karena pengen nulis…

September 5, 2008

Menahan Lapar

Ramadhan adalah saat menahan lapar (dimungkinkan) menjadi kenikmatan luar biasa. Bahkan bisa jadi jauh lebih nikmat daripada kenyang, dengan gejala perut mengeras dan sulit beranjak bangkit dari kursi. Konsep sederhana tentang hukum paradoks, bagaimana dua hal yang berada pada kutub saling berlawanan ternyata justru bisa dirasakan kehadirannya sekaligus. Seperti orang yang mengalah, untuk suatu hal yang lebih baik: kemenangan.

Sewaktu kecil saya memiliki keyakinan pengetahuan bahwa puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan merasakan penderitaan kaum papa, saat merasa lapar. Dalam pelaksanaannya, haus dan perih menahan lapar akan segera tergantikan dengan kepuasan luar biasa setelah bisa menyelesaikan satu hari berpuasa. Saya bangga, cukup dengan pujian "hebat!", dari kedua orang tua. Cukup memompa semangat untuk terus mengikuti sahur dan kembali berpuasa keesokan harinya. Di samping itu, tidak dapat disangkal bahwa memang beragam hidangan yang ‘tidak biasa’, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mampu membuat semangat berpuasa tetap hidup. Menahan diri untuk sesuatu yang jauh lebih menyenangkan pada akhirnya, seperti menemukan guci penuh emas di ujung pelangi. Karena dengan gamblangnya saya mengasosiasikan berbuka dengan es kelapa muda, sop kacang merah berkuah panas atau macaroni schotel. Lalu, apa bedanya dengan mahluk dalam eksperimen Pavlov? Bentuk menahan lapar seperti ini tentu saja bisa terjadi di segala usia, termasuk kita yang (dianggap) sudah dewasa, telah berpuluh tahun menjalani Ramadhan. 

copyright Zed Nelson 

Bila kembali pada esensi puasa sebagai wujud empati kepada kaum dhuafa, sebenarnya kita bisa mencoba untuk lebih mendekati ‘berpuasa ala mereka’. Sahur secukupnya (bila ada yang bisa dimakan) dan berbuka secukupnya (lagi-lagi bila ada yang bisa dimakan). Sedapat mungkin tidak usah mencari yang tidak ada, karena toh bercermin pada mereka; terlalu sering dihadapkan pada ketiadaan (hal-hal yang menyenangkan). Mungkin kemenangan terletak pada saat seteguk air putih pun sudah bisa kita syukuri seperti halnya mereguk teh hijau dingin (ini saya, sih) atau thai iced tea (ini saya juga) di saat terik panas dan kehausan. Atau bisa mengunyah nasi putih dingin dan tahu goreng, sama lahapnya dengan menikmati menu hidangan lengkap sagala aya, ala resepsi pernikahan di Jakarta.

Memang, sesekali tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras kita, dalam batas kewajaran tentunya. Dalam hal ini kewajaran menjadi konsep yang memiliki parameter sangat personal, terpulang pada pengalaman masing-masing. Tak seorang pun bisa (atau berhak) menyamakan pengalaman pribadinya dengan yang lain, apalagi menyeragamkan. Di sinilah kesadaran menjalankan perintah agama menjadi sesuatu yang sangat unik, menggambarkan upaya masing-masing kita berproses untuk mendekati dan mengagungkan Sang Khalik. Sangat mesra.

Kembali ke belajar menahan lapar pada fakir miskin, intinya adalah menikmati dan mensyukuri apa yang ada. Terus berupaya keras, namun tidak berkeluh-kesah akan apa yang belum didapat. Bila puasa Ramadhan kita sudah diupayakan sedemikian rupa,  setiap kali kita ingin menikmati sesuatu yang agak ‘berlebihan’, mungkin bisa muncul semacam sistem peringatan dini yang menyadarkan agar selalu berempati (pada mereka yang tak berpunya). Menikmati dengan rasa penuh syukur, menghindari sikap congkak dan sedapat mungkin berbagi. Karena berempati juga adalah berbagi, mengingat semua mahluk sama di hadapanNya. Wallahu’alam bishawab.

