karena pengen nulis…

August 31, 2006

si Inong tea

Pagi tadi dibuka dengan breaking news yang tak sedap dari Mbak Hany: Inong masuk rumah sakit dan sampai sekarang masih koma. Hhm.. benar-benar tidak asik. Saya memang tidak dekat dengan Inong, tapi dia bukan orang baru buat saya. Dari orbit kami masing-masing, kami saling tahu dan masih saling kenal. Tidak jauh. Apalagi, Inong punya dapur yang tenar itu. :P

Keluarga Inong adalah salah satu keluarga yang dikunjungi dan diakrabi keluarga saya, saat pertama kali datang dan kemudian mukim di Balikpapan. Bagaimanapun, nasib kami hampir sama: Ayah mengaku orang Aceh dan Ibu konon kabarnya wanita Sunda. Kami beberapa kali bermain bersama. ‘Kak Des’, begitu Inong dulu memanggil saya meski usia kami hanya berjarak 4 bulan. Selanjutnya kami memang lebih ’sibuk’ dengan teman masing-masing, di kelas yang berbeda. Seingat saya, ia dekat dengan Izha dan Mona. Rasanya masih sampai saat ini. Belakangan saya tahu, Izha ternyata sudah berteman dengan suami saya, sebelum kami saling kenal. Akan halnya Mona, dia masih terhitung berstatus tetangga dengan saya. Ketika Inong menikah, cukup surprised juga mengetahui calon suaminya adalah Haris, yang secara selintas pernah dikenalkan oleh sahabat saya. Terakhir, ternyata Inong cukup dekat dengan Mbakyu saya, sebagai sesama penduduk negeri pulau. Tidak jauh-jauh. Lingkaran pertemanan semakin bertambah, sekaligus juga melibatkan orang-orang yang sama dan saling kenal.

Saat ini, ketika Inong masih terbaring koma, mudah-mudahan doa dan dukungan teman bisa ikut menjadi pembuka pintu rahmatNya. Saya tahu, teman Inong buannyaaak sekali. Dokter boleh pesimis (update terakhir dari Haris), tapi Allah lebih tahu yang terbaik. Saya hanya bisa ikut berdoa. Bangun ya, Nong… Anna Siti Herdiyanti yang saya kenal pasti tidak menyerah begitu saja. :)

Curi-curi…

Akhirnya, saya mencuri juga. Sudah direncanakan sejak beberapa hari sebelumnya, baru sempat kemarin terlaksana. Untung bukan pertandingan, sehingga saya tidak didiskualifikasi. Ya, saya mencuri start. Masuk kantor sebelum ‘aba-aba’ resmi dari Bos. Cuma bertandang, sarapan dan makan siang. Bubur ayam dan gudeg lengkap (gudeg, opor ayam, sambal krecek, buntil, aneka bacem dan kerupuk). Membuka laptop sebentar. Melihat laporan dua bentar. Selebihnya adalah hahahihi dan obrolan ringan.

Walaupun di rumah tidak merasa sakit lagi, kemarin pagi tas saya dibawakan. Salah satu Bos (dan sahabat) saya yang baik hati spontan melengkapi persediaan ransum kantor dengan susu bubuk dan Milo (berasa di rumah Emak, nggak seeh:D ). Kemampuan saya untuk menaiki anak tangga pun sempat diragukan. Hampir semua orang masih sangat khawatir melihat langkah saya. Kekhawatiran yang datang dari kengerian melihat kondisi saya kemarin, melekat kuat rupanya. Memang begitu adanya. Saya ternyata tidak bisa (atau tidak boleh) begitu saja langsung melakukan apa yang saya pikir saya bisa. Ada pemikiran dan masukan lain yang harus saya pertimbangkan. Semua bertujuan baik.

sing sabar...

