon bagaimana, karena banyak orang datang membesuk, saya dalam keadaan belum sadar. Tidak semua tetangga atau teman orangtua saya hafal wajahnya. Mau menegur duluan, takut salah. Sekedar senyum adalah cara paling aman sejauh ini. emoticon Si Ibu rupanya lalu bergegas, masuk ke dalam rumahnya. Kemudian menelpon ke rumah orangtua saya meminta kepastian, “Itu bener ya Deasy yang jalan, pake kaos hijau, sama suaminya? Bener gitu? Wah, tadi takut salah liat…”

Kali lain, seorang Ibu lain tengah asyik menggendong cucunya di beranda. Melihat saya dan suami, beliau pun bergegas ke pagar menghampiri, “Udah sembuh, Nak? Alhamdulillah, ya… syukurlah, blablabla…” sambil sesekali menyentuh lengan saya.

Satu Ibu lain lagi. Bersebelahan rumah persis dengan Ibu yang menimang cucu. Dia tengah mengantar suaminya yang akan pergi bekerja. Melihat saya, spontan beliau menegur, “Lho, ini anaknya Bu Anu kan? Yang kemarin di ICU kan? Waaaah, Pa… Papa… ini lho. Deasy yang kemarin sakit..” Sang suami yang tadi hampir melaju pun berhenti dua jenak untuk mengamati saya, sebelum tancap gas kembali. Brrrrrrmmmm!!

Seminggu Kemarin

Beberapa hari kemarin merupakan masa orientasi saya dengan pekerjaan dan segala tuntutan aktivitasnya. Saya ternyata memang harus belajar mendengarkan kondisi tubuh secara seksama, agar mampu bekerja optimal tanpa jatuh sakit lagi. Mendapati kenyataan bahwa batere saya cepat soak, bukan hal yang menyenangkan. Tapi sejauh ini saya sudah bisa menerima. Ujian saya belum apa-apa kalau dibandingkan orang lain yang lebih menderita hidupnya. Sangat bersyukuuuuuur sekali saya masih bisa ‘kembali hidup’. emoticon

Sepanjang minggu kemarin saya mencoba untuk datang lebih pagi dan pulang sedikit lebih cepat untuk menghindari macet, yang mudah membuat lelah. Apalagi sekarang di jalur menuju kantor dipenuhi dengan pembangunan sarana busway. Pemuda, Pramuka, Kampung Melayu, Matraman, Salemba, Senen, Manggarai, semua terkena imbas berantakan dan macet karena satu jalur khusus tersita untuk bus TransJakarta kelak. Fuuuih! Mudah-mudahan saja cepat selesai dan tidak membuat Jakarta makin semrawut.

saya belajar untuk bisa

Kembali lagi, sekarang saya ternyata memang jauh lebih cepat lelah. Pekerjaan saya cukup menyenangkan,  selalu saja ada tantangan baru. Terlebih menghadapi kebutuhan klien yang makin kompleks dan variatif. Banyak hal baru yang harus saya pelajari dengan cepat. Di sela-sela bekerja, sesekali saya merasa agak lelah, pusing, terasa tekanan darah mendadak drop, seperti berhari-hari tidak tidur. Melayang atau kleyengan. Tidak selalu memang. Saya juga tidak ingin terus begitu. Entah kenapa, saya punya keyakinan kuat bahwa bagaimanapun, ini semua masih periode pemulihan. Suatu saat saya akan lebih kuat dan sehat lagi. Masih banyak yang ingin saya lakukan, karena rasanya masih minim tabungan saya untuk ke akhirat.

Suami baik hati pernah mengingatkan, saya harus berterima kasih kepada semua orang yang telah menemani, mendoakan dan mendorong kesembuhan saya, dengan berusaha hidup lebih baik. Istirahat cukup, makanan sehat, banyak minum air putih, olahraga teratur, hindari stress dan segala ini itu petuah standar lain, yang saat ini rasanya memang mutlak harus saya lakukan, demi rasa syukur atas kesempatan hidup kedua.