Selamat menikmati Ramadhan, semuanya… semoga kualitas menahan lapar kita bisa lebih meningkat, menjadikan kita mahluk-mahluk yang beruntung di sisi Allah SWT. emoticon

October 23, 2007

Balada Suti

Kemarin usai maghrib, bunyi bel mengejutkan saya dari keasyikan browsing (ehm, browsing-nya sih tidak penting. toh hanya penyeimbang di antara tumpukan setrikaan dan piring kotor yang sudah memanggil-manggil minta dituntaskan segera). Di tengah harapan akan segera kembalinya Suti usai mudik Lebaran, suara di pintu pagar benar-benar terasa seperti oase buat saya. "Mbak, ini aku… Suti!"

Wah, SUTI DATANG! Bergegaslah saya membukakan pagar dengan riang gembira. "Lah, kok cepet banget baliknya? Katanya mau balik ke sini awal November?" yang ini sapaan butuh, namun tetap penuh rasa ingin tahu. Saya menatap mata Suti. Wah, itu dia… ada yang tidak beres pasti. Tidak sempat pakai firasat-firasat, kalimat-kalimat penuh duka pun mengalir dari mulutnya. Setengah menangis dia menceritakan semuanya. Bahkan, kalimat pertama sudah diucapkannya sebelum kami benar-benar masuk ke dalam rumah.

Ringkasannya adalah sebagai berikut; (1) Suti tidak jadi pulang berlebaran ke Cianjur, tempat anak dan suaminya. Ia memberanikan diri pulang ke Cirebon untuk mengobati rindu pada Ibunya, karena sudah lama tidak punya kesempatan bersua ataupun sekedar mengirimkan uang hasil keringatnya. (2) Anak dan suaminya tetap di Cianjur, karena suami menolak untuk ke Cirebon. Jadilah Suti berlebaran tanpa anak dan suami. (3) Keluarga pihak suami marah, karena Suti tidak pulang ke Cianjur. Mereka menuduh Suti tidak perhatian pada keluarganya sendiri. (4) Suti dan suami bertengkar lewat telpom. (5) Suti merasa sendiri, dalam menjalani hidup dan mencari nafkah. Selama ini memang lebih dari 70% gajinya selalu dikirimkan ke Cianjur. (6) Suti memutuskan menerima tawaran yang datang dari kerabatnya, untuk menjadi TKI di Yordania. (7) Suti mengundurkan diri sebagai pramuwisma di rumah saya.

Kening saya mau tak mau berkerut, demi mendengar paparan Suti. Terlebih karena awalnya saya mengira kembalinya Suti kali ini adalah kembali yang biasa, untuk melanjutkan membantu kami mengurus dan menjaga rumah. Ternyata, oh ternyata. Malang benar Suti, saya jatuh kasihan mendengar kisahnya. 

Dengan wajah yang masih penuh kebingungan, ia melanjutkan penjelasannya, "Malam ini juga aku mau pulang ke Cirebon. Karena nanti tanggal 3 harus berangkat, Mbak.." Semua serba mendadak. Segera ia bergegas mengemas barang-barangnya, menjadi 4 kardus besar. Dipanggilnya 2 tukang ojek, untuk menuju tempat kerabat yang menunggu. Ia pun buru-buru berpamitan, dengan meminta maaf pada saya dan suami.

Kehilangan Suti mendadak, tidak membuat saya membayangkan bagaimana repotnya tanpa ia. Yang otomatis terlintas di benak saya adalah bagaimana Suti pernah sangat berarti dan membantu hari-hari kami. Sewaktu kami akan menikah, saat saya harus sakit dan kehilangan bayi pertama kami, kemudian saya kembali belajar berjalan, dan seterusnya. Suti-lah yang menjaga rumah saat suami terus menunggui saya di rumah sakit. Suti pula yang mencucikan segala pakaian kotor saya, selama saya tidak berdaya.  