Bisa jadi saya perlu waktu (lebih dari yang saya bayangkan) untuk kembali benar-benar pulih. Dan orang-orang di sekitar saya pun perlu waktu untuk benar-benar menyaksikan proses kesembuhan, sebelum sampai pada keyakinan bahwa saya sudah bisa diandalkan untuk bekerja penuh. Lagi-lagi si SABAR yang dibutuhkan. Sesuatu yang saya tidak punya banyak, sebenarnya. Allah Maha Tahu, Dia menempa dan menggempur saya dengan beragam pengalaman agar mampu lebih sabar. Alhamdulillah… :)

August 28, 2006

Psychedelic Experience

From Wikipedia:
A ‘psychedelic’ experience is characterized by the perception of aspects of one’s mind previously unknown, or by the creative exuberance of the mind liberated from its ordinary fetters. Psychedelic states are one of the stations on the spectrum of experiences elicited by psychedelic substances. On that same spectrum will be found hallucinations, distortions of perception, synesthesia, altered states of awareness, mystical states, and occasionally states resembling psychosis. The word psychedelic means literally: Mind Manifesting.

The Multidisciplinary Association for Psychedelic Studies or MAPS defines levels of psychedelic experience:

  • Level 1: This level produces a mild "high" effect, with some visual enhancement (e.g. brighter colors). Left/right brain communication changes causing music to sound "wider," or more piercing to the ears.
  • Level 2: Bright colors; visuals (e.g. things may move or breathe); some two-dimensional patterns become apparent upon shutting eyes. Confused, cyclic or reminiscent thoughts. Change in short term memory leads to continual distractive thought patterns. Vast increase in creativity becomes apparent as the natural brain filter is bypassed.
  • Level 3: Very obvious visuals, everything looking curved and/or warped, patterns, kaleidoscopes or fractal images seen on walls, landscapes, faces, etc. Closed eye hallucinations become three-dimensional. There is some confusing of the senses (e.g. seeing sounds as colors). Time distortions and "moments of eternity". Movement at times becomes extremely difficult (too much effort required).
  • Level 4: Strong visual effects, e.g. objects morphing into other objects. Dissolving or multiple splitting of the ego (e.g. things start talking, or feeling of contradictory things simultaneously). The loss of sense of self can bring a shift in the sense of reality, often accompanied by a sense of ineffable lucidity. Time becomes meaningless. Out-of-body experiences and ESP-type perceptions and abilities.
  • Level 5: Total loss of visual connection with reality. The senses cease to function in the normal way. Total loss of ego. Merging with space, other objects or the universe. Reaching to the beginning or the end of space and time. The loss of reality becomes so extreme that it defies explanation. Dream or movie like states, people have been reported seeing themselves in entirely different settings than their original setting. Earlier levels are relatively easy to describe in terms of measurable changes in perception and thought patterns. The only thing still reported to be working at a recognizable level, is the mind’s voice of thought. Much is unknown about what a person actually experiences during this period, because most people actually come back explaining the experience as "unexplainable".

(Hhmm… saya level berapa, ya?)

Hari-hari Absurd

Kelegaan yang dirasakan keluarga dan kerabat saat melihat saya terbangun dari tidur panjang, ternyata tidak sepenuhnya mutlak dan bertahan lama. Menurut mereka, ada perasaan aneh saat melihat pandangan saya kosong dan respon yang diberikan pun tidak adekwat. Suami saya sempat beberapa kali menjadi korban lemparan guling dan bantal. Ketakutan terbesar keluarga adalah, bahwa kesadaran dan ingatan saya terganggu. Saya terus marah-marah. Bisa dipahami bahwa sulit sekali untuk mencerna dan mengerti kondisi saya saat itu. Diingat-ingat, saya sendiri juga tidak sepenuhnya mengerti kenapa bisa begitu. Sasaran paling empuk untuk disalahkan adalah penggunaan obat-obatan untuk ‘menidurkan’ saya di saat kritis.

Tapi yang menarik adalah apa yang terlihat dari sisi saya. Hhm… belum pernah terbayang sebelumnya bahwa saya bisa berada dalam kondisi demikian. Dengan naïf saya selalu berpikir hal tersebut hanya ada di buku-buku kuliah atau setidaknya dialami oleh orang lain, bukan saya. Emosi saya begitu fluktuatif, banyak halusinasi dan ingatan pun kacau.