Teringat beberapa hari setelah saya berkantor kembali, seorang sahabat bercerita tentang percakapannya (dan 2 orang sahabat lain) di ruang dokter. Saat itu saya dalam keadaan tidak sadar dan kondisi sangat buruk. Dokter yang memimpin tim menerangkan bahwa beberapa fungsi organ vital semakin menurun. Infeksi sudah menjalar ke paru, hati dan ginjal. Terucaplah kata-kata beliau seperti lazimnya dalam sinetron; “Kami sudah berusaha maksimal, kami semua berjuang sekuat mungkin untuk Deasy. Tapi kondisinya semakin buruk. Biasanya ini tidak akan (bertahan) lama. Hitungannya hanya beberapa hari saja. Tolong anda semua sampaikan kepada pihak keluarga, agar lebih siap.”

Trus, gimana Mbak?” saya ingin tahu kelanjutannya.

Yah, kita semua blank, sih. Emang enak disuruh ngasitau kabar kayak gitu ke keluargamu? Huuu…”

Trus?”

“Begitu keluar, orangtuamu langsung nanya.”

“Mbak jelasin detil gitu?”

Enggak.”

Lho?”

“Tanpa sadar, kita bertiga sama-sama kompak, cuma bilang: ‘Enggak, nggak papa kok… Insya Allah akan ada jalannya. Kita semua terus berdoa saja, ya…’ Gitu doang, cobaaaa… habis gimana lagi?”

emoticon 

Dan kemarin harapan itu, doa banyak orang, ternyata dikabulkanNya. Alhamdulillah. emoticon Sekarang giliran saya untuk terus berjuang, hidup lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Makin mirip sinetron, kan?

September 7, 2006

Pagi Bersama Suami

Filed under: CurHat

Pagi tadi suami baik hati mampir sebentar ke kantor, saat mengantarkan saya. Minum kopi sebentar, mengusir kantuk yang tiba-tiba menyerang akibat lembur seminggu penuh. Saat saya kembali dari luar ruang, ia tengah duduk di kursi semi sofa yang baru. Agak sedikit tinggi untuk ukuran saya. Saya menghampirinya sambil berucap, "Ih, kakiku gantung di kursi itu…"

Suami baik hati tersenyum-senyum melihat saya datang. Duduk di sampingnya, saya mengulang kembali kalimat sebelumnya sambil langsung memperagakan, "Nih, kan… kakiku gantung, Mas.."

Tawanya langsung meledak. Saya masih kebingungan, "Kenapa emang, Mas?"

"Yang aku denger tadi, ‘ih, lakiku ganteng’…"

emoticon 

September 6, 2006

Pho Bo

Filed under: Cemal-Cemil

“Ntar kalo sembuh pengen makan apa, Des?”

Pho Hoa, dong…”

www.recipelink.com/ch/2000/october/joysoups3.html 

Benar, sejak masih menghuni ICU yang terbayang oleh saya adalah mie beras dan irisan tipis daging, dengan kuah kaldu bening yang panas mengepul. Rasanya saat itu benar-benar too good to be true untuk skala pasien rumah sakit. :P Hhm… pelengkapnya ada daun ketumbar, lettuce, tauge, irisan cabe rawit dan jeruk nipis. Ada juga yang menambahkan daun mint dan irisan tipis daun bawang. Pho Bo, nama resminya sajian itu. Pho Hoa, dulu nama salah satu resto Vietnam yang cukup tenar di Jakarta. Pasti banyak yang sudah kenal, kan? Ah, jadi ingat kopinya juga deh… lalu lumpianya, lalu.. lalu..

Sewaktu hamil, hampir setiap usai cek rutin bulanan dari dokter kandungan, saya dan suami menyempatkan makan siang dengan menu Pho Bo. Senang sekali rasanya waktu itu, merasa sangat sehat dengan kehamilan saya. Menengok si bayi lewat layar USG dan menyeruput bersama kenikmatan Pho Bo adalah kombinasi kebahagiaan yang sempat kami alami selama beberapa kali kemarin, setiap Sabtu pertama di awal bulan.