Pagi tadi, saya dan suami bersepakat untuk mencoba hari-hari tanpa pramuwisma. Kami harus bisa, dan memang harus dicoba. Toh, kami hanya tinggal berdua. Lagipula, saya sudah sepenuhnya sehat, Insya Allah. Tapi ingatan saya sepanjang hari tetap pada nasib Suti, yang sudah lama tidak dinafkahi namun harus menafkahi suami, anak dan keluarga suaminya. Tidak pernah bisa dekat dengan anaknya, karena tidak diperbolehkan oleh keluarga suaminya. Saya teringat bagaimana Suti pernah menangis, ketika suatu pagi buta anak yang tengah lelap tidur di dekapannya, direnggut dan dibawa begitu saja oleh kakak iparnya, untuk dibawa pulang ke Cianjur. "Kamu kerja aja, biar nih anak ikut saya!" demikian kalimat yang terngiang-ngiang di telinga Suti sambil termangu kosong di depan pintu ketika itu. Matanya berkaca, tapi ia seperti tak berdaya. Rupanya tokoh antagonis di sinetron memang nyata ada. Saya yang mangkel berat mendengarnya, karena saya yang selalu mendorong Suti untuk mengajak anaknya tinggal bersama dan tetap bekerja di rumah kami. Ah, Suti…  

"Beeeeeeeep!" saya terkejut mendengar bunyi ponsel sendiri. Kemudian ternganga mendengar cerita si penelpon, Teteh pemilik warung rokok di depan rumah. Baru saja ia diberitahu, bahwa Suti salah informasi. Menduga akan diberangkatkan tanggal 3, ternyata (kemungkinan) baru nanti bulan 3, alias tahun depan! Suti bingung tak menentu, tidak tahu akan ke mana selama menunggu bulan Maret 2008. Sebenarnya ia malu, namun mengatakan ingin kembali bekerja di rumah kami. Jadi, Suti minta Teteh menyampaikan keinginannya pada saya. "Boleh, nggak?" pintanya.

emoticon 

Waaaaaaah, ini baru ending yang Suti bangets! Karena membuat perasaan saya campur aduk… walaupun sejujurnya lebih didominasi oleh rasa bersyukur bahwa (setidaknya) kami belum akan kehilangan rawon, soto, nasi lengko dan lontong lezat buatan Suti. Hhhhm…

August 15, 2007

Sarapan Akhir Pekan

Akhirnya… hari Minggu kemarin sampai lagi saya di tempat itu. Pojok jalan buntu yang menempel dengan pasar antik dan loak. Setiap kembali ke Solo, suami baik hati selalu mengajak saya untuk sarapan di situ. Warung sederhana, tapi cukup sohor di kalangan pencintanya. Ada cerita bahwa seorang teman pernah mengalami kecelakaan dengan sepeda motor, dimana saat masih terkaget-kaget karena tertabrak dan terjatuh, antara sadar dan tidak ia mengaku lapar dan minta segera diantar ke Soto Triwindu ini. emoticon Konon Iggy Pop juga pernah nyarap di sini.

Kali kemarin, karena kecewa tidak kebagian tempe gorengnya yang besar dan garing itu, saya agak mutung. Rasa sih tetap enak, walaupun harus sabar menunggu antrian tempat duduk. Tapi maaf, soto tidak sempat diabadikan dengan kamera. Lain kali, tidak lupa mudah-mudahan.

warung soto triwindu 

August 3, 2007

Minggu Siang Banget!

Filed under: Sisi Lain, CurHat

Menjelang akhir pekan, tiba-tiba saja bayangan tentang akhir pekan memenuhi benak saya. Tepatnya tentang hari Minggu siang, dimana saya dan teman-teman yang sedang asyik bermain segera berlari, berebut tempat paling strategis di depan televisi. Mengikuti setiap detil tayangan dengan seksama, ikut larut dalam cerita, sambil sesekali membayangkan betapa bahagianya bisa berlarian, berguling-guling di padang rumput yang begitu luas. Betapa senangnya bisa menjumpai begitu banyak sungai, bukit-bukit kecil dan pohon-pohon rendah bercabang banyak, yang begitu menantang untuk dijelajahi dengan semangat 45. emoticon

Seorang rekan juga membayangkan hal yang sama, begitu melihat klip kilas balik tersebut. Dan ternyata, kami sama-sama merasakan nuansa yang sama, meski sudah berjarak lebih dari dua puluh tahun dengan hari-hari tersebut (fffuiiih!! sudah tua juga ya?). Segera setelah sajian akhir pekan ini berakhir, kami merasa bahwa kegembiraan akan habis, untuk sementara. Harus istirahat, tidur siang sebentar, untuk kemudian membuat PR saat petang nanti, dan besok bangun pagi-pagi karena harus bersekolah kembali. Huuuuuu…

July 11, 2007

11 Juli dalam Ingatan

Sebelum mengalami sendiri, sungguh saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya bila tiba-tiba segala sesuatu berhenti, hilang, atau kembali ke titik nol. Bahkan di saat kita sedang merasa sangat bahagia, tidak menduga sama sekali. Ya, tentu saja saya percaya akan hal itu. Akan kekuasaan Sang Pemilik Hidup. Tapi sungguh, saat sedang sehat-sehatnya menjalani kehamilan anak pertama di awal Juni 2006 lalu, tidak pernah selintas pun terbersit di benak saya bahwa akan ada hari-hari yang begitu hitam. Pekat. Bukan sekedar kelabu.

Hari itu sudah berjarak tepat satu tahun. 11 Juli 2006, hari Selasa, adalah hari kemerdekaan yang terasa luar biasa buat saya. Akhirnya, dokter mengizinkan saya untuk pulang dari rumah sakit, setelah semua kejadian dan mimpi buruk berlalu.

Masih jelas dalam ingatan, bagaimana berhari-hari sebelumnya saya selalu berharap dan berdoa, akan segera diizinkan pulang. Setiap larut malam adalah keinginan untuk segera datang esok hari, dimana hari baru akan dimulai dan peluang untuk pulang semakin besar. Empuknya kasur di rumah yang beralaskan seprei bersih dan wangi selalu membayangi benak. Saya benar-benar ingin kehidupan normal seperti dulu. Di rumah dengan suami, berbagi cerita dan menjalani hari-hari bersama. Tanpa infus, suntikan, kunjungan rutin dokter, resep ini itu, lalu lalang para perawat dan tatapan iba para pembesuk.

1 Juli 2006, 19:56 WIB 

Sekitar 3-4 hari sebelum pulang, saya mulai belajar untuk berdiri. Sedikit demi sedikit. Sebelumnya saya tidak bisa bangkit tanpa bantuan. Mengangkat tubuh sendiri adalah persoalan serius, karena duduk untuk satu menit saja saya langsung merasa pusing, seperti akan pingsan. Mampu berdiri di atas kaki sendiri seperti mimpi indah, too good to be true. Langkah pertama yang menjejak waktu itu mungkin hampir sama berartinya seperti pijakan perdana Neil Amstrong di bulan. Bombastis, kan?

Saat kepastian pulang didapat, mandi di pagi hari waktu itu saya lakoni dengan warna semangat seperti menyambut Lebaran atau lulus sidang skripsi. Yeeeah… pulang!!! Saya tidak peduli bahwa warna kerudung dan kemeja yang dikenakan sama sekali jauh dari matching. Hanya satu fokus di kepala: PULANG. Detik berikutnya, menunggu kursi roda datang terasa begitu lama.

Menit demi menit perjalanan keluar dari kamar, lift, menuju lobby di lantai bawah dan menunggu mobil datang, saya resapi dengan seksama. Semua memang masih terasa mengambang. Banyak orang lalu lalang, namun tidak terasa nyata ada di sekitar saya. Ketika akhirnya saya masuk dan duduk di dalam mobil, saya merasa tubuh saya sangat kecil. Mobil begitu terasa besar dan saat melaju saya bagai terombang-ambing di dalam kapal yang besar. Aneh sekali. Begitu pula saat tiba di rumah, saya merasa sangat mungil dan ringkih. Lamat-lamat saya pandangi tiap sudut ruang di rumah, seperti berada di dalamnya untuk pertama kali. Sensasi yang sama sekali belum pernah saya alami.

Pengalaman saya jelas tidak sekompleks Sarah Scantlin yang baru bisa bangun dari koma setelah 20 tahun. Tertabrak pengemudi mabuk di usia 18 tahun dan terbangun di dekade yang berbeda (sampai ia begitu yakin bahwa John Travolta jauh lebih tampan dibandingkan Tom Cruise). Terlebih bila dibandingkan dengan nasib tragis Elaine Esposito yang tidak pernah terbangun lagi sejak usia 6 tahun, setelah menjalani pembiusan pada operasi usus buntu. Elaine akhirnya meninggal 37 tahun kemudian, di usianya yang ke 43. Alhamdulillah, nasib saya masih jauh lebih baik. Atas izinNya, suami, keluarga dan sahabat-sahabat saya tidak harus menunggu selama dan seputus asa itu. Namun tetap sangat mendalam dan begitu berharga pelajaran yang saya peroleh. Hingga ke detik ini, dimana saya bisa sehat, sibuk bekerja kembali dan… nge-blog tentunya! :)

No Comment-nya Ifi

Filed under: Bocah

Suatu pagi:

Ifi, dari mana?

Hhhm… *ekspresi cuwek*

Udah mandi belum?

*geleng-geleng*

Mau ke mana, sih? 

Mmmmh! *kesel, tapi tetep sadar kamera*

"Bawa apaan itu?"

*sibuk ngunyah kelinci…*

nyam.. nyam.. enakan pas jadi sate!

April 27, 2007

Iko

Suatu hari di bulan Juli 2003, salah seorang adik saya berlari-lari ke dalam rumah dan kemudian segera bergegas keluar lagi setelah mengambil kamera. “Iko hebat banget! Keren abisss….”

Si Iko, ngapain lagi… baru kemarin berulah dan melempar-lempari setiap orang yang lewat, pikir saya. Keberadaan Iko di warung rokok itu memang menjadi atraksi tersendiri. Ada yang takut, namun lebih banyak yang gemas dan geli melihat ulahnya.

Setelah melihat hasil kerja paparazzi memburu Iko, saya benar-benar terkesima. Terkesan. Bukan pada kualitas bidikan. Tapi pada Iko. Si pelakon adegan. Hebat dia… entah dari mana dua mahluk mungil kucel itu datang, tapi (kelihatannya) dengan sepenuh hati Iko menjaga, menyayangi, dan bahkan menyusui mereka. Dan hal tersebut ternyata tidak hanya berlangsung satu-dua hari. Saya pikir Iko hanya bisa berisik dan mencari kutu. Saya telah meremehkan Iko selama ini.

kebaikan Iko 

Iko and the kitties

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya selalu senang membaca tulisan-tulisan Mbak Hany soal ASI. Bagi saya perjuangan seorang Ibu itu luar biasa indah, dan salah satunya adalah pada saat ia berusaha memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. Meski kesempatan itu belum datang, mudah-mudahan pada waktunya nanti saya tetap punya semangat dan energi untuk berjuang. Setidaknya, Iko sudah memberi contoh nyata. Iya, kan Ko? emoticon

April 24, 2007

?

Filed under: CurHat

aku hanyut

pusaran yang sama menyerap energiku

begitu bertenaga

menghempas

hingga kumerasa hilang

tersisa ampas ragaku

kerontang 

 

 

 

jangan tunggu jawaban akurat

karena aku tak menalar

jangan harap kalimat-kalimat indah

karena aku tak lagi merasa

 

ya, itu senyumku

masih kau lihat, bukan? 

cermatilah

lebih, lebih seksama

menyerupai senyumku, memang!

 

aku tak di situ 

semilir angin telah mengajakku

menemui semerbak musim bunga

yang hangatnya merangkulku erat 

membiarkan aku mencipta tarian gemulai penuh rasa

untuk para peri bergaun kemilau pelangi

yang menumbuhkan keberartianku 

 

di sana aku benar tersenyum… 

April 9, 2007

Senandung Suti

Filed under: Suti

 

Aah… sudah lama ya, tidak bercerita tentang Sutiemoticon Dia baik-baik saja, masih ceria, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan ajaib penuh rasa ingin tahu dan kepolosan. Lengkap dengan matanya yang berulangkali mengerjap saat mencoba untuk memahami penjelasan.

Libur akhir pekan kemarin, sempat saya mengintip koleksi kaset tarlingnya yang kerap diputar pada tengah hari bolong, sambil menyetrika dan bebenah rumah. Lantunan lagu pilihan Suti selalu berhasil membuat saya merasa seperti sedang menumpang bus (–atau malah truk, ya?) yang tengah melintas di jalur Pantura. emoticon Ini dia judul-judulnya…
  • Mabok Judi
  • Mabok Rangda
  • Mabok Jamur
  • Kebayang Bae
  • Bisa Dicoba
  • Isep-isep Tebu
  • Icip-icip Turi
  • Kelingan Maning
  • Brandal Tua
  • Pengen Dikawin
  • Kawin Kyai
  • Selingkuh Maning Selingkuh
  • Demen-demen Sepira
  • Aja Rewel
  • Pikir-pikir Dingin
  • Mencari Mangsa
  • Bli Jadi
Hhm… bagaimana? Perlu MP3-nya? emoticon

 

March 22, 2007

Saat Terakhir

Setelah hari-hari itu, kematian selalu terasa dekat bagi saya. Tidak asing, tidak menakutkan, tapi selalu menyentak. Sangat mungkin karena saya pribadi merasa belum cukup bekal untuk menghadapNya. Masih minim amal ibadah.

Kemarin, seorang tetangga berpulang ke Rahmatullah. Kebetulan saya dan almarhum menghuni ruang ICU di rumah sakit yang sama. Yang paling mengusik saya adalah cerita bahwa dalam kondisi yang kritis, keluarga tetap tidak diizinkan untuk masuk kecuali pada jam besuk. Semua akses masuk tertutup rapat. Hingga akhirnya keluarga baru mengetahui pasien sudah tiada, setelah beberapa waktu berlalu. Demikian ketatnya peraturan di ICU, di satu sisi saya yakin hal tersebut diterapkan atas dasar kepentingan pasien juga. Dalam kondisi yang kritis dan rentan terhadap infeksi, memang sebaiknya tidak sembarang orang diizinkan masuk. Namun saya juga sangat bisa memahami kekecewaan keluarga, yang tidak diizinkan untuk mendampingi saat-saat terakhir pasien. Bagaimanapun, mengantar orang tercinta menghadap Sang Pencipta adalah keinginan (dan hak, bolehkah saya menyebut demikian?) yang sangat pribadi dan mendasar. Ketika hal tersebut tidak dimungkinkan, sungguh tidak ada apapun di muka bumi yang bisa menggantikannya. Karena tidak pernah ada kesempatan kedua untuk hal tersebut. Tidak ada bilangan rupiah, dollar, atau uang emas sekalipun yang bisa menominalkan keberartian momen tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan keyakinan yang dianut masing-masing pribadi. Kebetulan saya (dan almarhum) adalah muslim, kami memandang begitu pentingnya menjelang maut dengan mengingat kuasaNya. Hanya mengingat Allah.

pintu itu 

Selesai berbelasungkawa kemarin, Ibu kembali mengingat saat-saat beliau menghadapi situasi yang serupa. Melihat kondisi yang kian kritis, salah seorang perawat membisikkan pada Ibu bahwa batas usia saya sudah sangat dekat. Hanya hitungan jam, mengingat fungsi hampir seluruh organ vital semakin menurun. Tersentak oleh kenyataan tersebut, Ibu pun meminta untuk diperbolehkan mendampingi saat-saat (yang diduga sebagai) akhir hidup saya, tidak hanya pada jam besuk. Seperti bisa ditebak, jawabannya adalah: TIDAK BOLEH. Ibu pun histeris dan menjerit, memohon dengan sangat. Semua dokter terdiam. Taat prosedur. Atau mungkin menutup pintu hati mereka. Atau mungkin juga menggembok, kemudian membuang kuncinya jauh-jauh. Hilang, bilang saja begitu biar mudah. Saya terpaksa berprasangka buruk dalam hal ini.

Di tengah kegalauan, dokter spesialis bedah yang mengoperasi saya mencoba menenangkan dan memberi izin khusus kepada Ibu. Beliau juga memberikan nomor ponsel pribadinya (terima kasih dr. Cosmas! :) ). Seperti cahaya di tengah pekatnya kegelapan, itu yang Ibu rasakan ketika akhirnya bisa menemani, membacakan ayat-ayat suci dan nama Allah di telinga saya yang tengah koma. Setidaknya beliau bisa lega di tengah kegamangan. Ada ruang yang memungkinkannya merasa pasrah dan ikhlas, menyandarkan penuh segalanya pada Ilahi. Apakah keinginan seperti itu masih dianggap berlebihan? Saya kok tetap merasa hati nurani tetap perlu hidup di tengah ketegasan menegakkan aturan dan prosedur. Sedikit, saja.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

b i s m i l l a h . . .
Daisypath PicDaisypath Ticker