Ada video klip retro semodel Groove is in the Heart-nya Dee-Lite setiap kali saya mencoba memejamkan mata. Lengkap dengan neon bermotif psychedelic yang (menurut saya) sangat memusingkan. Ih, saya kan paling sebel lagu beginian… Ini salah satu yang membuat saya sangat gelisah dan susah tidur. :( Lain soal mungkin kalau setidaknya yang muncul Mas Bono n the gang atau si Abang Sting, begitu.

www.psychedelix.com 

Selain itu ada juga bayangan yang sangat kuat, bahwa saya sakit keras, sudah berbulan-bulan tidak sembuh, sehingga keluarga membawa saya untuk berobat ke berbagai penjuru dunia. Hwaah… bombastis juga ya? Tapi sungguh, anggapan itulah yang kuat melekat di kepala. Suatu kali saya merasa ada di rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan, kali lain saya merasa ditempatkan di suatu klinik perawatan di kawasan peternakan di pelosok suatu negeri yang bukan Indonesia. Percaya, nggak… saya bahkan sempat mendengar auman singa dan mencium bau hutan yang basah oleh hujan!! Weleh…

Pantas, saya selalu kebingungan dan bertanya hal yang sama, “Ini dimana, sih?”. Suami saya sampai kelelahan menanggapi. Yang ditakutkannya juga adalah, kalau-kalau saya lupa bahwa pernah menikah dengannya. Suatu kali, setelah keluar dari ICU ia pernah membawa rekaman pernikahan kami, untuk ditonton kembali dan mengingatkan saya. Tidak sempat diputar memang, mungkin saat itu dia sudah yakin bahwa saya sudah lebih ‘ngeh’.

Satu halusinasi dahsyat yang paling saya ingat adalah tentang salah seorang dokter yang mampir ke ruang ICU. Begitu ia masuk dan berinteraksi dengan pasien lain, kuat dalam bayangan saya bahwa ia adalah orang yang kejam dan kerap melakukan kekerasan terhadap keluarganya. Saya begitu benci dan marah melihat dia. Dokter lain yang kebetulan menghampiri saya sampai heran melihat ekspresi wajah saya dan menyodorkan kertas (waktu itu saya belum bisa bicara). Saya tidak berhasil menuliskan apa yang saya pikir dan rasakan, karena begitu marah. Mungkin saya bisa menampar dokter tersebut kalau saat itu dia mendekat. Hiiii…. bisa begitu, ya? Nggak lagi-lagi, deh. :P

August 27, 2006

Anakku 2

Filed under: Bocah

Nak,

Ibumu kangen lagi… :(

August 25, 2006

Menjelang September

Counting down… tinggal 7 hari lagi, September datang. Alhamdulillah. :)

Kantor tempat saya bekerja baru mengizinkan saya masuk kembali pada bulan September, hampir 2 bulan setelah keluar dari rumah sakit. Sebenarnya saya sudah tidak sabar ingin segera masuk, sih… Ingin mulai beraktivitas seperti dulu, bertemu klien, menulis laporan, membuat proposal, terlibat dalam proses asesmen, perjalanan ke luar kota, dll. Tapi para senior di kantor menyatakan dengan tegas, “Istirahat aja dulu, biar pulihnya total. Tenang aja, ntar juga akan datang waktunya elo akan dibantai abis sama kerjaan…” Hehehe… I really miss that day. Kok bisa, ya?

Eiits… jangan salah. Tentu saja termasuk juga di dalamnya ‘keindahan ngantor’ yang lain seperti update berita terakhir (mirip-mirip dengan bergosip, tapi konon kabarnya sih untuk tujuan mulia…), saling nyela dengan tega, dan tak ketinggalan: aneka hidangan khas seputaran Cikini. Tentang hal terakhir ini, saya benar-benar kangen dengan singkong goreng yang merekah di pagi hari, jus si Jon, mie ayam, soto Adul, nasi uduk dan siomay Tan Ek Tjoan, bakso Didong, siomay stasiun, gudeg dan cincau ijo pasar Cikini, asinan betawi dengan kerupuk kuning norak, sate Ponorogo, bubur kacang ijo, kembang tahu, rujak iris, blablabla… Belum lagi kalau ditambah dengan penganan yang dibawa dari rumah, oleh ibu-ibu yang rajin nan baik hati. Salad buah, macaroni schotel, brownies, pempek, cheese stick, keripik kentang, almond cookies, oleh-oleh dari sini dan situ, waah… selamat gagal para dieters! :P

Nikmat luar biasa? Mungkin relatif. Sepertinya rasa cihuy itu datang dari ritual sharing yang secara tak tertulis berlaku. Semangkuk mie ayam, bisa dibagi bertiga. Setumpuk kerupuk mie dan sambal kacangnya, jadi camilan sore hari untuk siapapun yang berada di ruangan. Benar-benar finger lickin’ good! Icip-icip bersama yang dimulai sejak menginjak lantai 3 hingga sore menjelang, memungkinkan saya untuk mencecap berbagai rasa, di sela-sela pengerjaan tugas, obrolan dan hahahihi. Bisa jadi ini sangat membantu untuk meringankan beban syaraf, sehingga lebih rileks. Kesulitan dan ketegangan bukan tidak ada. Tantangan tugas, adaaa saja. Siapa takut? Hajar bleh…

Serius, deh. Saat ini saya benar-benar kangen kantor di Cikini Raya 18P itu. Satu lagi nikmat dariNya buat saya: sahabat-sahabat, para senior dan lingkungan kerja yang sangat menyenangkan. Seperti keluarga besar buat saya, dengan pembelajaran dan pengembangan diri yang dinamis. Peran mereka sangat signifikan dalam membantu perjuangan saya dan keluarga, saat berjibaku lebih dari sebulan, di rumah sakit. Mereka ada di saat perasaan 1001: cemas, lega, marah, sedih, jenuh, berharap, pesimis, kecewa, dan seterusnya.

Teringat suatu pagi di ICU, perawat menawarkan untuk membuatkan saya teh hangat. Di tangannya ada 2 jenis chamomile tea. Waktu itu saya belum bisa bicara, iritasi akibat selang besar yang cukup lama menghuni saluran nafas. Tapi ia melihat wajah saya yang penuh tanya dan menjelaskan, “Ini dibawain sama keluarga Ibu. Katanya, Ibu suka sekali minum teh ini. Saya buatkan, ya?” Saya mengangguk antusias. Menit berikutnya saya menyeruput teh dengan nikmat. Boleh dibilang sangat nikmat untuk ukuran ICU. Terlebih lagi, sudah lewat dari belasan hari saya berpuasa. Belakangan, saya baru tahu. Sahabat-sahabat di kantor rupanya yang membawakan chamomile tea. Mereka tahu, apa yang saya suka dan butuhkan. Membentuk kesadaran kuat, mereka memang keluarga buat saya… thanks for everything, guys! :)

Bersyukur dan mencoba memanfaatkan waktu istirahat yang tersisa dengan baik. Itu yang saya upayakan sekarang, sebelum minggu depan mulai bekerja kembali. Tidak lama. Seperti film Hollywood, ihik ihik…. theme song penutup pun berkumandang di telinga saya:
If we try we can fly to a whole ‘nother place in the sun
All we need is precious dream and a friend we can trust
We can go anywhere we want, any road that we decide to take
And we never, never, never too far from tomorrow today

August 23, 2006

Bosan dan Alhamdulillah

Lebih dari sebulan terbaring di rumah sakit, yang namanya bosan sudah menjadi menu utama. Setiap orang yang datang menghibur dan menguatkan saya untuk sabar. Saya sendiri sepenuhnya menyadari bahwa saya bukan orang yang sabar. (Beruntung, Allah mengirimkan seorang suami yang sangat sabar menemani saya, termasuk meladeni kecerewetan saya yang hampir tiap jam selalu bertanya, "Mas, aku kapan bisa pulang?". Alhamdulillah, Allah Maha Tahu… :) )

Suatu pagi di ruang Intermediate Medical Care, saya merasa mati gaya. Jenuh luar biasa. Mandi sudah. Sarapan pun sudah. Dengan menu yang siklusnya sudah saya hafal, antara roti, sereal dan bubur. Mau duduk atau menegakkan sandaran harus minta bantuan perawat, itu pun harus berhati-hati karena begitu banyak kabel yang terpasang di tubuh saya. Saya bosan minta bantuan perawat sebenarnya. Saya bosan harus lemah terkapar, sementara teman-teman saya bisa aktif bekerja, bersosialisasi, apapun lah. Bersamaan dengan itu, buru-buru saya pun menguatkan diri. Jangan sampai rasa bosan menjadikan saya kurang ajar padaNya. Sudah diberi kesempatan kedua untuk hidup, kok malah terus menggerutu…

pemandangan sehari-hari

Saat mengamati garis keramik lantai lewat besi penahan di sisi tempat tidur, lewatlah kibasan kain pel. Seperti biasa, ‘si mbak beberes’ datang untuk membersihkan ruangan. Wajahnya polos, terkesan tanpa pretensi apapun. Ini menurut saya, sih. Langkahnya sedikit agak pincang, namun gerakannya cukup sigap saat melakukan pekerjaan rutin tersebut. Masih belia, mungkin di bawah 20 tahun. Untuk sesaat, rasanya ide bertukar tempat boleh juga. Daripada terus tidur hingga punggung ini nyeri, lebih baik pegal-pegal karena mengepel. Setidaknya bisa bebas berjalan, saya kira begitu. Mengamati langkahnya, spontan saya menyuarakan apa yang terlintas di pikiran saat itu, “Mbak, enak ya… sehat. Bisa jalan dengan bebas, tegak berdiri di atas dua kaki…” Ia menoleh, agak terkejut mendengar komentar saya.

Sambil tersenyum ia berucap, “Mbak… Insya Allah, nanti juga Mbak bisa sembuh. Saya juga dulu kayak Mbak. Baru saja 2 bulan yang lalu saya operasi usus buntu. Nggak ada biaya, ibu saya sampe nangis-nangis. Bapak saya kan udah meninggal. Dibawa pulang, trus dingaji-in orang serumah aja deh…”

“Oh, ya?” saya tidak menyangka dia menjawab demikian.

“Iya. Akhirnya ada sih, pinjaman uang buat operasi. Tapi sampe sekarang belum juga lunas. Ini saya masih harus kerja terus buat ngelunasin utang,” suaranya lirih saat ia melanjutkan, “Utang saya masih banyak, Mbak.”

“Oh, ya?” saya benar-benar tidak kreatif. Pikiran saya langsung memagari perasaan saya, jangan sampai kebablasan, kurang ajar dan mengingkari nikmatNya. Istighfar atuh, Ades! Kalimat-kalimat berikutnya tidak terlalu saya rekam detil, intinya ‘si mbak beberes’ menghibur dan mendoakan saya agar cepat pulih. Lengkap dengan senyuman. Sederhana, tapi ternyata sudah manjur untuk membuat perasaan bosan saya memudar dan tidak merasa sebagai salah satu orang termalang di dunia. Ia kembali menyelesaikan sisa bagian lantai yang belum dipel, dengan bersemangat.

Saya merasa sudah disentil. Dijewer. Saya paling takut kufur nikmat. Hiii…. apalah artinya jenuh. Saya ingat, karena (menjadi) bersemangat ingin segera sehat dan cepat pulang, saya pun mencoba memejamkan mata. Beristirahat. Insya Allah nanti sore, suami saya (yang baik hati) akan datang membesuk. Menemani makan malam. Orangtua, adik-adik dan mertua saya pun pasti datang. Waktu itu saya benar-benar bersyukur masih diizinkan hidup satu hari lagi. Alhamdulillah… untuk apa yang sudah ada.

August 22, 2006

Agustusan, nih!

Ada tayangan berita ringan dari salah satu stasiun TV swasta siang tadi, tentang perayaan 17 Agustus. Di sebuah desa di Kabupaten Jember (mudah-mudahan tidak salah kebet), diselenggarakan perlombaan tertawa. Dalam hitungan tertentu, mereka diminta untuk tertawa terus, hingga batas waktu yang ditetapkan dimana ia harus berhenti. Bila saat harus tertawa seseorang tidak bisa tertawa atau sebaliknya saat harus diam ia justru tertawa, panitia akan mendiskualifikasi. Begitu seterusnya, berulangkali. Pesertanya beragam, dari yang remaja hingga lansia. Tampak di layar TV seorang kakek tak bergigi yang begitu sumringah mengikuti lomba tersebut. Menurut Pak Lurah setempat, lomba tersebut sengaja diselenggarakan untuk menghibur dan mengurangi tekanan yang mungkin belakangan ini banyak dirasakan warga, dalam kehidupan sehari-hari.