Nah, baru saja kemarin siang saat di kantor saya diajak untuk ber-Pho Bo-ria oleh IbuBaikHati. Walau sudah ada camilan pagi risoles, kroket dan pastel bersambal kacang, serta chinese food yang sebentar lagi akan datang, saya tidak kuasa untuk menolak tawaran tersebut. Lagipula, kata beliau itu pelunasan janji yang pernah terucap di ruang ICU sebenarnya :) Jadilah kami lunch di Vietopia kemarin. Alhamdulillah…

Seingat saya baru di empat tempat saya mencoba Pho Bo. Vietnamese Soup di jalan Barito adalah ‘penjelmaan’ dari Pho Hoa yang sekarang sudah tidak ada lagi. Suasana bisa dibilang seadanya, menu pun banyak berkurang. Kalau dulu sempat ada beberapa pilihan dengan variasi topping dagingnya, sekarang hanya tinggal satu jenis. Rasanya masih cukup nikmat, penyertanya pun disajikan lengkap. Soal harga, ini memang yang termurah di antara semuanya. Vietopia di Cikini Raya (atau Senopati) punya tata ruang yang lebih modern, minimalis dan nyaman. Tapi soal Pho Bo, menurut saya tidak terlalu istimewa dibandingkan harganya. Dalam salah satu kesempatan, irisan dagingnya bahkan masih agak susah dikunyah. Yang memiliki kekhasan pada sajian dagingnya adalah Nam Kee di Automall SCBD, lebih gurih dan sedikit renyah. Sepertinya dipanggang terlebih dulu. Harga hampir sama dengan Vietopia, servis lebih oke. Untuk kuah paling top.. saya memilih Pho Bo dari Do An di Mal Artha Gading (atau Bulevar Kelapa Gading). Racikan bumbu dan rempahnya terasa lebih segar dari yang lain. Dagingnya pun empuk. (Hhm… suami saya juga setuju ternyata! :) ) Seru juga, pagi-pagi membayangkan Pho Bo. Bukan dari sisi pandang ahli kuliner, semata-mata hanya dari apa yang dirasa dan dihayati oleh saya, si penyeruput kuah. Euleuh… lapar euy!

September 2, 2006

Manusia Bisa Apa?

Tidak bisa tidak, saya masih teringat Inong. Menjenguk teman lama dalam keadaan seperti itu sungguh benar-benar tidak enak. Bagian dari kehidupan, memang. Betapa manusia tidak berdaya, layaknya seperti bandul pendulum yang berayun pada seutas tali bernama nasib. Dan nasib pun sepenuhnya dikendalikan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Benar-benar SEPENUHNYA, hak prerogatif yang tidak bisa ditawar.

kita bukan apa-apa 

Kemarin, jenazahnya baru tiba di rumah menjelang Maghrib. Begitu banyak kerabat dan sahabat yang datang, bersimpati, ikut berduka dan mendoakan kepulangan Inong. Saya hanya mengamati semua dari luar pintu. Selain karena sesak dengan banyaknya orang yang ingin melihat Inong untuk terakhir kali, bagi saya sudah cukup teriris-iris rasanya melihat pandangan polos Syifa yang kebingungan di gendongan Ayahnya. Zidan pun tertegun menatap Bundanya dari pinggir peti. (Semoga Allah menguatkan mereka…)

Di tengah suasana duka saya teringat, seorang teman baru saja bercerita. Beberapa waktu yang lalu (sebagai moderator) Inong memintanya untuk mengabarkan kondisi saya yang kritis, di milis SD kami. Inong ingin dibuatkan draft terlebih dulu agar tidak ada kekeliruan penafsiran. Memberitakan kondisi yang menurut dokter ‘butuh keajaiban untuk bisa bangun’, memang bukan hal mudah. Ternyata, itu yang terasa kemarin. Lebih-lebih untuk kabar selanjutnya, dimana takdir terasa seperti tamparan keras.

Inong, saya harus memberitahukan teman-teman bahwa milis SD kita sudah ditinggalkan oleh Ibu RT-nya… Selama-lamanya.” :(






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker