Counting down… tinggal 7 hari lagi, September datang. Alhamdulillah.
Kantor tempat saya bekerja baru mengizinkan saya masuk kembali pada bulan September, hampir 2 bulan setelah keluar dari rumah sakit. Sebenarnya saya sudah tidak sabar ingin segera masuk, sih… Ingin mulai beraktivitas seperti dulu, bertemu klien, menulis laporan, membuat proposal, terlibat dalam proses asesmen, perjalanan ke luar kota, dll. Tapi para senior di kantor menyatakan dengan tegas, “Istirahat aja dulu, biar pulihnya total. Tenang aja, ntar juga akan datang waktunya elo akan dibantai abis sama kerjaan…” Hehehe… I really miss that day. Kok bisa, ya?
Eiits… jangan salah. Tentu saja termasuk juga di dalamnya ‘keindahan ngantor’ yang lain seperti update berita terakhir (mirip-mirip dengan bergosip, tapi konon kabarnya sih untuk tujuan mulia…), saling nyela dengan tega, dan tak ketinggalan: aneka hidangan khas seputaran Cikini. Tentang hal terakhir ini, saya benar-benar kangen dengan singkong goreng yang merekah di pagi hari, jus si Jon, mie ayam, soto Adul, nasi uduk dan siomay Tan Ek Tjoan, bakso Didong, siomay stasiun, gudeg dan cincau ijo pasar Cikini, asinan betawi dengan kerupuk kuning norak, sate Ponorogo, bubur kacang ijo, kembang tahu, rujak iris, blablabla… Belum lagi kalau ditambah dengan penganan yang dibawa dari rumah, oleh ibu-ibu yang rajin nan baik hati. Salad buah, macaroni schotel, brownies, pempek, cheese stick, keripik kentang, almond cookies, oleh-oleh dari sini dan situ, waah… selamat gagal para dieters!
Nikmat luar biasa? Mungkin relatif. Sepertinya rasa cihuy itu datang dari ritual sharing yang secara tak tertulis berlaku. Semangkuk mie ayam, bisa dibagi bertiga. Setumpuk kerupuk mie dan sambal kacangnya, jadi camilan sore hari untuk siapapun yang berada di ruangan. Benar-benar finger lickin’ good! Icip-icip bersama yang dimulai sejak menginjak lantai 3 hingga sore menjelang, memungkinkan saya untuk mencecap berbagai rasa, di sela-sela pengerjaan tugas, obrolan dan hahahihi. Bisa jadi ini sangat membantu untuk meringankan beban syaraf, sehingga lebih rileks. Kesulitan dan ketegangan bukan tidak ada. Tantangan tugas, adaaa saja. Siapa takut? Hajar bleh…
Serius, deh. Saat ini saya benar-benar kangen kantor di Cikini Raya 18P itu. Satu lagi nikmat dariNya buat saya: sahabat-sahabat, para senior dan lingkungan kerja yang sangat menyenangkan. Seperti keluarga besar buat saya, dengan pembelajaran dan pengembangan diri yang dinamis. Peran mereka sangat signifikan dalam membantu perjuangan saya dan keluarga, saat berjibaku lebih dari sebulan, di rumah sakit. Mereka ada di saat perasaan 1001: cemas, lega, marah, sedih, jenuh, berharap, pesimis, kecewa, dan seterusnya.
Teringat suatu pagi di ICU, perawat menawarkan untuk membuatkan saya teh hangat. Di tangannya ada 2 jenis chamomile tea. Waktu itu saya belum bisa bicara, iritasi akibat selang besar yang cukup lama menghuni saluran nafas. Tapi ia melihat wajah saya yang penuh tanya dan menjelaskan, “Ini dibawain sama keluarga Ibu. Katanya, Ibu suka sekali minum teh ini. Saya buatkan, ya?” Saya mengangguk antusias. Menit berikutnya saya menyeruput teh dengan nikmat. Boleh dibilang sangat nikmat untuk ukuran ICU. Terlebih lagi, sudah lewat dari belasan hari saya berpuasa. Belakangan, saya baru tahu. Sahabat-sahabat di kantor rupanya yang membawakan chamomile tea. Mereka tahu, apa yang saya suka dan butuhkan. Membentuk kesadaran kuat, mereka memang keluarga buat saya… thanks for everything, guys!
Bersyukur dan mencoba memanfaatkan waktu istirahat yang tersisa dengan baik. Itu yang saya upayakan sekarang, sebelum minggu depan mulai bekerja kembali. Tidak lama. Seperti film Hollywood, ihik ihik…. theme song penutup pun berkumandang di telinga saya:
If we try we can fly to a whole ‘nother place in the sun
All we need is precious dream and a friend we can trust
We can go anywhere we want, any road that we decide to take
And we never, never, never too far from tomorrow today