Memang benar, bisa dikatakan penyelenggaraan lomba sukses. Hampir semua orang (tidak bisa tidak) ikut pula tertawa. Seorang nenek yang menjadi peserta tidak bisa menahan tawanya saat panitia memberi aba-aba untuk diam. Spontan, seluruh yang menyaksikan tidak bisa menahan untuk ikut tertawa. Sangat menular! Dan sangat menyenangkan melihat banyak orang tertawa demikian lepasnya. Untuk sejenak, syaraf-syaraf yang rileks membuat beban hidup bisa terlupakan. Menarik, lomba ini sangat menghibur dan tidak membutuhkan peralatan atau persiapan yang rumit. Bisa dinikmati oleh semua orang.

Akan halnya di lingkungan saya, tentu dong… ada perayaan dan aneka lomba juga. Antara lain, lomba makan kerupuk anak-anak yang standar, lomba mencari permen di dalam tepung, hingga gaple, panjat pinang untuk orang dewasa. Senang melihat banyak orang merasa senang, menikmati kegiatan yang dilakukan. Senang menyaksikan interaksi yang positif antar individu, semangat untuk bermain dan memeriahkan suasana. Andai saja lebih banyak hari seperti itu…

Suami Sempurna

Filed under: Suti

Suatu sore, sekonyong-konyong Suti bertanya pada saya, “Suami yang sempurna itu yang seperti apa, sih?” Wah, saya agak surprised. Serius juga dia bertanya rupanya. Sekilas saya lihat, TV yang ditontonnya tengah menayangkan gosip soal keretakan rumah tangga pasangan pedangdut tenar. Ooh… itu pemicunya ternyata.

Saya menjawab sungguh-sungguh, “Suami sempurna itu bisa beda-beda, sih. Buat aku gini, buat Suti mungkin beda lagi. Kan kebutuhan masing-masing orang nggak sama. Siapa tau menurut Suti suami yang sempurna itu yang banyak duwitnya, gitu loh…”

“Kalo itu mah aku tau, tiap orang beda-beda maunya. Tapi yang sempurna itu yang gimana sih?” tanyanya lagi.

“Maksudnya?” saya balik bertanya untuk memperjelas.

“Iyaa… sempurna itu artinya apa, sih?”

:D

Kenalkan, Suti…

Filed under: Suti

Nama lengkap: Sutani. Panggilan: Suti. Usia: 27 tahun. Sudah menikah dan memiliki seorang balita perempuan yang diasuh oleh suaminya di Cianjur.

Mulai bekerja April 2004, awalnya membantu orangtua saya. Kurang lebih sejak tahun lalu ia mulai membantu di rumah saya. Untuk urusan dapur, jangan ditanya. Dia sangat berdedikasi dalam menyiapkan hidangan. Konon ia pernah bekerja di sebuah warung makan. Memasak merupakan keterampilan yang dinikmati dan dibanggakannya. Atas dasar pertimbangan praktis, mengingat di rumah hanya ada saya dan suami yang sama-sama bekerja, tuntutan kami untuk kelengkapan hidangan sehari-hari tidak tinggi. Nasi dan soto ayam –misalnya, sudah cukup. Tapi tidak buat Suti. Menyiapkan soto ayam baginya harus lengkap dengan sambal, taburan bawang goreng, kerupuk atau emping, irisan telur, dll.Sejak Suti ada, di rumah selalu tersedia toples berisi bawang goreng, juga toples kerupuk. Kami pun alhamdulillah, hampir tidak pernah terlantar dalam hal makan. Ini sangat membantu, terutama saat saya hamil muda dan harus agak membatasi aktivitas naik-turun tangga.

Di luar dugaan saya, Sutani ternyata sangat lugu. Kepolosan dan spontanitas membuat komentar dan tindakannya kerap memancing senyum. Salah satu yang saya masih ingat adalah saat saya minta dibelikan ayam kampung untuk dibuat nasi tim. Sebelum keluar pintu rumah, ia berbalik badan dan bertanya: “Kalo ayam jantan itu ayam apa, ya?”

“Ayam laki-laki. Kalo yang perempuan ayam betina namanya,” saya jawab sekenanya.

"Tapi, kalo yang jantan itu ayam negeri atau ayam kampung sih?" Suti masih bingung rupanya. Baru 5 menit kemudian ia beranjak ke pasar, setelah blablabla saya ditanggapinya dengan manggut-manggut. Satu lagi pemahaman baru buat Suti hari ini. Alhamdulilah…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker